I'm believe You God

(Prolog + part 1)

       Perkenalkan , namaku Karina Sabrina Salsabila Nur Aini. Aku terlahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahku adalah seorang kuli batu / kuli bangunan srawutan. Dan ibuku hanya pekerja musiman. Jika ada pekerjaan , ya ia terima dan dia kerjakan. Tapi jika tidak , ya.., dia hanya berada di rumah. Umurku sekarang adalah 16 tahun. Aku lahir pada 23 Februari 2001. Dan sekarang aku menempuh pendidikan di SMK Al-Tabrani , Magelang. Di sinilah aku belajar. Dan di sinilah pula di sekolah swasta ini aku berjuang untuk masa depanku.

"Ibu , aku berangkat dulu ya ," ucapku berpamitan kepada ibuku sambil bersaliman.
"Hati-hati ya nak. Belajarlah yang rajin ," pesan ibuku sebelum aku berangkat sekolah.
"Iya bu ," jawabku.

Aku pergi ke sekolah dengan sepeda ku. Yeah.., tidak baru sih. Tapi aku bersyukur masih punya sepeda ini untuk berangkat ke sekolah. Ku kayuh pedal sepeda ku yang butut itu dari perjalanan rumah ke sekolah. Suara nyanyian dari sepeda ku inilah yang menjadi musik pendamping selama aku di perjalanan. "Kreeyot.. kreeyot.. ." Tapak demi tapak jalan persawahan dan tanjakan berbatu ku lewati saat berangkat sekolah.

"Sabrina , aku duluan ya ," sapa salah seorang temanku dari balik kaca mobilnya.

Aku hanya menatapnya yang pergi ke sekolah dengan menaiki mobil. Tak sedikit pun aku punya hasrat untuk iri kepadanya. Karena ada sepeda ini pun aku sudah sangat bersyukur , karena masih banyak teman-teman yang sebaya dengan ku di luar sana yang berangkat dengan berjalan kaki. Bahkan mempertaruhkan nyawa nya dengan menyebrangi sungai dengan berjalan kaki hanya dengan satu maksud agar mereka bisa menuntut ilmu.
         Aku pun sampai di sekolah. Aku yang duduk di bangku tengah nomor tiga baris kedua itu mengikuti pelajaran seperti biasanya. Aku punya sahabat yang ku sayangi. Salah satunya adalah Salma. Dia juga teman sebangku ku. Disini.., aku orang yang paling aneh menurut teman-temanku. Segala kegiatan dan perilaku ku slalu di kritik oleh mereka. Yeah.., aku memang termasuk tipe orang yang pendiam , pemalu , dan terkesan rahasia. Ibu guru telah masuk ke ruang kelas ku.

"Anak-anak , hari ini kita akan belajar mengenai sejarah perjuangan pada masa lampau ," jelas bu guru.

Kami semua mengeluarkan buku pelajaran sejarah kami. Bu guru menerangkan bagaimana perjuangan R.A.Kartini dan Dewi Sartika dan beberapa wanita lain yang bergabung untuk mengubah derajat wanita di mata para kaum Adam. Mencerdaskan para wanita tanah air dan menunjukkan kepada dunia bahwa wanita itu tidak lemah. Mereka bisa mengerjakan apapun seperti yang dikerjakan para lelaki. Filosof tentang kehidupan para wanita itu ia tulis dalam buku karya R.A.Kartini yang berjudul "Habis gelap terbitlah terang". Tak sengaja aku melihat sosok yang lewat begitu cepat di depan bu guru yang sedang menjelaskan.

"Astaghfirullahal Adziim ," ucapku kaget.
"Kamu kenapa Sabrina ?" Tanya Salma.
"Nggak apa-apa. Aku nggak apa-apa kok ," jawabku.
"Ya udah kalau gitu. Aku kira kenapa tadi. Habisnya kamu kaget seperti itu ," lanjutnya.

Aku berusaha menenangkan diriku.

"Tadi itu apa ya ?" Pikir ku.

Aku berusaha melupakan sosok yang tadi baru saja lewat. Aku memfokuskan pikiran ku lagi pada penjelasan yang di berikan oleh bu guru. * I'm believe You God *

Part 2

      Bel istirahat telah berbunyi, semua siswa dam guru keluar dari kelas dan ruangan mereka hanya untuk sekedar makan atau pun minum. Hanya aku seorang yang tidak keluar kelas. Karena aku sudah membawa bekal sendiri. Beberapa potong singkong rebus dengan gula merah adalah bekal ku setiap hari. Kalian tahu ? Penghasilan ayah dan ibuku tidak menentu. Terkadang hanya cukup untuk makan saja. Dan kebutuhan membayar sekolahku slalu menunggak. Entah kenapa semua orang membenciku. Kalau pun peringkat dan kepandaianku ini yang menjadi penyebabnya, tapi ya nggak begini. Seharusnya mereka bisa belajar denganku dan berlomba meraihnya bersamaku. Bukan seperti ini caranya. Tapi semenjak aku pertama kali masuk ke sekolah ini, aku telah berprinsip.

"Disini aku bukan mencari musuh,  mencari perhatian supaya di segani, atau pun mencari masalah dengan mereka yang ada di sekolah. Kalau ada seseorang yang ingin menjadi temanku, silahkan. Aku menerima siapa pun menjadi temanku. Karena aku orangnya free. Tidak memandang derajat apapun. Dan aku disini untuk menuntut ilmu. Sekolah inilah yang menjadi jalan terakhir sementara bagiku untuk menggapai masa depanku. Mungkin setelah ini aku akan bekerja sambil kuliah. Jika Allah memberiku kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ku ." Prinsip inilah yang ku pegang sampai sekarang.
* I'm believe You God *

Part 3

        Waktu pelajaran selanjutnya pun telah berbunyi. Aku dan semua murid mengikuti pelajaran sampai akhir. Waktu pulang pun telah tiba. Aku pulang dengan mengendarai sepeda ku ini. Sesampainya di rumah.

"Assalamu'alaikum," ucapku sambil masuk ke kamar meletakkan tas sekolahku dan berganti baju.
"Sabrina, makan siang dulu sebelum pergi," panggil ibuku.
"Iya bu, sebentar lagi," jawabku.

Aku pun menuju ke dapur dan makan siang. Inilah makan siang ku hari ini. Sepiring nasi dengan tumis daun pepaya dan lauk tempe serta tahu. Begini pun aku sudah sangat bersyukur, karena bagaimana pun di luar sana masih banyak dari mereka yang kelaparan dan tidak bisa makan. Seperti biasanya, setelah pulang sekolah aku segera menuju ke kebun untuk membantu ayah disana.

