Kontemplasi Masa Depan

Oleh : Muhammad Akbar Ali

Sesaat memperhatikan sekeliling. Berbagai pencermatan dengan obyek beragam. Ini berawal dari proses pencarian yang telah menenggalamkan waktu.

Ya, banyak jatah rahmat waktu yang habis karenanya. Ini tentang kehidupan.  Suatu ketika, duduk termenung dengan selingan pikiran menerawang hakekat perjalanan hidup.

Karena cita-cita  ingin menjadi dosen,  maka denganya jangkauan imajinasi mengarah pada proses yang saya rangkai dengan serius,  sistematis , terukur hingga pada keadaan tercapainya cita-cita itu.

Halusinasi yang menurut saya bermanfaat mengasah alam pikiran.  Dengan kekuatan fokus serta tekun pada kosentrasi ilmu yang digeluti,  mimpi itu akan tercapai.

Itu keyakinan dari rencana tersebut. Namun ada kejanggalan yang menekan pikiran, yakni ketika waktu prioritas dalam dedikasi untuk mimpi itu maka otomatis ilmu lainya akan terabaikan.

Karena cita itu tidak akan tersampai jika hanya tekun sebagian saja.  Karena akibatnya ilmu yang dikuasai menghampiri sebatas usaha itu pula. 

Lembaram biografi ilmuwan besar terdahulu,  sekaliber Imam Syafi'i, Ibnu Batutah,  Aris Toteles,  dan lainya, mencermati metode belajar yakni tidak beralih sampai menguasai bidang awal yang digeluti.  Begitu seterusnya.

Lalu dengan kondisi hari ini,  yang dunia pendidikan  di warnai oleh pemikiran kiri yang mendidik generasi untuk misi dunia semata, mampukah memberikan kehidupan bermakna berhadiah surga, bagi diri, orang tua maupun sosial interaksi dengan umat ?  Setelah mendapatkan gelar S1 hingga S3 ?

Ya,  mungkin secara materil akan ternampakan.  Tetapi bukankah itu adalah semu.[]

Post a Comment

0 Comments