Infishol, Ikhtilat dan Trend

RemajaIslamHebat.Com - Dua istilah (infishol dan ikhtilat) bukan istilah asing di telinga aktivis (rohis). Tapi tidak dengan masyarakat awam yang beragam pemahamannya, dua istilah tersebut sangat aneh, dan apalagi jika melihat prakteknya.

Padahal dua istilah itu sering mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Ikhtilat misalnya, sering mereka lakukan ketika mereka di pasar, kendaraan umum, lapangan, dll. Sementara infishol, juga harusnya tidak asing, karena mereka sering praktekkan dalam sholat berjamaah di masjid yang terpisah atau dihijab antara jamaah ikhwan dan akhwatnya.

Secara sederhana, ikhtilat diartikan campur-baur, sedangkan infishol artinya terpisah atau terhijab. Jadi ikhtilat adalah lawan kata dari infishol. Sehingga, sebenarnya secara mudah jika mencari landasan syar’i dari infishol, maka bisa ditemui mafhum sebaliknya dari ikhtilat. Larangan ikhtilat (campur baur) itu artinya adalah kewajiban untuk infishol.

Begitulah seharusnya kehidupan di masyarakat yang diatur dengan syariat Islam, atau masyarakat yang mengerti dan memahami syariat Islam. Kehidupan infishol tidak hanya terjadi pada walimah saja, tapi dalam kehidupan masyarakat yang memang seharusnya terpisah, atau kehidupan laki-laki dan perempuan yang memang tidak perlu (baca: tidak wajib) bertemu.

Namun Alhamdulillah, kita patut bersyukur atas taufik Allah berkat upaya dakwah kehidupan infishol maupun larangan ikhtilat ini sudah sedikit demi sedikit diadopsi oleh masyarakat. Wa bil khusus dalam acara walimah. Walaupun memang belum begitu membahana.

Menurut sependek pengetahuan dan pengalaman saya, ini juga terjadi salah satu berkah dari sosial media. Sebagai sebuah awalan ini merupakan langkah yang bagus, tapi kalau bisa memang harus ada upaya yang signifikan dan terus menerus (istiqomah) untuk lebih memperdalam pemahaman tsaqofah Islam kita.

Sebab apa? Karena sepertinya hanya akan jadi sekedar trend, jika pemahaman infishol dan ikhtilat ini hanya kita kaji di sosial media. Oleh karenanya semangat bersyariat ini harus dilanjutkan dengan mengkaji lebih dalam hingga menjadi sebuah mafhum sehingga ada dorongan untuk mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Trend yang ada terlebih dahulu, seperti trend hijab syar’i dan trend hijrah memang telah mencuri perhatian masyarakat. Namun sekali lagi, jika infishol dan ikhtilat hanya menjadi trend, maka yang terjadi pada praktek-praktek yang sudah ada, dalam dunia hijab syar’i muncullah istilah dan praktek hijab gaul, hijab punuk unta, dll.

Dalam dunia hijrah pun juga terkena imbasnya, maka muncullah istilah hijrah hati, hijrah cinta, atau istilah ekstrimnya manusia setengah hijrah.

Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Pertama: karena kita hanya memahaminya sekedar trend, sehingga yang penting trendy dan diikuti banyak orang, akhirnya kita ikuti. Ini berarti bermasalah pada niat awal. Maka adalah penting mengoreksi niat kita berubah atau melakukan perubahan pada diri bukan karena pengin dilihat manusia, bukan karena pengin dapat applaus dari manusia, tapi memang kita berubah, kita melakukan perubahan karena itu bukti ketaatan kita kepada Allah, hanya Allah satu-satunya niat kita berubah.

Kedua: karena jujur saja, kita masih memahami Islam hanya separoh-separoh, baik secara individu, terlebih lagi masyarakat kita didominasi pemahaman sekuler. Ini bukan tuduhan, tapi memang terbukti dan imbasnya kena perilaku masyarakat kita. Sehingga dipikirkanya, Islam hanya mengatur infsihol ketika di masjid saja, sementara diluar masjid, seperti di walimah, boleh ikhtilat seenaknya.

Setidaknya dua alasan mendasar itulah yang menyebabkan perubahan atau ketaatan kita hanya sekedar jadi trend, tidak kaffah, tidak se

Namun sekali lagi, perubahan yang ada saat ini tetap perlu kita apresiasi dan tentu harus ditindaklanjuti sehingga tidak hanya sekedar trendy tapi memang kita lakukan atas dasar ketaatan pada illahi rabbi.

Penulis : @LukyRouf

Post a Comment

0 Comments