Mari Menjadi Ibu yang Menabung Bahagia

RemajaIslamHebat.Com - Tak ada anak yang lahir karena ia meminta pada kita untuk dilahirkan. Justru kitalah yg memelas, merayu dan merajuk pada Allah agar ia hadir melengkapi status kita sebagai perempuan. Yaaah, menggenapkan label kita selaku istri sekaligus ibu.

Menjadi ibu bukan perkara mudah. Bukan karena kita hamil, melahirkan kemudian menyusui lantas predikat ibu kita sandang begitu saja.

Sebutan ibu mungkin sah-sah saja disematkan tatkala kita sudah melalui peran yang begitu memayahkan. Melahirkan buah hati yg sukses menghadirkan sensasi 20 tulang patah bersamaan. Perih tak terperi jendral. Sakitnya bikin merinding disco.

Namun, terlepas dari itu semua ada hal yang lebih substansial dibalik gelar ibu yang kita pikul.

Ada amanah maha besar yang akan kita emban. Ada titipan yang suatu saat tanpa kita duga Allah akan mengambilnya kembali tanpa permisi.

Allah tak menunggu izin kita tatkala ia merindu pada titipanNya. Pun Allah tak butuh persetujuan kita sedikitpun saat Ia ingin mendekap ciptaanNya.

Olehnya itu sudah sanggupkah kita menjadi role model untuk anak-anak kita? Sudah cukupkah bekal ilmu dalam membersamainya tumbuh dan berkembang?

Karena...

Akan tiba masa di mana engkau tak lagi bisa menggenggam mesra tangan mungilnya. Ia akan lebih nyaman bersama dgn teman sebayanya.

Akan tiba masa engkau tak lagi bisa memeluknya di malam hari sebagai pengantar tidurnya. Ia akan lebih memilih menikmati dunianya sendiri di alam kamar.

Akan tiba saat ia tak lagi ingin dicium di hadapan beberapa pasang mata. Ia akan merasa kerdil tatkala diberi gelar ''anak mama''.

Yaaah, konotasi anak mama menandakan ia anak cengeng, manja, lembek, melempem dan cupu. Demikianlah stigma yang terbangun di masyarakat kita turun temurun.

Padahal bukankah kita membumbungkan kerinduan yang amat dalam, mendengarnya sekali lagi menyebut kata ''anak mama, anak ibu atau anak Umi''?

Masih terpahat dengan jelas dalam ingatan tatkala kita begitu sering mengulang-ulang pertanyaan saat ia kecil dahulu ''ini anak siapa?'' lalu dengan spontanitas dan girangnya ia akan menjawab ''anak mama, anak ibu atau anak ummi''. Tapi ketika ia semakin tumbuh dewasa mengapa kata itu seolah2 begitu anti ia dengar? Ia begitu alergi dengan sebutan anak mama.

Olehnya itu....

Marilah menjadi ibu yg tak hanya sekedar dipanggil ibu, tapi tanamkanlah nilai2 moral pada anak kita. Hunjamkanlah ke dalam dadanya pemahaman agama. Sulamlah benang2 aqidah yg akan menjadi perisai keluruhan budi dan keindahan akhlaknya kelak.

Tabunglah bahagiamu dengan menyematkan asa agar kelak kita menjadi ibu yang tak dihindari oleh anaknya dikala usia senja datang menyapa.

Tabunglah bahagiamu dengan membesarkan anak penuh keikhlasan dan suka cita. Agar di kemudian hari Insya Allah ia juga akan bersuka cita menemani dan membersamai kita menua dalam usia.

Semoga dihari tua nanti, kita menjadi ibu seberuntung gambar di bawah ini. Foto ini saya abadikan saat mendaki di jabal rahma. Perjalanan umroh yang menyisakan pelajaran mengabdi pada orang tua.

Selaksa haru tetiba menyerbu tanpa ampun. Kala itu, sambil menapaki tanjakan bebatuan tak terasa bulir-bulir air mata menghangat membasahi ceruk pipi. Semilir hawa sejuk melipir ke dalam sukma. Kupanjatkan do'a penuh harap sembari mengiba. Semoga anakku kelak semulia anak yg ada di hadapanku.

Kutuliskan ini dengan berurai air mata. Masih terekam dengan jelas ibu renta yang digendong anaknya mendaki jabal rahma. Saya persis ada di belakang ibu tsb.

Yang tak kalah mengharukan adalah tak sedikitpun guratan wajah kelelahan pada si anak. Hanya senyum yang selalu ia sunggingkan sembari mencari celah bebatuan jabal rahma yang akan ia pijak.

Silahkan bayangkan sendiri, menggendong di tanah yang lapang saja membutuhkan energi apalagi sambil mendaki gunung bebatuan? Belum lagi saat kembali turun dari jabal rahma.

Ahhh hujan lebat hatiku diterpa kenangan yang mengharu biru .
Insya Allah surga menanti kalian. Aamiin.

**Nurb@y@ Tanpa Siti

Penulis : Nur Baya

Post a Comment

0 Comments