Ketika Anak Perempuanmu Merasa Tidak Nyaman

RemajaIslamHebat.Com - "Dek ini jilbabnya dipakai lagi dong. Liat ini Bunda sama Kakak aja masih pakai jilbab juga kan"
Familiar?

"Adek mah bisa, kaki pegel paling cuman sebentar.. Ini les ballet buat adek juga nanti, biar bisa banyak hal, yah.. "
Pernahkah mendengar instruksi yang sebelas dua belas?

"Perempuan kudu iso masak. Nek ora iso masak mengko ditinggal bojone"
Lagu lama doktrinasi yang menyeramkan?

"Kamu jangan nikah muda, selesaikan dulu sampai S blablabla, biar bisa cari duit sendiri. Mandiri"
Ada yang mengalami hal yang sama?

"Oalah Nduk, anakmu ini kok yaa ngga bisa gendut. Makannya gimana, ngemilnya gimana, minum susu apa. Moso sih badannya segini-segini aja"
Saya sungguh penasaran apakah komentar seperti ini ada sejak jaman Ken Dedes betisnya menyala.

=====

Gumaman riuh rendah mengatakan bahwa menjadi perempuan terbentur banyak batasan. Batasan yang kemudian digiring menjadi beban yang melemahkan perempuan. Yang membuat rasa tidak nyaman.

Seperti kita, yang kala dulu menjadi anak terhimpit kewajiban mentaati tanpa penjelasan dan reasoning yang berarti.
Seperti kita, yang kala menjadi orang tua kemudian mengulangi instruksi tanpa diskusi.

Ketidaknyamanan wanita kadang bahkan dimulai sejak mereka masih belia, ketika umurnya masih ingin tertawa, mereka dibelenggu rutinitas gender yang luar biasa.

Ketidaknyamanan wanita seringkali terdengar biasa. Hingga komplain-nya menjadi sia-sia. Mereka belajar mengubur jauh suaranya, mengangguk dalam antrian kedamaian namun memekik ketika sendirian.

Tengoklah kepada anak perempuan kita.

Ketika kita mengenalkan hukum agama kepada mereka, apakah kita sudah menjelaskan asal muasal turunnya perintah A, B, C atau hanya menginstruksikan secara kaku dan bahkan membandingkan si anak yang baru belajar.
Bukankah ilmu agama seharusnya menjadi yang meringankan kebutuhan duniawi manusia...

Ketika kita mengenalkan pilihan value tambahan untuk kegiatan sampingan, apakah kita sudah mengutamakan orientasi kebutuhan dan kapasitas penerimaan si anak alih-alih mengangankan betapa bangganya kita menjadi orang tua dari anak yang multi talenta
Bukankah hasil akan berbanding lurus dengan niat, dan keberkahan tidak pernah salah mengukur itikad...

Ketika kita mentitahkan anak perempuan agar membekali diri dengan segala macam skill keistrian dan keibuan, apakah kita sudah menyelipkan pesan bahwa mereka pun layak berpikir untuk menggapai hal-hal yang mereka senangi alih-alih selalu mencetak mereka menjadi abdi.
Bukankah membesarkan anak perempuan yang bahagia akan berefek domino pada keluarga lanjutannya di masa depan juga...

Ketika kita mengecam pilihan si anak perempuan karena merasa pengalaman kita menjalani hidup sudah jauh lebih paripurna, apakah kita telah mendahulukan diskusi ketimbang prematurnya koreksi dan justifikasi.
Bukankah setiap nyawa hidup dalam ritme masing-masing pada zamannya, ada algoritma yang bekerja berbeda pada setiap prioritas yang dipilih dengan merdeka...

=====

Ketika seorang anak perempuan merasa tidak nyaman dan tidak segera menemukan tempat bagi mereka untuk membuka suara, maka pilihannya lantas ada tiga.

Mereka akan bungkam, entah berpura-pura berdamai atau benar-benar sedang dalam aksi mendamaikan diri.

Mereka akan berontak dalam gerilya, merajuk hingga sampai pada satu titik tarik ulur.

Yang lebih menciutkan perasaan orang tua, adalah ketika mereka mencari penerimaan dari pihak ketiga yang lebih mampu mengayomi jiwanya. Mereka kehilangan kepercayaan pada sosok orang tua dan institusi mulia bernama keluarga.

Jika mendidik anak lelaki adalah suatu kebanggan bagi rumah-rumah patrilineal, maka sudah seharusnya membesarkan anak perempuan juga memerlukan ketelitian dan menjadi sebuah kemuliaan pada setiap rumah.

Bukan karena mereka hanyalah tulang rusuk bengkok, maka kita menomorsekiankan sehatnya emosi yang tumbuh di dalamnya. Bukan karena mereka pada akhirnya akan dipinang lalu melenggang meninggalkan rumah, lantas kita meng- "ah udahlah anak perempuan ini" - pada pengasuhan atas anak perempuan kita.

Anak-anak perempuan kita adalah calon Ratu, yang akan bertanggungjawab dalam andil menjaga peradaban di tahun-tahun ke depan.

Menantu-menantu perempuan kita nantinya pun adalah Ratu, dalam yurisdiksi empiris mereka di keluarga masing-masing.

Maka sekian kalimat dan instruksi yang kita luncurkan pada anak-anak kita, adalah selimut hangat atau genderang perang bagi jiwa mereka.

Maka ketika anak perempuan kita mengisyaratkan tidak nyaman atas perintah atau komentar dari kita, dekati mereka untuk mendengar bagaimana suara mereka. Beri mereka ruang, beri mereka kesempatan untuk berdiskusi berimbang.

Setiap anak, apapun gendernya. Berhak mendapatkan perlakuan mulia dan peluk terima kasih yang sama.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments