Izinkan Aku Membersamaimu Selayaknya Rasulullah dan Khadijah

Oleh : Hilmi Firdausi

KISAH cinta agung yang terus membekas dalam diri saya adalah Kisah cinta Muhammad SAW dan Khadijah. Kisah cinta yang begitu indah, suci namun bukanlah cerita fiksi pangeran dan putri.

Khadijah jatuh cinta kepada Muhammad muda karena melihat kemuliaan akhlaqnya...walau banyak laki-laki ingin meminang Khadijah sang janda lembut nan kaya raya, tapi hatinya tertambat pada seorang pemuda jujur bernama Muhammad SAW.

Sayyidah Khadijah dan Muhammad SAW menjalin rumah tangga karena Allah. Karena itulah pernikahan mereka menjadi begitu berkah, cinta mereka kekal abadi. Sebab ada Allah dalam hubungan cinta mereka, ada Allah dalam niat pernikahan mereka, ada Allah yang menjadi landasan setiap keputusan yang mereka buat sebagai suami  istri. Dan inilah sumber kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Tak aneh jika Khadijah bertahan saat ujian pernikahan mereka menghadang.

Awal turunnya wahyu dan pengangkatan Muhammad menjadi Rasulullah, Kahadijahlah yang menenangkan suaminya.
Kala orang-orang kafir quraisy ingkar, Khadijahlah wanita pertama yang menyatakan keimanannya. Dalam perjuangan awal-awal periode kenabian, Khadijahlah yang mendukung suaminya dengan segenap harta, jiwa dan tenaga.

Khadijah yang kaya raya pernah hanya memakan rumput berbulan-bulan karena boikot kaum kafir quraisy kepada keluarga Rasulullah dan para sahabat. Wanita mulia nan terhormat itu giginya menjadi tajam karena terlalu sering memakan rumput, makanan yang biasa disajikan penggembala kepada hewan gembalaannya.

Khadijah yang dulu hidup kemewahan pernah hanya tidur beralas tikar pelepah kurma yang tidak bisa melindunginya dari hawa dingin tatkala musim dingin tiba.

Rasul mulia lalu berkata kepada sang Istri tercinta ; “Aku merasa malu kepadamu, wahai Khadijah,” sang Suami membuka percakapan.

"Mengapa engkau merasa begitu, wahai Rasulullah?” tanya lembut Khadijah...

"Sebab aku menikahimu dan engkau mulia di kaummu, kini mereka mencaci maki dirimu. Aku menikahimu, dan kau kaya raya, semua yang kau inginkan tersedia. Kini kau makan ala kadarnya bahkan seringkali harus menahan lapar untuk waktu yang lama.”

Sang istri memandang wajah suaminya penuh cinta. Mengingatkan bahwa bahagianya bukan terletak pada gelimang harta atau dianggap mulia di antara kaum yang tidak mengenal tuhannya. Bahagianya ada bersama dengan sang tercinta, bahagianya ada pada pengorbanan dalam membela agama.

Maka ia pun menjawab, “Duhai Rasulullah, hilangkanlah segala perasaan itu. Engkau harus tahu, jangankan sekedar harta sebab seluruh tenaga, waktu, rasa, hidup dan matiku telah kupersembahkan untuk Allah dan RasulNya.”

Alangkah indahnya ucapan itu.
Sungguh tulus hati dan jiwanya dalam pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya, hingga para ahli sejarah menyimpulkan kemuliaan Khadijah dengan mengatakan:

"Dia adalah seorang istri yang tidak pernah berkata tidak kepada suaminya. Cinta mereka adalah legenda, perwujudan keabadian cinta dan kesejatian cinta."

Rasulullah tak pernah menduakan Khadijah hingga meninggalnya. Rasulullah bahkan mengenang tahun meninggal Khadijah dengan 'amul huzni, tahun duka cita.
Setelah hijrah dan menikahi wanita lain demi keberlangsungan dakwah, Rasulullah pun tak henti-henti memuji Khadijah dihadapan istri-istrinya.

Sungguh luar biasa kecintaan sang suami agung kepada istri nan mulia. Itulah kisah cinta yang terpisah hanya karena nyawa berpisah raga. Boleh jadi Rasulullah tak akan menikah lagi jika Khadijah masih ada di sisi, karena kecintaan Rasulullah kepada Khadijah tak berbatas dan tak lekang oleh waktu.

Untuk istriku, walau kita berdua tak semulia mereka...Izinkan Aku membersamaimu selayaknya Rasulullah dan Sayyidah Khadijah...semoga Allah ijabah...

Sumber:

FB : Hilmi Firdausi

Post a Comment

0 Comments