"Ibu, aku ke kebun dulu ya. Assalamu'alaikum ," ucapku sambil mengambil sebuah caping yang tergantung di ujung dapur.
"Iya," sahut ibuku dari belakang rumah.

Aku berjalan menuju ke kebun. Karena kebunnya dekat dan tidak terlalu jauh, aku tidak pergi memakai sepeda namun berjalan kaki.

Part 4

      Di kebun.

"Ayah lagi nanam apa ?" Tanyaku.
"Palawija," jawabnya.
"Aku bantuin ya ?" Lanjutku.
"Iya. Ayo sini !" Suruh ayahku.

Aku yang memakai caping dan membawa rantang makan siang ayah berjalan menuju ke arahnya.

"Ayah, ini makan siangnya. Aku taruh disini ya ," ucapku meletakkan rantang itu.

Kemudian aku membantu ayah menanam palawija.

"Udah ! Ayah istirahat aja ! Makan siang dulu sana ! Biar aku aja yang nebarin biji-biji palawija ini ," ujarku kepada ayahku.
"Ya udah. Tebarin biji ini dari sini sampai ke sana ya ! Sampai seterusnya. Ayah makan siang dulu ," jelas ayahku.

Ayahku pergi menuju ke tempat rantang makanan yang ku letakkan tepat di bawah pohon mangga yang berbuah lebat dan rindang. Aku mengambil biji-bijian yang diletakkan ayah di tanah. Aku menabur biji demi biji itu seperti yang dianjurkan ayah. Saat tengah sibuk menabur biji itu tiba-tiba muncul wajah seorang lelaki yang rusak parah dari dalam tanah. Wajahnya retak dan hancur. Darah terus mengalir dari celah-celah retakan wajahnya. Sungguh tidak bisa di bayangkan. Betapa rusak parah dan hancurnya wajah itu. Sontak aku berteriak dan tanpa sengaja aku menjatuhkan wadah biji yang ku pegang.

"Aaaa... ," teriakku sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku.

Ayahku menepuk pundakku.

"Aaaa.. pergi.. pergi.. ," teriakku.
"Kenapa sih nak ? Ini ayah. Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu ?" Tanya nya.

Aku membuka mataku.

"Tidak ayah. Tidak ada apa-apa ," jawabku.
"Bener..?? Nggak apa-apa ?" Tanya nya lagi.

Aku mengangguk.

"Maaf ya yah. Karena teriakan Sabrina , ayah jadi berhenti makan ."
"Iya. Ya udah , ayah terusin makan nya ya. Bener kamu nggak apa-apa ?" Tanya ayah.
"Iya, nggak apa-apa kok ," sahutku.

Ayahku pergi meninggalkan ku untuk meneruskan makan siangnya. Aku kembali meneruskan menabur biji palawija yang masih tersisa dalam wadah.

"Astaghfirullahal Adziim ," ucapku sambil menabur biji. * I'm believe You God *

Part 5

"Sabrina.., Sabrina ," panggil Salma dan Faiza dari depan rumah.
"Ehh.., ada Salma sama Faiza ," sahut ibu yang keluar dari samping rumah.
"Assalamu'alaikum bu ," ucap Faiza.
"Wa'alaikumussalam ," jawab ibuku.
"Tante, Sabrina nya ada ?" Tanya Salma.
"Sabrina ke kebun. Barusan aja ," jelas ibu.
"Ya udah bu. Kita pamit mau nyusul Sabrina ke kebun ," lanjut Faiza.
"Assalamu'alaikum ," ucap mereka berdua bersamaan.
"Wa'alaikumussalam ," jawab ibuku sambil tersenyum.

Mereka menyusulku ke kebun dengan sepeda.

     Salma adalah salah satu temanku yang tidak memandang derajat. Dia anak orang kaya. Papa nya seorang pengusaha. Namun ia tidak malu berteman dengan ku yang hanya anak orang biasa. Dan Faiza adalah anak seorang ustadz di daerahku. Abinya slalu mengajarinya untuk tidak bermusuhan pada siapa pun. Karena semuanya di mata Allah itu sama derajatnya. Bagi Allah yang membedakannya adalah ketaqwaan dari orang itu. * I'm believe You God *

Part 6

       Mereka menyusul ku ke kebun dengan berboncengan. Meletakkan sepeda nya di dekat tempat duduk yang terbuat dari bambu yang ayahku pasang di bawah pohon jambu itu. Mereka mendekati ku yang tengah menabur biji-bijian di tengah kebun.

"Sabrina ," panggil Salma.

Aku menoleh ke arahnya yang dalam posisi membungkuk sedang menabur biji.

"Iya ," jawabku.

Aku menatap mereka yang datang dengan mengenakan topi di kepala nya.

"Boleh aku bantu ?" Tanya Faiza.
"Boleh ," sahutku.

Mereka mengambil biji-bijian yang ada pada ayah ku.

"Om, boleh minta biji nya buat di tabur ?" Ucap Salma.
"Iya. Ini ambil !" Sambil memberikan biji-bijian itu.
"Makasih ya paman ," sahut Faiza.

Kami pun menabur biji-bijian ini. Sambil asyik menabur, kami sekalian berbincang.

"Salma, Faiza. Kalian udah izin papa sama Abi kamu ke sini ?" Tanyaku kepada mereka berdua.
"Alhamdulillah, udah Na. Abi udah ngizinin ," jawab Faiza.
"Udah Sabrina ," lanjut Salma.
"Kamu di bolehin sama papa kamu nggak ?" Tanyaku lagi.
"Papa ngizinin kok ," jawab Salma.
"Ini kan panas sekali Salma. Nanti kulit kamu kalau terbakar gimana ? Terus nanti hitam lagi ," ucapku.
"Nggak apa-apa kali Na. Santai aja. Lagian kulit hitam apa salahnya sih ? Hitam itu kan eksotis ," ujarnya.
"Ya sudah kalau gitu. Ayo kita lanjutkan !" Ajakku.

Kami melanjutkan menabur biji. Hingga beberapa saat kemudian. Ayahku telah selesai makan siang. Ia menyuruh kami istirahat dan pekerjaan ini akan ia lanjutkan.

"Udah, kalian istirahat dulu sana ! Biar ayah yang nerusin ," suruhnya.

Kami menuju ke tempat duduk di bawah pohon jambu untuk beristirahat.

