Kisah Bekal Makan Siang Sang Penerjemah

Oleh : Raidah Athirah

KASUS pemilik travel dan penggelapan uang jamaah merupakan salah satu kasus yang bisa menyadarkan kita akan banyak hal ; Jangan percaya kepada sesuatu yang terlalu manis, too nice too be true .Gaya hidup berlebihan bisa membawa musibah.Ketamakan kepada perkara dunia bisa membuat kita jatuh ke jurang neraka ( utang yang bertumpuk )

Hanya bisa berdoa semoga cepat mendapat jalan keluar.Para jamaah semoga bisa mendapatkan haknya kembali.Selalu yakin bahwa Allah Maha Adil.Bila hak kita tidak ditunaikan di dunia ,kelak di Yaumil Hisab semua akan dipertanggung jawabkan.Semoga Pihak Travel segera menunaikan tanggung jawab karena hutang adalah perkara paling berat bagi seorang Muslim.

Saya sendiri tidak punya kapasitas membahas hal ini terlalu jauh,hanya saja ada hal menarik yang membuka memori saya terkait gaya hidup yang berkaitan dengan kasus ini.

Kisah ini saya buka kembali agar kita bisa mengingat bahwa keberhasilan itu butuh kerja keras tapi prinsip perjuangan tentang nilai-nilai kejujuran haruslah benar-benar dipegang.Tidak akan pernah berkah dan tenang hidup seseorang dari memakan hak orang lain.

Siapa bilang hidup sederhana itu mahal ? Yang mahal itu sebenarnya gaya hidup.

Saya selalu menulis bahwa dimanapun kita bisa belajar tentang nilai-nilai kebaikan .Dan Allah,Tuhan Yang Maha Rahman kembali mempertemukan saya dengan seorang gadis cantik asal Ukraina di kantor pengacara di Warsawa.

Kisah kami bermula ketika aplikasi kartu izin tinggal saya tertolak karena kelalaian saya dan suami dalam membaca informasi wawancara.Begitulah  takdir membawa kami berjumpa.Ia bekerja sebagai translator di kantor tersebut.Mereka yang menangani kasus yang menimpa saya karena bila tidak diselesaikan pilihan terakhir adalah saya harus keluar dari wilayah negara Republik Polandia dalam kurun waktu tertentu.

Setelah konsultasi dan menyetujui pembayaran saya dan Abu Aisha ( suami) mempercayakan penyelesaian kartu izin tinggal ini di tangan mereka.Setelah menunggu lebih dari satu minggu,saya dihungi lewat email oleh gadis ini sebut saja namanya Sofia .Ia menginformasikan bahwa kasus saya sudah selesai dikerjakan tinggal menunggu panggilan dari pihak imigrasi.

Alhamdulillah dua hari setelah email yang saya terima ,pihak imigrasi menghubungi kami bahwa proses pengajuan izin tinggal bagi saya dikabulkan dan diharapkan  datang untuk wawancara .Pihak penerjemah telah disediakan dari pihak kantor pengacara yang menangani kasus ini .Jadi,saya hanya menyediakan uang untuk pembayaran jasa penerjemah.

Tibahlah pada hari itu.Aisha juga ikut serta dalam proses wawancara.Kami tiba di kantor imigrasi.Seperti umumnya suasana imigrasi,wajah-wajah orang asing berlalu-lalang dengan kertas di tangan.Tak lama kemudian datang dua orang gadis cantik,berambut pirang dan berpakaian formal.

Gadis pertama memperkenalkan diri sebagai pengacara dan gadis kedua sebagai pihak penerjemah untuk saya pada saat diwawancara.

Gadis kedua ini yang kemudian memperkenalkan diri bahwa dia yang menghubungi saya lewat email.Ditangannya saat itu terdapat tas eco berwarna hitam dengan motif bunga khas ukiran tangan .

Karena giliran kami masih lama yakni  harus menunggu  60 menit lagi,salah satu temannya yakni pengacara melangkah ke ruang imigrasi dan memastikan kembali semua dokumen saya sudah lengkap .Tinggallah saya dan Sofia saat itu  ,karena Abu Aisha sudah masuk ke ruangan lain bersama Aisha.

Kami berbincang-bincang.Saya akhirnya tahu bahwa Sofia ini berasal dari Ukraina tepatnya Kiev dan mencoba peruntungan hidup di Polandia sejak perang berkecamuk disana.

Ia sempat menenangkan saya karena terlihat cemas yang mampir di wajah.

" Pani....Anda tidak perlu khawatir.Kasus Anda sudah diproses dan kelalaian Anda dan suami bukanlah hal melanggar hukum .Apalagi putri Pani butuh perawatan khusus disini.... Everything will be ok ...."

Saya tersenyum dan kami berdua bercerita seperti dua orang kawan lama.Ia bercerita tentang perjuangannya sampai di Polandia,biaya hidup dan saling bantu sesama orang Ukraina.

Ia menanyakan mengapa saya memilih hidup di negeri yang jauh berbeda agama,budaya bahkan iklim yang jauh sekali dari tanah saya dilahirkan.

Mengapa saya harus bersusah-susah hidup dirantau orang dengan segala warna hidup yang datang dan berlalu.

Saya bercerita padanya bahwa beginilah pilihan hidup dan setiap pilihan pasti memiliki tantangan masing-masing seperti halnya langkahnya merantau kesini.

Ditengah pembicaraan mata saya sebenarnya tidak sengaja menatap tas hitam motif miliknya.Entah mengapa gerak mata saya spontan tertarik dengan motif tas itu.

" Apakah motif tas ini dari Ukraina ?

" Oh tas bekal ini....."

Tangannya menarik tas itu mendekat ke tempat duduk saya

" Iya ini motif dari Ukraina.....saya menaruh bekal makan siang saya disini.Hanya sandwich ..." Ia tersenyum

" Untuk menghemat biaya, Pani....
Setidaknya bisa kami alihkan ke biaya sewa apartemen.Walaupun biaya hidup disini tidak terlalu mahal tapi saya ingin mengirit agar bisa mengirim sedikit uang kepada keluarga di Kiev "

" Kami tidak bisa hidup dengan gaya hidup perkotaan disini...Kalau tidak ada yang kami simpan kami benar-benar merugi .Untuk apa kami merantau jauh-jauh bila hanya untuk bergaya-gaya .Bila hanya untuk makan seadanya ....kami lebih memilih hidup di Ukraina tapi kami ingin perubahan ,itulah mengapa kami datang kesini...

Saya seperti tersadar dengan kalimat yang ia utarakan.Saya sendiri kaget karena tidak biasanya mereka berbagi kisah hidup kepada Orang asing seperti saya.Kalimat untaian Sofia membangunkan semangat  bahwa hidup merantau jauh dengan segala rasa hidup tentu dengan tujuan agar hidup bisa lebih baik.Hidup sederhana dan kerja keras bukanlah gaya hidup yang memalukan.

" Kami tidak malu untuk bekerja keras ,Pani....Ada banyak orang Ukraina disini dan mereka bekerja apa saja....Diterima oleh Pemerintah Polandia juga sudah merupakan jalan kebaikan untuk kami."

Ia sepertinya ingin menekankan beberapa hal kepada saya tentang rasa malu dan rasa syukur ;

1.Kita perlu malu bila utang menumpuk hanya untuk sekadar bergaya-gaya

2.Kita perlu malu bila utang menumpuk hanya untuk hidup berfoya-foya

3.Kita perlu malu bila utang menumpuk hanya untuk mengajar gengsi diantara kawan dan kerabat

4.Kita perlu memiliki prinsip hidup saat pujian semua dan hasutan kian keras dan berat.

5.Hidup sederhana itu murah dan berkah .Yang mahal itu gaya dan gengsi.

***"

Pertemuan kami saat itu masih terjalin sampai saat ini melalui komunikasi di sosial media.

Saya juga masih mengingat momen saat waktu wawancara tiba .Saya butuh penerjemah karena jawaban saya dalam bahasa Inggris diterjemahkan olehnya kedalam bahasa Polandia.Ia memegang tangan saya dan menunjukkan raut wajah untuk bersikap tenang.

Sampai wawancara selesai,ia masih sempat mengucapkan kata-kata menyemangati.

" Pani....Anda jangan khawatir .Anda punya putri dan putri Anda adalah alasan paling kuat kartu izin tinggal Anda akan keluar.Kelalaian Anda dan suami bukanlah tindakan kriminal .Wawancara Anda dan suami sudah dicocokkan dan informasi yang Anda berdua berikan pas dan saling mendukung "

Pertama kali dalam hidup saya ada orang asing yang berkata-kata seperti ini.Saya kagum pada ketulusannya dalam membantu kasus saya sampai selesai

Ya,saya ingin belajar pada gadis cantik dengan bola mata biru ini.Sosoknya cantik tapi kisah perjuangan hidupnya juga indah.Saya ingin menjadi temannya.Sebelum kami berpisah ia memberikan nomor handphone dan nama Fesbuknya.

Dan beginilah saya mengingat orang-orang dengan nilai-nilai baik yang saya temui.Saya berguru pada kisah hidup mereka.Saya mengambil dan membangun semangat mereka dalam hidup.

Hidup karena ingin pujian manusia itu benar-benar melelahkan. Semua hal ingin terlihat 'wah' akibatnya berbagai cara dilakukan.

Saya sendiri pernah melewati fase ini.Sebagian besar orang kita beranggapan bahwa orang yang menikah dengan orang asing otomatis hidupnya hepi-hepi, jalan-jalan terus ,makan di restaurant dan punya tabungan yang banyak jadi sah-sah saja pinjam duit.

Persepsi sebagian besar kita benar-benar melahirkan korban bahkan bisa jadi malapetaka kalau kita terperangkap dalam gaya hidup ini.

Saya berusaha menjelaskan kepada keluarga,sahabat dan teman-teman bahwa hidup di luar negeri itu bukan berarti orang kaya.Masing-masing punya permasalahan tersendiri.

Kenyataan justru lebih keras . Saat homesick misalnya tidak bisa langsung pesan tiket dan mudik .Biaya tiketnya saja hasil menabung bertahun-tahun .Apalagi bila ada keluarga atau kerabat yang sakit atau pun meninggal.Hanya bisa berdoa dari jauh mengingat untuk menengok memakan biaya yang sangat banyak.Bila bertepatan dengan musibah ada kemampuan keuangan ,apa salahnya tapi kenyataan justru di saat kekurangan.

Itulah mengapa berulang-ulang saya menasihati beberapa saudari yang hendak menikah dengan orang asing bahwa persepsi dan cara pandang haruslah terbuka dan realistis .Hal ini untuk memudahkan kita hidup beradaptasi atau setidaknya tidak begitu terkejut dengan realita yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Ada banyak yang inbox dengan kata-kata yang menunjukkan rasa takjub

" Hebat ya Mba hidup di luar negeri "

" Enak ya jalan-jalan terus "

" Mba....Pinjamin saya duit dong Mba khan sudah hidup di luar negeri !

Sedih sekali menemukan orang-orang macam ini tapi setidaknya ini juga jalan untuk bercerita bahwa hidup dimana pun itu sama,ada orang yang kekurangan dan ada orang yang bergelimang harta.

Kami termasuk orang  yang biasa saja.Prinsip kami adalah hidup sederhana
1. Tempat tinggal ada Alhamdulillah

2. Makanan untuk makan ada Alhamdulillah

3. Ada untuk bisa berbagi Alhamdulillah

Alhamdulillah  terus.....Alhamdulillah hadirkan hati bersyukur .Biasakan lidah kita mengucap syukur . Janji Allah bagi kita bahwa semakin kita bersyukur Allah tambahkan nikmat .

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

Kita perlu bangun dari gaya hidup ini supaya hidup kita selamat dunia akhirat.

Islam sendiri melarang hal-hal yang berlebihan salah satunya termasuk gaya hidup.Berapa banyak orang yang terjerat hutang bukan karena mereka tidak bisa makan tapi lebih kepada pemenuhan gaya hidup.Allah Ta'ala membenci orang-orang seperti itu.

Allah Ta’ala berfirman,
ِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). 

***

Ada banyak kasus orang yang dari segi pendapatan cukup untuk kebutuhan hidup tapi mengapa terlilit utang yang banyak ?

Tentu karena ada yang tidak seimbang.Istilahnya Besar Pasak Daripada Tiang alias Lebih Besar Gaya Daripada Pendapatan ya pasti jatuh.Kalau dalam istilah sekarang disebut KAUM BPJS ( Bajet Pas-pasan Jiwa Sosialita )

Makan di restaurant ,jalan-jalan dan memakai tas branded sah-sah saja yang BERBAHAYA itu BERHUTANG dan MENIPU untuk memenuhi gaya hidup ini.

Apalagi setelah menjamur sosial media seperti Instagram  dan Fesbuk foto-foto bertebaran.Kita seharusnya berpikir lebih realistis bahwa untuk traveling ,untuk menginap di hotel itu butuh bajet yang tidak sedikit.

Pikirkan tentang proses  foto yang disharing di sosial media bahwa sebelum foto itu tertampil ada usaha dan kerja keras sehingga kita bisa menikmati pemandangan menakjubkan.

Sifat  hasad tak Ada gunanya hanya bisa seperti api yang memakan kayu bakar.Mari hidup sederhana dan penuh berkah ! Bebas Utang ,Terus Berbagi .Ini yang namanya kemerdekaan sejati

Polandia ,16 Agustus 2017

#MerankaiHikmah

#Selfreminder

#PengingatDiri

Post a Comment

0 Comments