Mahasiswa Pemanggul Peradaban

RemajaIslamHebat.Com - Mahasiswa sebagai elemen penting dalam tubuh umat sering digadang-gadang sebagai "agent of change" dan "social control".

Sebagai "agent of change" mahasiswa diharapkan menjadi ujung tombak perubahan negeri ke arah yang lebih baik.

Sedangkan sebagai "social control" ia diharapkan sebagai 'juru bicara' rakyat yang siap menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap rezim-rezim yang ada.

Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa sering menjadi sorotan dan tidak jarang tindakan 'curiga' yang berlebihan ditunjukkan oleh rezim dengan berlebihan.

Wajar memang, karena mahasiswa dalam siklus perjalanannya tidak lepas dari konteks 'perlawanan', aktif dalam melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah serta sering hadir di tengah-tengah rakyat dalam rangka membela kepentingan-kepentingan yang menyangkut hajat hidup rakyat.

Sejarah pun mencatat kontribusi mahasiswa di awal kemerdekaan begitu besar dalam mendesak 'golongan tua' untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI di Rengasdengklok.

Di era rezim orde lama, aroma kental komunisme menjadi momentum bagi mahasiswa untuk bergerak. Melalui Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dibentuk pada 26 Oktober 1966, kritik demi kritik terhadap rezim orde lama dijalankan hingga akhirnya mampu menumbangkan rezim Sukarno.

Sayangnya, pasca rezim orde lama berakhir, pergerakan itu mengalami disorientasi akibat tawaran politik praktis untuk menduduki kursi empuk di DPR/ MPR serta duduk dalam kabinet pemerintahan Orde Baru.

Pergerkakan mahasiswa kembali mencuat di masa rezim berikutnya, Orde Baru, dengan spirit melawan kediktatoran dan memberantas KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Di samping itu, intervensi asing yang begitu kental mempengaruhi arah kebijakan rezim yang mengatasnamakan 'pembangunan'.

Kegerahan mahasiswa menuai puncaknya di tahun 1998, akibat krisis moneter yang akhirnya memaksa rezim Suharto untuk mengundurkan diri.

Namun, pasca reformasi wajah pergerakan mahasiswa mengalami perubahan signifikan.

Meski rezim orde baru telah tumbang, masalah demi masalah yang terjadi di reformasi tidak jauh berbeda dengan rezim sebelumnya.

Bahkan, di era reformasi dengan kebijakan ekonomi neoliberal, Indonesia membuka kran investasi besar-besaran bagi Asing dan Aseng untuk menjarah kekayaan alam Indonesia.

Di bidang politik juga demikian, carut marutnya sistem hukum dan keadilan, korupsi yang berlapis-lapis di kalangan pejabat, hingga kriminalisasi terhadap Islam dan umatnya masih terlihat dengan begitu jelas.

Akhirnya kita kan bertanya-tanya di mana mahasiswa ketika rakyat berteriak menolak kenaikan BBM, pajak, Listrik dll?

Di mana mahasiswa di saat penguasa memuluskan kontrak karya Freeport yang notabennya adalah milik rakyat?

Di mana mahasiswa ketika Asing-Aseng bercokol di negeri ini?

Di mana? dan di mana?

Mungkin itu sekian banyak pertanyaan yang terus bermunculan di benak rakyat saat ini. Melihat 'kebisuan' mahasiswa yang kini tak berpihak lagi pada rakyatnya.

Apa yang membuat mereka 'diam', 'bungkam' dan 'nyaman' duduk di kursi-kursi perkuliahan mereka?

Padahal mereka adalah motor penggerak, serta kritikus handal yang senantiasa peka terhadap kondisi masyarakatnya.

Mereka adalah pemanggul peradaban yang di pundak merekalah diletakkan setiap beban rakyat, aspirasi dan keluh kesahnya.

Namun, akibat sekularisme dan pragmatisme, mahasiswa hari ini jauh dari tugas yang mulai itu. Sekularisme menjadikan mahasiswa terpisah dari pemikiran, perasaan umat. Mereka layaknya intelektual yang terdidik dengan tsaqafah asing. Mereka hadir di tengah umat namun tidak untuk menjadi pemecah persoalan umat.

Hal ini jelas berbeda jika mahasiswa menjadikan Islam sebagai ideologi dan tolak ukur perbuatannya. Islam sebagai akidah sekaligus sistem peraturan yang sempurna akan menginstal dalam diri setiap pemeluknya untuk senantiasa berpihak kepada kebenaran, melawan kedzaliman dan aktif beramar ma'ruf nahyi munkar.

Spirit keimanan inilah yang akan terus menghidupkan gerak mahasiswa untuk senantiasa berpihak kepada rakyat dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan keliru yang diterapkan penguasa kepada rakyat.

Oleh karena itu, sudah seharusnya mahasiswa menginstal ideologi Islam ke dalam dirinya dengan aktif mengkaji Islam, mendakwahkan serta berjuang di jalan dakwah untuk menegakkan Khilafah Rasyidah 'Ala Minhaj Annubuwwah.

Penulis : Rahmadinda Siregar (Aktivis Mahasiswi DIY)

Post a Comment

0 Comments