"Panas banget ya Na ," keluh Salma sambil berkipas menggunakan topi nya.
"Iya, ya. Gerah juga ," lanjut Faiza dengan keringat yang mengalir dari wajahnya.
"Kalian haus ?" Tanyaku.

Mereka mengangguk.

"Sebentar ya aku ambilkan minum dulu ."

Aku pergi menuju ke tempat aku meletakkan makan siang ayah.

"Ini, ayo di minum !" Aku memberi mereka secangkir air putih.
"Kamu nggak haus Na ?" Tanya Salma.
"Kebetulan belum haus. Nanti aja. Habis ini setelah kaluan. Kalian minum aja dulu ," ujarku sambil menatap mereka.

Saat enak-enak duduk dan berkipas dengan sebuah daun jati, ada sebuah kain putih panjang yang menghalangi pandanganku. Aku melihatnya dengan kening berkerut.

"Apaan sih ini ?" Gumamku.

Aku berusaha menyingkirkan nya namun kembali lagi. Kemudian aku menariknya dan berusaha menariknya. Salma menoleh ke arahku dengan memegang cangkir air minum. Dia bingung melihat gerakan tanganku, seperti menarik sesuatu tapi tidak ada benda yang di tarik.

"Sabrina..," panggilnya.
"Ehh.., iya," jawabku.
"Kamu lagi ngapain ? Apa yang kamu tarik ?" Tanya Salma.
"Nggak kok. Aku nggak lagi ngapa-ngapain ," jawabku.
"Itu tangan kamu ," ucapnya sambil menunjuk ke arah tanganku.

Aku segera menurunkan tanganku dan melepaskan tarikan ku.

"Oohh.. ini , aku lagi belajar akting. Bentar lagi kan materi kita ada praktik drama Musical. Nggak apa-apa kok. Hanya latihan. Hehehe..," ucapku dengan nada menyembunyikan.
"Oohh.. gitu ," ucap Salma.

Faiza memberi isyarat kepada Salma sebuah pertanyaan.

"Nggak tahu. Aneh banget ," bisik Salma kepada Faiza denfan suara pelan.

Faiza terus saja memandangku.

"Kenapa Za ?" Tanyaku.
"Nggak apa-apa kok ," jawabnya.
"Udah kalian terusin aja minum nya ," lanjutku.

Mereka meneruskan minumnya. Selagi mereka masih minum dan tidak menghiraukan apapun, aku menarik kain yang ada di depanku dengan keras. Hingga terdengar suatu benda jatuh di depan tempat duduk kami. "Brruuukk.." suara jatuhnya.

"Aduuhh..," ucap sesuatu yang jatuh itu sambil memegangi kaki dan sebuah kipas di tangannya.

Aku yang mendengar jelas suara itu segera menengok ke bwah tempat duduk.

"Awww.. ," ucapku sangat pelan sambil melihat ke benda tersebut.
"Heyy.. ada apa Na ?" Tanya Faiza sambil menepuk pundakku.
"Nggak apa-apa kok. Aku lagi nyari sandalku yang jatuh sebelah ," jawabku.
"Udah ketemu sandalnya ?" Tanya Salma.
"Udah kok. Ini ," jawabku sambil menunjukkan sandal yang ku pegang.

Mereka berdua tidak bisa melihat apa yang ku lihat. Karena aku seorang anak indigo yang memiliki penglihatan indera ketujuh yang jarang sekali di miliki orang lain. * I'm believe You God *

Part 7

       Salma memainkan ponselnya. Tiba-tiba ponselnya berdering karena ada panggilan masuk.

"Sebentar ya, ada telpon dari papa," ucapnya.

Aku dan Faiza hanya menengok dan menatapnya. Kemudian Salma turun dari tempat duduk dan mengangkat telpon.

"Halo. Iya, ya... aku pulang sekarang pa," jawabnya di telpon.

Ia kemudian mematikan ponselnya dan berpamitan padaku untuk pulang dan tidak lupa mengajak Faiza juga.

"Sabrina, aku pamit balik dulu ya. Soalnya papa udah nelpon nyuruh pulang. Lagian hari juga sudah sore," jelas Salma.

Faiza pun turun dari tempat duduk.

"Pulang sekarang, Ma ?" Tanya Faiza.
"Iya," jawabnya.
"Ya udah Na. Kita balik dulu ya," pamit Faiza.
"Om, kita pamit pulang duluan ya," lanjut Salma berpamitan kepada ayah.
"Iya.., ya. Makasih ya udah bantuin om sama Sabrina," sahut ayah dari tengah kebun.
"Kita pamit ya Na. Assalamu'alaikum," ucap mereka berdua.

Mereka lalu pergi dengan berboncengan. * I'm believe You God *

Part 8

       Aku turun dari tempat duduk dan mendekati sesuatu yang jatuh itu. Aku berdiri tepat di depannya yang jatuh dalam posisi duduk. Aku menatapnya.

"Ehh  malah ngeliatin. Ayo bantuin !" Pinta sesuatu itu.

Awalnya aku takut untuk menolongnya. Tapi aku mencoba berani. Aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.

"Ok. Karna kamu udah bangunin aku dari tidurku, terus pakai ngejatuhin aku juga. Sekarang kamu harus di hukum," ucapnya sambil berkipas dengan kipas yang di pegangnya.
"Di hukum ? Emangnya apa salahku ?" Tanyaku.
"Salahmu itu, kamu udah ngejatuhin aku saat tidur," jelasnya.
"Yeah..., itu kan bukan salahku. Itu udah jelas kesalahanmu sendiri," jawabku.
"Loh kok jadi aku yang jadi tersangkanya ?? Pokoknya kamu yang salah karna udah ngejatuhin aku," ucapnya.
"Kamu lah yang salah. Siapa suruh tidur di atas pohon jambu terus selendang pakaianmu tergelantung di depan wajahku. Ya, aku tarik aja. Karena selebdangmu itu udah ngehalangin pandanganku," jelasku padanya.

Ayahku yang melihatku berbicara sendiri kejauhan merasa kebingungan.

"Sabrina... nak," panggil ayah.
"Iya yah," jawabku.
"Kamu lagi ngobrol sama siapa ?" Tanya ayah.
"Nggak sama siapa-siapa kok yah. Hanya latihan dialog drama," sahutku.
"Latihan ?? Tapi kok aku ngerasa Sabrina ngobrol sama seseorang," gumam ayah.
"Ehh, udah salah masih ngelak lagi," ucap sosok itu.
"Emangnya kamu siapa sih ? Kok tidur di atas pohon," tanyaku.

