Indonesia Bukan Singapura, Halimah Yacob Is Not My President

Oleh : Raidah Athirah

SAYA kecewa membaca komentar-komentar perbandingan yang beberapa hari lalu muncul di beranda terkait terpilihnya Halima menjadi president Singapura tanpa proses pemilihan.

Yang membawa saya pada rasa geli dan geleng-geleng kepala ada sebagian kaum terpelajar yang membawa isu-isu rasis dan SARA menyikapi diangkatnya Halimah Yacob sebagai President Wanita Pertama dalam sejarah Singapura dan menariknya beliau berasal dari etnis Melayu.

Komentar-komentar emosional untuk melecehkan bangsa sendiri merupakan bukti bahwa memang sebagian kita belum dewasa dan tidak pandai menghargai perbedaan dengan otak yang jernih.

" Bangsa Singapura memang dewasa nggak kayak disini ,rasis mulu "

" Untung Bu Halimah nggak punya warga kayak kaum sumbu pendek,bisa apa-apa protest "

" Dasar kaum terbelakang,contohin tuh warga Singapura yang tidak memilih berdasarkan ras ,agama dan suku "

" Singapura maju karena warganya berpikiran terbuka dan menghargai perbedaan suku,Indonesia jempol kebawah "

Ini hanya sebagian komentar yang masih dibilang memiliki attitude ,ada yang sangat kasar dan melecehkan .

Inilah kaum emosional yang belum dewasa karena berkomentar sebelum mengetahui latar belakang dan bagaimana proses demokrasi di negara Singa itu.

Halimah Yacob tidak terpilih melainkan diangkat karena tidak Ada pesta demokrasi seperti halnya di negara kita.

Singapura bukan Indonesia ,maka tentu saja perbandingan ini tidak pas,timpang dan kenak-kanakan.

Buka pikiran kita dan seperti saya selalu menulis cobalah untuk menghargai kekalahan.

" Too much hate will kill you ,guys ! "

1.https://m.cnnindonesia.com/internasional/20170913083005-106-241345/politik-ras-dan-capres

2.https://nasional.sindonews.com/read/1240600/18/mencermati-singapura-1505697328

3 " Pemilihan tokoh Melayu sebagai presiden di Singapura merupakan produk konstitusi Perdana Menteri Singapura saat ini, Lee Hsien Loong, yang mensyaratkan setiap etnis minoritas di Singapura memungkinkan menjadi presiden terpilih dengan syarat yang telah ditentukan.

Dalam konstitusi Singapura disebutkan bila dalam lima kali pemilihan presiden berturut-turut ada ras yang tidak terwakili menjadi presiden terpilih, maka pada pilpres berikutnya, jabatan presiden khusus dikompetisikan untuk ras tersebut"

http://tirto.id/di-balik-terpilihnya-presiden-singapura-perempuan-amp-melayu-cwyr

4.https://m.detik.com/news/internasional/3639221/halimah-yacob-jadi-presiden-singapura-tanpa-pemungutan-suara

5.http://internasional.kompas.com/read/2017/09/17/10231201/demokrasi-telah-mati-di-singapura-hingga-saya-tentang-pilpres-2017

Kalau saya membeberkan lebih banyak fakta ,Anda belum tentu bisa menerima karena perlu kedewasaan dan sikap ksatria untuk menerima kebenaran.

***

Fakta tentang trending topik dengan hastag #NotMyPresident yang melahirkan protes terkait terpilihnya Halimah adalah bukti nyata bahwa Singapura bukan Indonesia.

Singapura masih belajar terkait proses demokrasi dan bangsa kita sudah berulang kali menyelengggaran proses ini dengan berbagai harga dan kedewasaan yang kita pertaruhkan.Dan " Selamat " kita lulus walau dengan nilai-nilai yang baru kita lihat pada sikap anak bangsa.Tapi begitulah sebuah bangsa yang besar.

1.http://redwiretimes.com/kua-politics/protest-against-reserved-presidential-election-to-go-ahead-on-saturday/

2.http://www.straitstimes.com/politics/hundreds-take-part-in-silent-protest-against-reserved-election-at-hong-lim-park

3.https://mothership.sg/2017/09/hong-lim-park-to-protest-on-saturday-sept-16-2017-against-reserved-presidential-election/

Masih banyak kenyataan yang harus kita terimah sebelum tangan kita dengan lancang merobek harga diri bangsa yang besar ini.

Berbeda pendapat adalah suatu hal yang wajar.Yang tak wajar adalah menghina dan memaki-maki kebenaran bahkan coba menfitnah.

***

Jangan menilai kenyamanan langkah kita dengan sepatu orang lain.Saya paham bahwa negeri kita bukanlah dreamland tapi saya bangga sebagai anak bangsa berdarah Merah -Putih dengan segala permasalahan yang datang .

Kita adalah bangsa yang besar.Merendahkan bangsa sendiri dan memuji-muji bangsa lain tanpa memahami kultur dan masyarakatnya cermin bahwa kita butuh kursus kepribadian.

Selamanya Indonesia bukan Singapura .Dan selamanya kita adalah bangsa yang besar yang tidak akan berhenti belajar sebagai bangsa yang kuat dan percaya diri.Lantas,mengapa masih malu berbangga sebagai anak Merah-Putih?

Sumber:

Fb: Raidah Athirah

Post a Comment

0 Comments