Hukum Seputar Nifas

Soal :
1. Begini. ada yang tanya perihal :

seorg akhwat itu nifas di bulan ramadhan, jadi selama 30 hari full tidak puasa. nah utk menggantinya harus dgn puasa lagi, atau fidyah..atau boleh puasa dan fidyah?

2. Saya pernah mendengar penjelasan jika kita tertinggal waktu shalat sedangkan saat itu 'diduga' darah haidh telah berhenti (selesai) tapi si wanita baru mengetahui setelah waktu shalat berikutnya.maka 1x waktu shalat yg tertinggal tersebut harus diqadha. Apakah benar demikian?

Jika benar maka saat hari-hari terakhir haidh (ssuai kebiasaan) maka tiap masuj waktu shalat kami harus mengganti/mengecek drah haidh?

Sedangkan sy pernah mendengar bhw waktu menunggu haidh sudah berhenti atau belum adl sehari.

Mohon penjelasannya

Jawab :

Darah Nifas adalah darah yang keluar pasca proses melahirkan. Baik yang dilahirkan dalam keadaan hidup, atau kondisi wafat. Lama Nifas biasanya paling sedikit ialah lahdzoh(sesaat saja), dan yang paling lama ialah 60 hari. Namun, umumnya nifas selama 40 hari. Dan inilah yang diambil oleh jumhur ulama sebagai waktu paling lama bagi nifas. Dalil mereka ialah :

"Dahulu para perempuan yang bernifas pada zaman Rasulullâh shallallaahu alayhi wasallam  tetap berada dalam keadaan nifas selama 40 hari" (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan okeh Al Hakim) (Kifâyatul Akhyâr, Kitâb at-Thoharoh, hal. 79)

Bagi perempuan yang nifas di bulan Ramadlan, dan selama 30 hari penuh ia tidak berpuasa, maka wajib baginya mengqadla shaumnya sebanyak hari yang ia tinggalkan. Berdasarkan dalil -yang pernah kami sampaikan di soal jawab 4- , Ibunda Aisyah r.ha berkata :

"Kami dahulu diperintahkan untuk mengqadla shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadla sholat".*(HR. Muslim)

Adapun fidyah, hal itu merupakan rukhshah bagi mereka yang memang berat dan tidak dimungkinkan lagi untuk mengqadla shaum di hari hari selanjutnya. Berdasarkan ayat :

“Dan orang-orang yang tidak mampu berpuasa hendaknya membayar fidyah, dengan memberi makan seorang miskin”. *(QS. Al-Baqarah[2] : 184)*

Namun para Ulama memasukkan kedalam kategori ini, ibu hamil dan menyusui -selain orang orang yang tua renta atau sakit keras- yang dapat membayar fidyah dengan memberi makan satu orang miskin(sebanyak jumlah hari yang batal shaum). Namun, ketentuan ibu hamil dan menyusui dapat fidyah dan tidak mesti qadla ini,  jika ia dalam keadaan khawatir dengan kondisi si janin bayi. Dalam hal ini, dilihat dari sisi keselamatan si janin. Dan akan tiba penjelasannya.

Adapun pertanyaan kedua, maka hendaknya seorang perempuan menentukan ia telah suci atau masih dalam keadaan haidl adalah dengan keyakinan, tidak berdasarkan dzan(dugaan). Maka dari itu, setelah selesai darah haidl berhenti, pastikanlah akan habis tidaknya darah dari farji(kemaluan). Imam Nawawi menuturkan :

"Ciri telah berhentinya darah haidl dan adanya kesucian ialah : dengan berhentinya dan mengering dari keluarnya darah, serta keluarnya flek kekuningan dan kecoklatan. Dan jika telah berhenti(terjadi demikian) maka ia telah suci baik itu adanya cairah putih yang keluar ataupun tidak"._ *(Al Majmû Syarh Al Muhadzdzab, 2/562)*

Maka untuk memastikan apakah sudah muncul safrah dan kidrah dapat dilakukan dengan meletakkan kapas atau kain di farji(kemaluan) setelah berhenti darah haidl. *(Al Mughni, hal. 400-415)*.

Disinilah terjadi khilaf di kalangan ahli ilmu. Sebagian berpendapat bahwa dalam menunggu waktu munculnya darah putih, waktu itu dianggap sebagai suci. Sehingga wajib atasnya untuk langsung menunaikan sholat. Dan sebagiannya lagi menganggap bahwa masa itu adalah masa dimana ditunggu sampai satu hari, berdasarkan hadits dari ibunda 'Aisyah manakala ia ditanya segerombolan wanita yang membawa kapas dengan flek kekuningan dari bekas haidl : _"Janganlah kalian terburu-buru hingga muncul cairan kental putih"._  *(HR. Bukhari)*

Ini jugalah pendapat jumhur, bahwasanya waktu menunggu sampai suci adalah sehari/setengah hari. Dan tidak ada kewajiban qadla sholat pada saat itu(masih terkategori sebagai haidl). Dan jika memang telah yakin ia telah bersih, maka saat yakin itulah dihitung sholat mulai dijalankan. Jika ia menemukan bahwa ia suci pada saat ashar, maka ia sholat ashar dan mengqadla sholat dzuhur. Jika ia suci pada saat masuk sholat Isya, maka ia sholat Isya dan mengqadla sholat maghrib. Itulah pendapat jumhur ulama, menentukan waktu bahwa sholat dzuhur-ashar dan maghrib-isya dengan satu waktu. *(Ibn Qudamah, Al Mughni, 1/238)*. In Sya Allaah akan kami jelaskan dengan lebih terperinci di pembahasan seputar haidl. Wallaahu a'lam.

Sumber:

Fb: Muhammad Rivaldy

Post a Comment

0 Comments