Sosok itu mengulurjan tangannya untuk bersalaman.

"Kenalin aku Marissa Anggarecca. Jin noni Belanda paling cantik dan imut seantero dunia jin," ucapnya.
"Apa ? Jin ??"
"Iya, aku jin," lanjutnya sambil mengedipkan matanya.
"Nggak salah nih aku ngobrol sama jin ? Udah make up nya menor gitu, lebay lagi. Iihh... ," gumamku.
"Aku bisa denger loh yang kamu ucapin tadi. Apa ? Kamu bilang aku menor ?? Orang cantik gini di bilang menor. Udah Nggak usah banyak ngomong ! Sekarang kamu harus di hukum," ujarnya.
"Nggak mau. Enak aja di hukum. Orang aku nggak salah kok. Kamu nya sendiri yang salah, kenapa jadi aku yang  mau di hukum. Nggak ah. Sana hukum sendiri dirimu. Bye," sahutku yang pergi meninggalkan nya untuk pulang.
"Awas kamu ya. Pokoknya aku bakal datengin rumah kamu untuk ngehukum kamu," ucapnya sambil menepukkan kipasnya ke telapak tangan kiri nya.

Part 9

       Waktu menunjukkan waktu maghrib. Mega merah juga telah menampakkan wajahnya. Riuh panggilan adzan yang saut menyaut dimana-mana. Setelah mendengar adzan berkumandang, aku segera pergi mengambil air wudhu. Aku pun sholat maghrib. Selesai sholat seperti biasa aku tidak lupa untuk mengaji. Aku mengaji dengan tenang dan tanpa ragu untuk melantunkan setiap ayatnya. Setelah beberapa saat, aku pun selesai mengaji dan meletakkannya di atas meja yang ada di kamar. Saat aku hendak meletakkan mukena ku di tempatnya, aku melihat dari kaca almari seseorang telah berbaring di atas tempat tidurku. Aku terus memperhatikannya lewat kaca almari. Kemudian aku berbalik badan dan menatapnya. Sosok wanita yang mengenakan topi, bergaun putih dengan selendang nya yang panjang serta kipasnya yang tidak pernah ia lupakan. Sosok itu tersenyum kepada ku sambil berkipas.

"Haii..," sapanya sambil tersenyum.
"Lho kamu kok di sini? Dari mana kamu tahu rumahku?" Tanyaku bingung.
"Kan aku udah bilang. Aku bakalan dateng ke rumah kamu dan ngehukum kamu," jawabnya.
"Ya tahulah. Aku kan juga termasuk jin paling canggih dan modern di kalangan jin," lanjutnya.
"Modern? Bukannya noni Belanda itu masa lampau. Harusnya kamu udah nenek-nenek?" Ucapku sambil menatapnya.
"Enak aja aku di katain nenek-nenek. Orang masih muda cantik gini di bilang nenek-nenek," sahutnya dengan bibirnya agak monyong.
"Kalau kamu bukan nenek-nenek terus apa dong? Mahedong?" Tanyaku dengan agak meledeknya.
"Iihh... kok Mahedong sih. Panggil aku kak jin Marissa. Udah! Sebagai hukumannya kamu harus mijitin kaki ku. Ini, kaki ku sakit gara-gara kamu ngejatuhin aku tadi siang waktu tidur," suruhnya dengan alis agak berkerut.
"Nggak mau. Itu kan salah kamu sendiri," ujarku.
"Nggak bisa gitu dong. Ok, kalau gitu. Kalau kamu nggak mau aku akan ngerubah kamu jadi pembantuku agar kamu bisa membantuku setiap hari di dunia jin."
"Nggak mau ah. Enak aja main ngerubah orang jadi pembantu. Di dunia jin lagi," gerutuku.
"Kalau gitu gimana? Mau nggak?" Tanya nya dengan sedikit tersenyum.

Aku terdiam sejenak untuk berfikir.

"Gimana ya? Mau... gak... mau... gak...," pikir ku.

Akhirnya aku menyetujui untuk memijatnya.

"Ya udah deh, aku mau mijitin kamu," dengan nada terpaksa.

Aku mamijat kakinya yang tidur diatas tempat tidurku.

"Btw... pijitanmu enak juga ya. Lain kali pijitin lagi ya," ucapnya menyuruhku dengan seenaknya.
"Ini juga kalau bukan karna aku mau kau rubah jadi pembantu mu, aku nggak bakalan mau," ucapku dalam batin dengan kesal.

Beberapa saat kemudian.

"Sudah! Sudah cukup. Pijitanmu membuatku mengantuk. Aku mau pulang sekarang. Tidur. Aaakhkh..," ucapnya sambil menguap.

Kemudian ia pergi dan menghilang dari rumahku. Akhirnya aku bisa mengistirahatkan tanganku untuk sejenak. Setelah lelah memijatnya.

Part 10

      Setelah belajar biasanya aku berkumpul dan bercengkerama dengan semua orang. Kelihatanya semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aku keluar rumah dan duduk di teras rumah untuk mencari angin. Aku menatap ke langit ke arah bintang-bintang. Kebetulan cuaca hari ini sangat bagus. Sehingga milyaran bintang-bintang menampakkan senyumnya kepada ku. Abang ku menghampiriku yang tengah duduk di kursi teras rumah.

"Ngapain dek?" Tanya abang.
"Nyari angin bang," jawabku.
"Udah belajar belum?" Tanya nya lagi.
"Udah," sahutku.
"Baguslah kalau gitu. Jangan sampai nggak belajar ya dek. Kan kamu tahu sendiri kondisi ekonomi keluarga kita seperti apa. Abang aja dulu ada keinginan sekolah tinggi terus kuliah tapi nggak kesampaian. Kamu masih beruntung dek, bisa sekolah sampai SMK sekarang. Tapi abang yakin adik abang ini bisa sukses. Apapun kebutuhan sekolah kamu, abang akan coba ikut membantu keuangan ayah dan ibu kita," ucap abang sambil mengangkat wajahku.
"Iya abang. Bang Farid nggak perlu khawatir! Aku janji sama abang," sahutku sambil tersenyum.
"Ya udah, abang masuk dulu ya. Mau ambil air minum. Haus...," ucapnya lalu pergi masuk rumah meninggalkanku.

Aku duduk bersabdar pada kursi dan menatap sekeliling. Tak sengaja pandanganku tertuju pada sesosok berkulit merah yang memakai jubah hitam yang berdiri di pojok pepohonan depan rumahku. Sosok itu terus saja menatap ke arah ku yang duduk di teras. Karena aku penasaran sosok apa itu?, aku pun mendekatinya sambil bertanya padanya.

"Heeyy... siapa kamu?" Tanyaku sambil berteriak.

Namun sosok itu tidak menjawab dan malah pergi menghindariku. Aku mengejarnya. Bang Farid kembali ke teras depan rumah dan mendapatiku sudah tidak ada disana.

"Sabrina...," panggilnya.
"Lho, Sabrina kemana? Tadi kan dia di sini," ucapnya bingung.

=> Hemm.., kemana ya Sabrina? Ikuti kelanjutan kisahnya!

Part 11

       Aku terus mengejar dan mengejar sosok itu. Semakin aku kejar sosok itu, dia semakin berlari cepat seperti angin. Aku pun keletihan.

"Huftftf... kemana dia? Kenapa larinya cepat banget," ucapku sambil menarik nafas.

Dari kehauhan terdengar suara ayah dan bang Farid memanggilku. Seperti nya mereka mencariku.

"Sabrina... Sabrina...," panggilnya.

Aku mendekati mereka dan kembali. Bang Farid menyenterku dengan senter yang di bawanya.

"Aww... silau abang," ucapku sambil menutup mataku dengan kedua tanganku.
"Loh kamu kok di sini nak?" Tanya ayah.
"Iya, yah," jawabku.
"Kamu ngapain di sini, dek? Tadi abang tinggal kamu masuk ambil air minum terus balik lagi, ehh.. kamunya udah nggak ada," ujar bang Farid.
"Itu bang. Aku lagi ngejar sesuatu," jelasku.
"Ngejar? Ngejar apa, dek? Ini kan sudah malam," lanjut bang Farid.
"Nggak tahu bang. Tadi ada seseorang yang berdiri di pojokkan depan rumah kita. Dia pakai jubah hitam dan memperhatikan terus ke arah rumah kita bang," jelasku.
"Yang bener kamu, Sabrina?" Tanya ayah.
"Iya, yah. Aku nggak bohong," jawabku.
"Kamu jangan yang aneh-aneh deh, dek! Ini kan sudah malam. Bikin orang merinding saja," sahut bang Farid.
"Bener bang. Sabrina nggak salah lihat kok. Tadi itu bener-bener ada seseorang di pojokkan depan rumah kita. Sabrina lihat pakai mata kepala Sabrina sendiri," ujarku.

Ayah dan bang Farid menyenter semua tempat dan ke semua arah.

"Mana? Nggak ada, dek?" Tanya bang Farid.
"Tadi ada bang," jawabku.
"Udah-udah. Ayo kita kembali dan masuk rumah. Mungkin kamu hanya berhalusinasi saja, nak," ucap ayah.
"Kenapa sih mereka nggak mau percaya sama aku," ucapku dalam batin.

Aku, ayah, dan bang Farid kembali ke rumah bersama. *

Part 12

      Keesokan harinya. Aku mempersiapkab diri untuk berangkat ke sekolah. Mengambil tas ranselku dan memakainya di punggung ku. Kemudian aku pun berangkat menggunakan sepeda. Seperti biasa aku melewati jalan utama menuju ke sekolah. Saat di tengah perjalanan sepeda ku terhenti karena sebuah papan yang terpasang di tengah jalan yang bertuliskan "Maaf jalan rusak dan masih dalam perbaikan."

" Yeah... jalannya rusak lagi. Padahal ini kan jalan utama menuju sekolah dan sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi. Terpaksa ni harus cari jalan pintas," ucapku.

Aku memutar balik arah sepeda ku dan mengayuhnya kembali mencari jalan pintas. Akhirnya aku sampai pada sebuah jembatan yang merupakan satu-satunya jalan pintas di seberang menuju ke sekolah. Aku mencoba melewati jembatan itu dengan hati-hati. Namun saat berada di seperempat langkah di jembatan, tiba-tiba jembatan yang semula kuat dan tidak bergerak menjadi lentur. Naik turun naik turun, seperti ada yang memainkannya. Tak hanya itu terdengar juga suara tawa seseorang yang begitu ramai. "Hahahaha... ." Aku berhenti dan turun dari sepeda. Suara tersebut semakin jelas dan lenturan jembatan yang di permainkan semakin terasa. "Hahahaha... hahahaha... ." Kebetulan jembatan ini sangat sepi dan jarang di lalui orang. Karena mereka lebih memilih melewati jalan utama yang ada di depan sana. Suara seseorang dengan langkah kakinya terdengar dalam hentakan setiap bagian jembatan. "Tekk... tekk... teekkk.... ." "Kreetekk... tekk... kreeteekkk... teekkk... ." "Hahahaha... ." Hembusan angin sungai yang semakin membuat suasana saat ini geram.

"Siapa kamu?" Tanyaku.

Mereka tidak menjawab dan terus tertawa. "Hahahaha... ." Angin berhembus semakin kencang hingga mengenai helai per helai rambutku.

"Berhenti!" Suruhku.

Namun mereka malah berlalu-lalang di depanku seperti angin. "Tekkk... tekk... tekk... sreettt... tekk... tekk... ." Berulang-ulang mereka melewatiku.

"Astaghfirullahal Adziim," ucapku.
"Hahahaha...," tawa mereka terus saja terdengar.
"Biarkan aku lewat. Berhenti memainkan jembatan ini! Kalau kalian memang berani, ayo tampakkan wujud kalian," tantangku.

Seketika satu per satu dari mereka menampakkan wujudnya. "Dleep... dleep... dleep... ." Sesosok makhluk berperawakan anak-anak, berkulit belang dan beberapa dari mereka ada yang bertanduk. Aku terkejut melihat mereka. Sosok yang belum pernah ku lihat sebelumnya.

"Hahhh..," ucapku kaget.

Mereka saling bertatap satu dengan yang lain.

"Kenapa kalian menghalangi perjalananku?" Tanyaku.

Mereka menatapku dengan tatapan bingung.

