MADINAH MUNAWAROH: Negara Islam Pertama

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah,
Peristiwa hijrah Baginda Nabi saw. dari Makkah ke Madinah adalah momentum penting dalam lintasan sejarah perjuangan Islam dan kaum Muslim. Dengan hijrah itulah masyarakat Islam terbentuk untuk pertama kalinya. Lewat pintu hijrah itu pula, Islam sebagai sebuah sistem kehidupan bisa ditegakkan dalam institusi negara, yakni Daulah Islamiyah di Madinah Munawarah.

>> Benarkah Madinah Munawarah adalah Negara Islam pertama yang ditegakkan Rasul saw.?

Madinah terletak kira-kira 320 km ke utara Mekah. Masyarakatnya terdiri daripada suku-suku Arab terutamanya Aus dan Khazraj serta orang-orang Yahudi. Sebelum agama Islam tersebar ke Madinah, suku-suku Arab senantiasa berselisih faham sesama mereka. Golongan Yahudi memandang rendah orang-orang Arab dan memonopolikan kegiatan ekonomi. Dari segi agama dan kepercayaan kaum Yahudi memelihara kesucian agama Yahudi dan orang-orang Arab menyembah berhala seperti orang Quraisy di Mekah. Dan semua itu berakhir ketika islam datang.

>> Madinah Menjadi Negara Islam Pertama

Langkah awal Rasulullah Saw untuk mendirikan negara sudah dimulai ketika diadakan Bai’at Aqabah kedua yang telah selesai sebelum beliau meninggalkan Makkah untuk hijrah ke Madinah. Sebelum kaum muslim melakukan Bai’at Aqabah kedua, terlebih dahulu kaum muslim telah membai’at rasulullah saw. dengan Bai’at Aqabah pertama.

Dalam peristiwa Bai’at Aqabah pertama, sebanyak 12 orang penduduk Yastrib (nama kota Madinah sebelum diganti), pada musim haji menyatakan keislamannya. Dalam bai’at tersebut, mereka menyatakan bahwa mereka hanya akan menyembah Allah, meninggalkan segala perbuatan jahat dan menaati Nabi Muhammad.  Bai’at ‘Aqabah itu disebut sebagai Bai’at Kerasulan. Setelah mereka menyempurnakan bai’at tersebut dan musim haji berakhir, mereka seluruhnya kembali ke madinah.

Setahun setelah berlangsungnya Bai’at ‘Aqabah pertama, berlangsunglah Bai’at ‘Aqabah yang kedua yakni pada tahun 622 M atau tahun 13 kenabian. Ini merupakan perjanjian antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap 73 orang pria dan 2 orang wanita dari kota Yatsrib pada waktu tengah malam. Ibnu Hisyam mengatakan bahwa Bai’at Aqobah kedua adalah Bait Perang, “Bai’atul Harbi (baiat untuk berperang) ini dilakukan tepat ketika Allah mengizinkan Rasul-Nya untuk melakukan peperangan. Rasulullah saw. membaiat mereka pada Aqabah terakhir untuk berperang. Sebagai imbalan kesetiaan pada bai'at ini, Rasulullah saw. menjanjikan surga kepada mereka.”
Ubadah bin Shamit berkata, “Kami berbaiat kepada Rasulullah saw. pada baiatul Harbi untuk mendengar dan setia, baik pada waktu susah maupun senang, tidak akan berpecah-belah, akan mengatakan kebenaran dimana saja berada, dan tidak akan takut kepada siapapun di jalan Allah". Sejak bai'at aqabah kedua inilah Rasulullah saw. secara de facto menjadi kepala negara.

>> Sistem Islam Diterapkan di Madinah sebagai Sebuah Negara

Pasca Rasulullah saw. sampai di Madinah Munawarah, sebagai kepala negara, Rasulullah mengambil kebijakan untuk mengatur kehidupan di Madinah dengan aturan islam yang turun dari Al Quran dan Hadist..
Wahyu Allah Swt yang turun di Madinah berkenaan dengan hukum pidana dan aturan sosial. Kewajiban zakat, khomer dan daging babi diharamkan, serta ayat-ayat tentang hudud diturunkan, termasuk pelarangan riba (muamalah)..
~ Rasulullah saw. menerapkan hukum pidana.  Imam Ahmad bin Al Husain bin Ali Abu Bakar Al Baihaqi dalam kitab Sunan meriwayatkan bahwa Rasulullah saw menyatakan: "Tidak seorang pun berhak menerapkan hukum yang berasal dari hudud tanpa wewenang dari negara".
~ Menerapkan aturan ekonomi. Rasulullah saw. juga mengatur aktivitas perekonomian.  Pernah beliau berkeliling pasar dan menegur salah seorang pedangan kurma yang melakukan kecurangan dalam berdagang. Sebagai kepala negara, Rasulullah melakukan perlindungan terhadap hak-hak konsumen.
~ Menerapkan berbagai aturan kemasyarakatan. Ketika telah turun aturan Allah dalam Surat Al Maidah "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan" (QS Al Maidah: 90). Maka seketika itu juga secara serentak masyarakat memenuhi seruan Allah tersebut.

Rasulullah saw memberlakukan hukum syariat ditengah-tengah masyarakat dan menjadikannya sebagai stabdar perbuatan sehari-hari bagi seluruh anggota masyarakat. Sistem pemerintahan yang beliau saw tetapkan merupakan perkara penting untuk mengatur pemberlakuan hukum-hukum syariat.

Demikian realita kehidupan masyarakat madinah pasca datangnya Islam. Masyarakat Madinah bukanlah sekumpulan kaum muslim yang disatukan dalam ikatan yang longgar dan lemah. Sebaliknya, masyarakat tersebut mempunyai struktur dan ikatan yang sangat kuat untuk menjalankan kebijakan negara (hukum islam). Denganya Islam tegak dengan sebenar-benarnya sebagai sebuah kekuatan riil yang mampu menggentarkan musuh Islam.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments