Kepentingan Ekonomi Dibalik Krisis Rohingya

Oleh: Jumriana, SE
(Ibu RT Tinggal di Pomala Kab. Kolaka)

SECARA umum orang berpendapat, krisis Rohingya di Myanmar adalah masalah agama. Dimana hubungan antar agama di Myanmar adalah masalah yang sangat kompleks. Warga Rohingnya adalah komunitas yang mayoritasnya Muslim, dan tinggal di negara bagian Rakhine. Jumlah mereka sekitar sejuta, tapi mereka bukan kelompok masyarakat terbesar di Rakhine. Sebagian besar warga Rakhine beragama Buddha. Mereka dikonfrontasikan dengan rasa takut mendalam terhadap Islam di masyarakat. Komunitas warga Rakhine merasa didiskriminasi secara budaya, juga tereksploitasi secara ekonomi dan disingkirkan secara politis oleh pemerintah pusat, yang didominasi etnis Burma. Dalam konteks spesial ini, Rohingya dianggap warga Rakhine sebagai saingan tambahan dan ancaman bagi identitas mereka sendiri.
Warga yang fundamental mengklaim bahwa kebudayaan Buddha serta masyarakat terdesak oleh warga Muslim. Apalagi Myanmar dikelilingi negara-negara yang mayoritas warganya beragama Islam, seperti Bangladesh, Malaysia dan Indonesia. Sehingga warga Rohingnya dianggap sebagai ancaman terhadap gaya hidup dan kepercayaan Buddha, dan jadi jalan menuju Islamisasi Myanmar.

Ada Sumber Minyak di Balik Genosida Rohingya
Selama lima tahun terakhir ini, warga minoritas Rohingya menghadapi peningkatan persekusi baik dari pemerintah, militer Myanmar hingga warga lokal di Negara Bagian Rakhine tempat mereka bermukim selama ratusan tahun.
Dalam operasi militer Myanmar selama sepekan terakhir, PBB melaporkan sedikitnya 400 warga Rohingya  tewas dan 60 ribu lainnya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh. Operasi militer mematikan ini dipicu oleh serangan gerilyawan Rohingya terhadap puluhan pos polisi dan pangkalan militer di negara bagian Rakhine, yang memicu bentrokan dan serangan balik dari militer.
Tentara mengatakan melancarkan pembersihan terhadap teroris garis keras dan pasukan keamanan diberi pengarahan untuk melindungi warga. Namun, warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh mengatakan bahwa serangan dengan pembakaran dan pembunuhan bertujuan untuk memaksa mereka keluar. Selain pertarungan antar etnis dan agama antara warga Rohingya yang dianggap sebagai pendatang ilegal dengan warga lokal Budha sejak sebelum kemerdekaan Burma dari Inggris, konflik geopolitik seperti dilansir media Inggris, Guardian, diduga juga menjadi pemantik konflik yang kini berujung pada penderitaan warga Rohingya. Meski belum terbukti, Guardian menyiratkan ada dugaan bahwa persekusi terhadap Rohingya yang digalang sejumlah biksu ultranasional seperti Wirathu sejak 2011 dinilai sebagai operasi terselubung junta militer yang saat itu berkuasa. Junta menggunakan para biksu yang sangat dihormati warga lokal untuk mengalihkan kemarahan warga lokal Rakhine terhadap pemerintah Myanmar akibat proyek minyak dan gas dan menjadikan warga minoritas Rohingya sebagai musuh bersama karena perbedaan agama dan budaya.
Tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya yang terjadi di daerah Arakan - Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya, dengan dugaan kuat didasarkan pada perebutan secara paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas. Menurut Siegfried O. Wolf kepala bidang penelitian pada South Asia Democratic Forum (SADF) di Brussel, dan peneliti pada Universitas Heidelberg, Insitut South Asia mengatakan bahwa, krisis yang terjadi di Rohingya lebih bersifat politis dan ekonomis. Dimana Rakhine adalah salah satu negara bagian yang warganya paling miskin, walaupun kaya sumber daya alam. Warga Rohingya dianggap beban ekonomi tambahan, jika mereka bersaing untuk mendapat pekerjaan dan kesempatan untuk berbisnis. Pekerjaan dan bisnis di negara bagian itu sebagian besar dikuasai kelompok elit Burma. Jadi bisa dibilang, rasa tidak suka warga Buddha terhadap Rohinya bukan saja masalah agama, melainkan didorong masalah politis dan ekonomi. Sebagaimana dilaporkan Forbes, diperkirakan Myanmar memiliki cadangan minyak dan gas  sebesar 11 triliun dan 23 triliun kaki kubik, hal tersebut membuat perusahaan multinasional asing berebut mendapatkan kesepakatan mengeksplorasinya.

Berikut wilayah yang menjadi perebutan secara secara paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas di daerah Arakan – Rakhine :

Pertama, Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9 % CNPC (China), 25,04% Daewoo International (Korea), 8,35% ONGC (India), 7,37% MOGE (Myanmar), 4,17% GAIL (India) dan 4,17% investor-investor swasta lainnya.

Kedua, Pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km - yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51% Daewoo International (Korea), 17% ONGC (India), 15% MOGE (Myanmar), 8,5% GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea); Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi, di mana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 7,836 triliun kaki kubik gas dan 1,379 milyar barel  minyak - yang beberapa blok di antaranya berproduksi sejak 2013, ditawarkan tahun ini sebagai temuan baru, dan beberapa blok lainnya jatuh tempo kontraknya tahun 2017 ini; dan Blok-blok minyak dan gas di daratan Arakan di mana North Petro-Chem Corp (China), Gold Petrol (Myanmar), Interra Resources (Singapura), Geopetrol (Prancis), Petronas Carigali (Malaysia), PetroleumBrunei (Brunei), IGE Ltd. (Inggris), EPI Holdings (Hongkong/China), Aye Myint Khaing (Mynmar), PTTEP (Thailand), MOECO (Jepang), Palang Sophon (Thailand), WIN Resources (Amerika Serikat), Bashneft (Russia), A1 Construction (Myanmar), Smart Technical Services (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar) dan ONGC (India) beroperasi dan berproduksi, di mana daerah tersebut dilaporkan memiliki cadangan terbukti sebesar 1,744 triliun kaki kubik gas dan 1,569 milyar barel minyak - yang beberapa blok di antaranya jatuh tempo kontraknya pada tahun 2017 ini.

Ketiga, Konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam bukan fenomena khas Myanmar, dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain. Untuk menutupi operasi apropriasi kapital dan sumber daya, secara menjijikkan operator-operator di lapangan membungkusnya dengan konflik antar etnis, antar agama, antar kelompok masyarakat. Etnis Rohingya yang tinggal di daerah Arakan-Rakhine memang menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya, yang secara biadab dan terencana.

Pandangan Islam Terhadap Krisis Rohingya
Saat ini umat Islam di negeri-negeri Islam sedang mengalami penderitaan; di Suriah, Palestina, Irak, Yaman dan sebagian negeri Afrika. Dan penderitaan saudara kita di Rohingya Myanmar termasuk yang paling mengiris rasa kemanusiaan. Mereka hendak dimusnahkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum Muslim dari kalangan militer dan polisi Myanmar serta pengikut Budha radikal dan ekstrim. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk menunjukkan simpati dan solidaritas atas apa yang menimpa saudara-saudara kita, khususnya kaum Muslim Rohingya. Rasulullah Saw menggambarkan kaum Muslim layaknya satu bangunan yang saling menopang satu sama lain : “ Sesungguh kaum Muslim itu seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”(HR. al-Bukhari, Muslim, an-Nasai, at-Tirmidzi dan Ahmad). Kita juga harus memberikan pertolongan kepada mereka dengan apa yang kita mampu. Allah SWT berfirman: “Jika mereka meminta pertolongan  kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama ini maka kalian wajib memberikan pertolongan”. (TQS. Al-anfal: 72)

Yang paling minimal adalah menyertakan mereka dalam doa-doa yang kita panjatkan. Yang lebih dari itu adalah menggalang bantuan dalam berbagai bentuk. Upaya lainnya adalah melakukan aksi-aksi solidaritas untuk mendesak para penguasa Muslim agar menggunakan kekuasaan dan kekuatan yang ada di tangan mereka untuk membela dan menyelamatkan saudara-saudara kita, terutama kaum Muslim Rohingya.
Pembelaan dan penyelamatan kaum Muslim yang teraniaya, akan sangat efektif dengan menggunakan kekuasaan dan kekuatan negara. Pasalnya, yang melakukan penganiayaan dan penzhaliman bahkan membasmi mereka juga menggunakan kekuasaan dan kekuatan sebuah negara. Itulah yang dicontohkan oleh Rasul Saw saat menghilangkan ancaman pasukan Romawi terhadap kaum Muslim yang ada di wilayah Tabuk. Dimana beliau sebagai kepala negara memobilisasi pasukan kaum Muslim menuju Tabuk dengan menempuh jarak sekitar 700 km dalam keadaan sulit.

Pembelaan seperti itu pula yang ditunjukkan oleh Khalifah al-Mu’tashim Billah saat memenuhi permintaan tolong seorang Muslimah yang dianiaya oleh pasukan Romawi di Amuria. Khalifah al-Mu’tashim Billah mengerahkan puluhan ribu pasukan yang ujungnya telah tiba di Amuria, sedangkan ekornya masih berada di Baghdad. Dengan cara itulah Amuria pun ditaklukkan.
Saat ini tidak ada satupun penguasa Muslim yang segera membela dan menyelamatkan kaum Muslim seperti Khalifah al-Mu’tashim Billah. Padahal saat itu yang teraniaya dan minta tolong hanyalah seorang Muslimah. Sebaliknya, saat ini yang berteriak minta tolong bukan hanya seorang tapi puluhan ribu bahkan ratusan ribu kaum Muslimin.

Walhasil, semua itu membuktikan bahwa untuk membela dan menyelamatkan kaum Muslim yang teraniaya kita harus berusaha mewujudkan kembali kekuasaan dan pemerintahan Islam yang menerapkan Syariah secara kaffah, yang berkhidmat untuk kemuliaan islam dan kaum Muslim. Wallahu a’alam bi ash-shawab

Post a Comment

0 Comments