"Kenapa kau bisa melihat kami?" Tanya mereka balik.
"Iya, aku bisa melihat makhluk sejenis kalian," jawabku.
"Lalu, kenapa kalian menghalangiku?" Lanjutku.
"Tidak. Kami tidak menghalangimu. Ini tempat bermain kami. Dan kami di sini hanya bermain," ucap salah satu dari mereka yang berada di ujung kanan jembatan.
"Kalau gitu biarkan aku lewat. Karena aku sudah terlambat ke sekolah," jelasku.
"Tidak. Kau tidak bisa melewati jembatan ini tanpa memberi sesuatu kepada kami," sahut salah seorang dari mereka yang berada di ujung kiri jembatan.
"Apa yang kalian mau?" Tanyaku.
"Sesuatu dari dunia manusia," sahut mereka.
"Apa ya? Aku nggak bawa apa-apa lagi. Mana udah terlambat juga," pikurku.
"Ada?" Tanya mereka.

Aku memasukkan tanganku ke saku baju. Namun tidak ku temukan apapun, hanya ada uang saku ku. Kemudian aku merogoh saku tas ku. Dan di saku tas ini masih tersisa beberapa bungkus permen yang ku beli kemarin. Selanjutnya aku beri permen-permen itu kepada mereka.

"Aku hanya punya beberapa permen ini. Ini...," menunjukkan permen yang ku bawa.
"Apa itu?" Tanya mereka penasaran.
"Ini makanan dari dunia manusia. Namanya permen. Kalian mau?" Tanya ku.

Mereka mengambil permen-permen yang ku bawa itu.

"Gimana? Sekarang aku boleh lewat?" Tanya ku lagi.
"Ya sudah. Pergi sana! Lain kali kalau lewat di sini bawakan kami sesuatu," pesan mereka saat aku hendak pergi.

Aku mengayuh pedal sepeda ku dengan kencang, karena aku sedang berlomba mengejar waktu menuju sekolah
Sekarang pun mungkin aku sudah terlambat.

Part 13

      Aku sampai di sekolah dan gerbang sekolah hendak di tutup oleh satpam. Menghentikan sepedaku.

"Ehh... ehh... tunggu, pak. Jangan di tutup dulu gerbangnya!" Pintaku.
"Tapi ini sudah lewat lima menit. Dan kamu sudah terlambat," ujar pak satpam.
"Iya, saya tahu pak. Maaf pak," sahutku.
"Ya sudah kali ini bapak maafkan kamu. Tapi lain kali jangan terlambat. Kalau kamu terlambat lagi bapak nggak akan bukain gerbangnya," lanjut pak satpam.
"Iya...ya, pak. Saya janji nggak akan terlambat lagi," janjiku.

Kemudian aku masuk ke halaman sekolah dengan menuntun sepedaku. Aku meletakkan sepedaku di parkiran sekolah lalu berlari menuju ke rusng kelas. Saat  hendak menuju ke kelas, kepala sekolah memanggilku.

"Sabrina... Sabrina... tunggu!" Panggil pak kepala sekolah.
"Iya, pak," jawabku.
"Ayo ikut bapak ke kantor!" Ajaknya.

Aku mengikuti kepala sekolah menuju ke ruangannya. Dia masuk dan duduk di kursi nya. Sedangkan aku baru sampai di depan pintu ruangannya.

"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumussalam," jawab pak kepala sekolah.
"Boleh saya masuk, pak?" Tanyaku.
"Silahkan," sahut pak kepala sekolah.

Aku pun masuk.

"Ada apa ya, pak?  Kenapa bapak memanggil saya ke sini?" Tanyaku.
"Tadi kan kamu terlambat, untuk itu kamu harus di kenai sanksi," jelasnya.
"Iya, pak. Sanksi nya apa, pak? Karena ini memang kesalahan saya. Saya sudah terlambat," ucapku.

Kepala sekolah hendak memberitahuku sanksi nya. Namun justru pandanganku teralihkan ke arah sosok berperawakan besar, tinggi, berbulu, hitam kecokelat-cokelatan, dan mempunyai dua taring yang panjang dan runcing yang sejak aku masuk sudah ada dan berdiri di samping kiri tempat duduk kepala sekolah.

"Jadi, sanksi kamu adalah kamu harus bersihkan halaman depan sekolah dari ruangan ini sampai kelas kamu," jelas kepala sekolah.

Tak sedikit pun aku menghiraukan ucapan kepala sekolah. Karena pandangan ku tetap tertuju pada sesosok itu. Kepala sekolah yang melihatku dalam kondisi fikiran kosong segera menyadarkanku.

"Sabrina... ehh... Sabrina," panggil pak kepala sekolah.
"Ehh.., iya pak," sahutku kaget.
"Kamu dengar nggak sih yang saya ucapkan?" Tanya kepala sekolah.
"Dengar pak," jawabku.
"Pak, saya boleh jujur dan bilang sesuatu nggak? Tapi bapak jangan takut ya!" Lanjutku.
"Memangnya ada apa sih, Sabrina? Kok bapak harus takut. In syaa Allah bapak nggak takut," tanya kepala sekolah penasaran.
"Di kiri bapak ada sesuatu," jawabku.
"Sesuatu apa?" Tanya pak kepala sekolah semakin penasaran.
"Ada... sosok tinggi, besar, berbulu, berwarna hitam kecokelatan, dan ada taringnya yang panjang dan runcing," jelasku.
"Hahhh," ucap pak kepala sekolah kaget.
"Tapi jangan takut, pak! Dia nggak akan ngeganggu selama tidak ada yang mengganggu dan mengusiknya. Sementara ini dia tidak mengganggu, tapi dia juga bisa ganas sekali," lanjutku.
"Kamu beneran , Na? Ya udah. Bapak tidak akan mengusiknya," ucap Kepala sekolah.

Aku mengangguk. Kemudian aku pamit keluar ruangan untuk menjalankan sanksi ku.

"Ya sudah, pak. Saya pamit menjalankan sanksi dulu ya. Assalamu'alaikum," ujarku.
"Wa'alaikumussalam," jawab pak kepala sekolah.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan keluar dari ruangan kepala sekolah.

Part 14

      Aku menuju ke gudang sekolah untuk mengambil alat kebersihan. Kemudian aku membawa alat-alat itu ke halaman. Meletakkan tas ranselku di pondasi halaman yang di jadikan tempat duduk. Aku memulai sanksiku ini dengan menyapu seluruh halaman depan sekolah mulai dari dpan ruangan kepala sekolah sampai ke depan ruang kelasku seperti yang di perintahkan kepala sekolah. Rima, Yuli, dan Fay keluar dari kelas dengan maksud untuk bermain. Aku yang melihat mereka sengaja mencari kesempatan untuk keluar berusaha mengingatkan mereka.

