Jangan Menikah Karena Terpaksa

RemajaIslamHebat.Com - Perkara “kapan nikah?” sepertinya jadi topik yang tak ada habisnya jika dibicarakan. Khususnya buat kamu yang sudah masuk usia 20-an ke atas. Rasa-rasanya, semesta seperti bersekongkol hingga membuat kita merasa berdosa kalau-kalau sudah umurnya tapi belum menikah juga.
Padahal, kita perlu kembali merefleksi dan bertanya pada diri sendiri. Apa iya kita harus nikah kalau cuma alasan sudah umurnya? Bukankah sebenarnya banyak hal-hal penting yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak? Yang pasti, nikah itu bukan wajib belajar, jadi menikahlah tanpa merasa dikejar-kejar oleh usia…
Menikah emang kebutuhan, katakanlah untuk mendapat keturunan. Tapi tolong jangan lakukan itu hanya karena paksaan.

Harusnya menikah itu bikin bahagia,
Konsensus. Ya, begitulah yang terjadi pada masyarakat kita, Indonesia. Dengan sengaja membicarakan apapun tentang orang lain di belakang. Termasuk ketika-menurut-masyarakat, usianya sudah masuk usia menikah, namun belum juga ada tanda-tanda menuju kesana. Jangankan tanda-tanda, pasangan aja ndak punya.
Peduli amat sama orang lain. Iya sih kita hidup bermasyarakat, tapi dengan atau tanpa menikah, hidup kita masih terus berjalan kok!

Ya begitu. Namanya ibu-ibu rumpik, kurang kerjaan buk?  Belum Menikah bahkan di kitab manapun itu  bukan dosa. Jadi, dengan atau tanpa pernikahan kehidupan juga masih akan tetap berjalan. Bukan, bukan mengajari untuk tak peduli lagi pada ikatan sakral bernama pernikahan. Tapi kan jauh lebih kasian, kalau ikatan itu dilangsungkan terus-terusan tanpa ada tujuan yang mendasar? Lebih baik jangan…
Karena menikah itu bukan wajib belajar, jadi jangan lantas kita merasa terkejar hingga siapa pun yang datang langsung disambar.

nikah bukan wajib belajar buk..Nggak ada batas waktunya buk!
Persis seperti ilustrasi pembuka tadi. Tentang ketakutan nantinya tak kan dipertemukan dengan lawan jenis lagi. Akhirnya, pasca dilangsungkannya lamaran atau pernikahan, malah mengeluh kalau kriteria pasangan tak seperti yang diharapkan. Bukan, bukan ngajarin atau nganjurin pacaran juga. Tapi tahapan saling mengenal sebelum menikah itu juga penting, biar nggak ngerasa kaget, apalagi sampai menyesal.
Ada yang bilang, usia 19-21 itu tahapan seseorang memiliki pertanyaan “Gue siapa?”. Selanjutnya di usia 22-24, ketika dia bertanya “Lu siapa?” kepada pasangan atau lawan jenisnya, tahap penjajakan. Nah, setelahnya nih yang rawan bahaya. Katakanlah usia 25-30 atau bahkan lebih, dia bakal bilang “Yuk ah, siapa aja.” Ahhhh…artinya siapapun cewe atau cowo, dengan kata lain lawan jenisnya yang juga tertekan karena omongan orang sekitar untuk menikah karena usia, akan merasa “saling melengkapi” dengan melangsungkan pernikahan. Alangkah sayangnya jika itu terlaksana tanpa dilandasi adanya iman
Menikah itu tentang siap dan mantap, jangan sampai kamu menjalani rumah tangga dengan gagap.

Sebelum menikah, berilah pertanyaan ini kepada diri sendiri: Apakah kita sudah mempersiapkan sebuah momentum sebesar ini ? Apakah kita sudah membekali diri dengan berbagai ilmu untuk menyongsong sebuah prosesi teramat sakral ini? Pantaskan diri.
Menikah itu bukan tentang siapa yang lebih cepat. Tapi yakinlah, Allah sudah pilihkan waktu dan seseorang yang paling tepat. Jangan tergesa lantaran telingamu sudah panas membara, akibat omongan dari para tetangga. Pantaskan diri kita dulu, bukan saja untuk jodoh kita kelak, tapi fokuslah memperbaiki diri di hadapanNya.
Jangan gegabah dan beralasan untuk ibadah. Percuma tampan, punya jabatan, dan mapan. Apa artinya kalau  nggak nyaman?

Ibadah sih ibadah, sekaligus menghindarkan kita dari yang namanya zina. Tapi itu bukan satu-satunya alasan juga buat kita buru-buru, hingga lupa mempertimbangkan semua hal matang-matang. Janganlah jadikan anjuran agama sebagai alasan untuk buru-buru menikah. Apalagi kalau sejatinya kita nge-dumel di belakang soal keburukan-keburukan pasangan pasangan. Kita nggak ingin ketergesaan membuat kita salah memutuskan pilihan kan? Persiapan menikah itu bukan hanya persoalan mendaftar di KUA saja!
karena seleksi itu sah-sah saja
Keinginan untuk berumah tangga itu pasti selalu ada pada setiap orang, tapi alasan ini juga nggak bisa kita gunakan untuk buru-buru cari pasangan lalu nikah. Camkan dibenak kita, nikah itu bukan ikut-ikutan. Nikah itu tentang persiapan. Termasuk siap-siap memilah para calon jodoh.
Jodoh itu perkara waktu kawan, tak usahlah merasa terburu-buru. Tentang siapa yang lebih dulu, misalkan itu adik kita, bukan berarti menjadi masalah besar kan? Hingga kemudian kamupun sembarangan memilih pasangan. Memang tak mudah, marilah berbenah, dan perbanyak sedekah.

#sedikitHiburan_untuk_salurkan_isi_hati
#InspirasiDariKehidupan

Sumber:

Fb: Widhy Lutfiah Marha

Post a Comment

0 Comments