"Lho kalian mau kemana? Bukannya sekarang masih jam pelajaran pertama dan kedua," tanyaku.
"Ehh... ada OB baru nihh. Upss... maksudnya OG (office girl)," ucap Fay menghinaku.
"OG, bersihin juga nihh! Hahahahh," lanjut Rima.

Mereka mengotori lagi lantai halaman depan yang telah ku bersihkan.

"Ada murid OG baru nihh. Hahahahh... ngomong-ngomong pantes juga lo jadi OG. Lo kan miskin," sahut Yuli ketus mengejekku.
"Kenapa kalian kotori lantainya lagi?" Tanyaku.
"Ehh... OG nggak usah pakai nanya. Bersihin cepet nihh!" Suruhnya dengan dekapan tangannya.
"Kalian mau kemana? Kalian harus masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran," ujarku mengingatkan mereka.
"Lo nggak usah ikut campur deh! Terserah kita lah mau ngapain. Urusin aja tuh kerjaan lo," ucap Fay dengan angkuh.
"Iya nih. Dasar OG," sambung Rima.
"Yuk , Guys! Kita pergi dari sini! Biarin nih OG kerja. Hahahh," ajak Fay tertawa jahat.

Aku membersihkan kembali lantainya karena mereka telah mengotorinya. Setelah menyapu aku mengepelnya. Satu ember bak air dan sebuah satu sapu pel telah ku siapkan. Aku pun mengepel bagian per bagian lantai halamannya. Setelah beberapa saar mengepel dan hampir selesai, Fay dan kawan-kawannya kembali untuk masuk ke kelas. Mereka sengaja menendang ember bak air pel ku hingga tumpah. Namun naas, ember bak tersebut justru melayang dan mengenai kepaka guru BK kami. Pak Sam, guru BK kami sangat marah.

"Ini kenapa tiba-tiba gelap seperti ini," ucap pak Sam dengan sebuah ember bak yang masuk ke kepala dan menutupi wajahnya.

Aku terkejut saat ember bak itu mengenai pak Sam.

"Hahh! Astaghfirullah, pak Sam," ucapku kaget.

Aku menuju ke arah pak Sam untuk membantu nya membuka ember bak yang masuk ke kepalanya. Sedangkan Fay, Rima, dan Yuli berlari menuju ke kelas untuk bersembunyi.

"Sini, pak. Saya bantu," ucapku menawarkan bantuan.

Aku melepas ember bak tersebut. Pak Sam yang melihatku memegang sapu pel langsung memarahiku.

"Oohh... jadi kamu yang ngelemparin ember bak ini sampai masuk ke kepala bapak," tuduhnya.
"Bukan, pak. Bukan saya," sahutku.
"Terus siapa lagi kalau bukan kamu? Kamu kan yang ngepel lantai inj?" Tanyanya.
"Memang benar saya yang ngepel, tapi bukan saya yang nendang, pak," jawabku.
"Jujur! Siapa yang nendang ember bak ini sampai kena kepala saya?" Tanya nya lagi dengan nada tinggi.
"Fay, Rima, sama Yuli, pak," jawabku.
"Jadi mereka biang kerok semua ini. Fay...," teriak pak Sam dengan amarah yang memuncak.

Pak Sam segera menuju je kelas untuk menghukum mereka. Dan aku menyelesaikan sanksi ku ini.

Part 15

        Di kelas.

"Fay... Rima... Yuli..., dimana kalian?" Teriak pak Sam.

Rima, Fay, dan Yuli bersembunyi di bawah kolong meja para murid. Sebelumnya.

"Ehh... kalian semua diem ya! Kalau pak Sam nanya kemana kita," ujarnya dengan nada acuh.
"Iya. Kalau kalian sampai bocorin dimana kita. Lo... lo... semua gue bogem entar. Mau lo?" Ancam Fay.

Mereka semua tidak berkutik saat pak Sam masuk kelas dengan amarah yang memuncak.

"Anak-anak kalian lihat Fay, Rima, sama Yuli? Kalau dari kalian ada yang nyembunyiin mereka, bapak nggak segan-segan menghukum kalian," ucap Pak Sam marah.

Semua murid menggelengkan kepalanya dan tidak berani berucap sepatah kata pun. Pak Sam berkeliling dari bangku paling belakang sampai ke bangku paling depan untuk mencari mereka.

"Mereka pasti bersembunyi disini," gumam pak Sam.

Saat ia berkeliling bangku per bangku murid, ia melihat ada enam sepatu di bawah kolong meja. Seharusnya setiap bangku di duduki oleh dua orang. Nah ini, ada tiga pasang sepatu di kolong meja. Pak Sam mendekati tiga bangku itu. Ia lalu menarik sepasang sepatu yang sejajar di kolong meja.

"Nahh... ketahuan kalian sekarang. Ayo keluar!" Perintah pak Sam.

Mereka bertiga pun keluar dari kolong meja.

"Ayo, sekarang ikut saya keluar!" Ajak pak Sam sambil menjewer telinga mereka.
"Ampun, pak," pinta mereka.
"Sebagai hukumannya karena ulah kalian tadi bapak jadi basah kuyup seperti ini. Kalian harus bersihin toilet sampai bersih," ucap pak Sam.
"Apa? Bersihin toilet?" Sahut Yuli.
"Nggak-nggak, pak. Nggak mau ah. Orang udah wangi-wangi gini masa disuruh bersihin toilet sih," sambung Fay.
"Ya udah. Kalian pilih mana? Bersihin toilet sampai bersih atau berdiri dibawah tiang bendera sampai waktunya pulang sekolah?" Ujar pak Sam memberi penawaran.
"Ta sudah... ya sudah. Iya, bersihin toilet," jawab Rima terpaksa.
"Iihh... bapak. Masa bersihin toilet sih. Kan, bau," gerutu Fay.
"Mau? Kerjakan sekarang!" Perintah pak Sam dengan nada tegas.

Mereka pergi menuju toilet untuk membersihkannya.

Part 16

       Mereka menuju ke toilet. Sesampainya di toilet. Melihat kerak-kerak toilet yang begitu membandel serta bau tak sedap yang begitu menyengat.

"Iihh... bau," ucap Rina.
"Mana keraknya membandel kaya gitu. Hi... hi... hi...," lanjut Yuli merasa geli.
"Rasanya gue pengen muntah. Hook... huwekk...," ujar Fay sambil menutup hidupnya.

Mereka mengambil sikat, alat pel, pembersih lantai dan pembersih closet. Mereka berusaha menghilangkan kerak-kerak kotoran di toilet dengan menggosoknya.

"Hi... hi... iihh..., pak Sam tega banget nyuruh kita bersihin toilet. Huwekk...," ucap Fay dengan manyun sambil terus menggosok.
"Ini juga salah lo, Fay," sahut Yuli menyalahkan Fay.
"Iya. Coba aja tadi lo nggak nendang ember bak itu, pasti kita nggak akan disuruh bersihin kaya gini," lanjut Rima dengan sedikit marah.
"Eehh... lo... lo... pada denger ya. Emangnya gue mau apa bersihin kaya gini. Dan soal ember bak itu, mana gue tahu kalau pak Sam akan lewat waktu itu. Mana kemarin gue baru aja dari salon. Sekarang malah disuruh kaya gini," jelas Fay kesal.
"Pokoknya ini salah lo, Fay," ucap Rima dan Yuli menggerutu sambil menatap ke arah Fay.
"Udah lah. Kalian jangan nyalahin gue terus. Nggak ada gunanya juga kali. Lagian ini juga udah terjadi," sambung Fay.

Mereka melakukan itu dengan keterpaksaan atas perbuatannya sendiri. Saat Yuli hendak mengambil beberapa percikan air untum membasahi lantai toilet supaya mudah dibersihkan, tiba-tiba ember airnya bergerak dengan sendirinya.

"Hahh!" Ucap Yuli tercengang.

Ia berusaha mengambil air namun ember itu menggeser dengan sendirinya seperti ada yang menggesernya.

"Lho kok geser sendiri embernya??" Gumamnya bingung.

Semakin ia ingin menggapai embernya, semakin jauh juga ember itu bergerak menggeser. Di halaman depan.

"Alhamdulillah, selesai juga akhirnya," ucapku bersyukur.

Aku menuju ke gudang untuk mengembalikan peralatan kebersihan. Kemudian aku menuju ke toilet untuk mencuci tangan. Rima mengambil alat pel yang ada di samping toilet. Saat hendak di pegangnya, alat pel itu justru terbang sendiri kesana kemari. Sontak ia berteriak tatkala melihat hal supranatural yang terjadi di toilet.

"Aaaa... Aaaa...," teriak Rima.

Yuli pun mendekatinya.

"Kenapa, Ma?" Tanya Yuli.
"I... i... itu," jawabnya dengan terbata-bata serta memalingkan wajah dan menunjuk ke arah alat pel yang terbang tersebut.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Alat pel nya tetap disitu. Sekarang buka deh matamu!" Saran Yuli.

Rima membuka pelan-pelan matanya. Dan dia melihat alat pel nya tidak bergerak dan tetap pada tempatnya.

"Tadi alat pel nya terbang, Yul," jelas Rima.
"Terbang? Orang alat pel nya disitu aja kok dari tadi," sahut Yuli.
"Udah. Kalian itu banyak menghayal. Ayo lanjutin!" Suruh Fay.

Mereka melanjutkan pekerjaannya. Fay yang sibuk membersihkan kerak yang ada di bak air merasa ada yang mencoleknya.

"Iihh... apaan sih? Apa lagi?" Tanyanya.
"Maksud kamu?" Tanya Rima bingung.

Beberapa kali ada sesuatu yang mencoleknya.

"Udah deh. Jangan colek-colek gue terus napa. Urusin aja noh kerjaan kalian," ucap Fay yang mulai merasa kesal.
"Apaan sih, Fay. Orang kita dari tadi disini. Bersihin ini nggak hilang-hilang," jawab Yuli.
"Jangan belagak pilon deh! Gue bilang berhenti ya berhenti. Atau kalia akan terima akibatnya," jelas Fay.

Sesuatu yang tidak terlihat itu menarik kerudung Fay. Ia pun menherit kesakitan karena kerudungnya hampir saja mencekiknya.

"Aaaaa...," teriak Fay.

Aku yang mendengar teriakan seseorang dari dalam toilet segera mendekatinya.

"Lho kalian nggak apa-apa?" Tanyaku.
"Ngapain sih lo kesini? Bikin orang bete aja," ujar Yuli sebal.
"Iya nih. Ini semua tuh gara-gara elo,"  sambung Fay.
"Aku kesini mau cuci tangan. Dan aku juga baru dateng. Emangnya ada apa sih?" Tanyaku.
"Lo seneng kan lihat kita di hukum seperti ini,' ucap Rima dengan emosi.

Sesuatu itu menarik kerudung Fat berkali-kali hingga membuatnya marah dan menghentikan pekerjaannya. Berjalan ke arahku.

"Ini pasti kerjaan lo kan? Pakai narik-narik kerudung gue lagi. Pasti lo mau balas dendam kan sama gue?" Ujar Fay dengan nada tinggi sambil mendorongku.
"Siapa juga yang mau balas dendam. Orang aku dari tadi disini. Tanya aja sama mereka," jelasku sambil menunjuk ke arah Rima dan Yuli.
"Iya, Fay. Dia tadi disini," sahut Yuli.
"Lho kalian kok jadi belain dia sih," ucap Fay kesal.
"Bukannya belain dia, Fay. Tapi emang bener dia dari tadi disini," sambung Rima.

Berkali-kali sesuatu yang tak nampak itu menarik kerudung mereka bertiga. Aku hanya diam menatap sosok tersebut. Saat sosok itu hendak menggoda mereka dengan main tangan, aku pun menahan tangannya. Mereka bertiga tercengang melihat perilaku anehku. Tanganku menahan sesuatu namun tidak ada yang di tahan. Beberapa yang lain dari sosok itu terus mengganggu mereka hingga mereka lari terbirit-birit.

"Jangan ganggu orang-orang yang ada di toilet! Kalian boleh tinggal dan tetap disini. Asalkan jangan mengganggu orang. Kalian dan kami itu sama. Sama-sama makhluk Allah. Jadi, jangan pernah lagi mengganggu orang yang lagi di toilet," pintaku yang berusaha berkomunikasi dengan mereka.
"Mereka bertiga telah mengucapkan hal yang tidak sopan disini. Jadi itu menjadi hak kami untuk mengganggu mereka," jawabnya.
"Lain kali kalian jangan mengganggu," pesanku.

Mereka bersedia untuk tidak menganggu. Aku pun mencuci tanganku dan segera keluar dari toilet menuju kelas untuk mengikuti pelajaran.

Penulis : Ukhty Uhibbukal Ummah

Sumber:

Fb: Ukhty Uhibbukal Ummah

Post a Comment

0 Comments