Hijrah Menuju Darul Islam, Bukan Darus Salam

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah,
Salah satu peristiwa fenomenal yang menjadikan Umar bin Khattab menetapkan awal tahun hijriyah terhitung semenjak hijrah nabi, adalah momen hijrah nabi ke Madinah. Ada yang berbeda dari hijrah ummat Islam ke MAdinah dengan hijrah mereka sebelumnya ke negeri Habsyah. Hijrah kali ini bukan sekedar demi menyelamatkan nyawa kaum muslimin, atau sekedar mencari tempat yang aman bagi kehidupan kaum muslimin dan dakwahnya. Tapi hijrah yang didahului dengan Bai’at ‘Aqabah kedua ini merupakan hijrah rasulullah SAW dan kaum muslimin untuk mendirikan Darul Islam.

Apa itu Darul Islam?
Darul Islam adalah istilah syar’i dalam tsaqafah (khazanah keilmuan) Islam. Istilah Darul Islam biasa dipakai dalam kitab-kitab klasik karya para ulama salafus shalih dalam pembahasan sirah atau tarikh (sejarah). Begitu pula dalam pembahasan fiqh yang terkait pemerintahan. Istilah Darul Islam juga banyak disebutkan dalam kitab-kitab Mu’jam atau kamus yang disusun oleh para ulama.

Darul Islam terdiri dari dua kata; Daar dan Al-Islam. ‘Daar’ , secara bahasa bermakna al-arshah (halaman rumah), al-bina’ (bangunan rumah), al-mahallah (distrik atau wilayah). Oleh karena itu, setiap tempat yang didiami oleh suatu kaum disebut daar (negeri atau wilayah) mereka [Lihat Lisan al-‘Arab juz IV hlm 298 karya Ibnu Mandzur]

Masih di dalam kitab yang sama, makna ‘daar’ secara istilah syar’i bisa berkonotasi kabilah, bisa berkonotasi balad (negeri atau wilayah). Namun konotasi tersebut telah dikonversi oleh Pembuat Syariat ketika menggunakan kata ‘daar’ dalam konteks : ‘daar al-Islam’, ‘daar al-kufr’, ‘daar al-harb’. Ini bisa kita lihat di beberapa hadits nabi, salah satunya disebutkan :

Daar Islam telah melindungi (rakyatnya) apa saja (darah, harta, dan kehormatan mereka) yang ada di dalamnya; sementara Dar Syirk telah menjadikan apa saja (milik rakyatnya)yang ada di dalamnya menjadi halal. (HR al-Mâwardi dalam al-Ahkam as-Sulthaniyyah).

Para fuqaha kemudian membuat definisi Daar al-Islam. Madzhab Syafii, sebagaimana dikemukakan oleh ar-Ramli menyebut ‘Daar al-Islam jika penduduknya mampu melindungi diri dari serangn musuh [Nihayah al-Muhtaj ala Syarhi Minhaj]. Sedangkan menurut madzhab Hanafi, Daar al-Kufr bisa menjadi Daar al-Islam jika hukum Islam berkuasa di negeri tersebut. [Al-Kassani, Badai’u ash-Shana’i. Sedangkan menurut madzhab Hanbali seperti yang dinyatakan Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkam Ahl adz-Dzimmah menyebut Daar al-Islam jika negeri tersebut didiami kaum muslimin dan hukum-hukum Islam diterapkan disana.

Dari batasan-batasan yang dikemukakan oleh para fuqaha tersebut, bisa disimpulkan bahwa status ‘Daar al-Islam’ dapat dikembalikan kepada dua hal;
1. Penerapan hukum Islam
2. Kekuatan Islam yang melindungu negeri dan penduduknya, baik di dalam maupun luar negeri.

Kesimpulan ini juga diambil dari fakta hijrahnya rasulullah dari Makkah (Dar al-Kufr) ke Madinah (Dar al-Islam).

Saat di Makkah, meski para sahabat disiksa sebagaimana keluarga Yasir disiksa hingga tewas, Rasulullah SAW yang belum memiliki kekuatan untuk melindungi kaum muslimin hanya meminta keluarga Yasir bersabar tanpa membalas dengan kekuatan fisik apapun. Namun setelah di MAdinah, Rasulullah SAW diperintahkan untuk mem-futuhat atau membebaskan wilayah yang didiami kaum muslimin, sementara hukum dan keamanannya tidak berada di tangan Islam. Hingga terjadilah peristiwa Fathu Makkah atau Pembebasan Kota Makkah

Makkah ketika itu masih menjadi Dar al-Kufr. Sistem ekonominya berbasis riba. Pemerintahannya dikuasai kafir Quraisy yang menerapkan hukum jahiliyah. Sedangkan Madinah pasca Bai’at pemimpin-pemimpin Aus dan Khazraj untuk Rasulullah SAW di Aqabah, dan disusul hijrah beliau berubah menjadi Dar al-Islam.

Rasulullah setibanya di Madinah mendirikan masjid yang menjadi pusat pembinaan para sahabat dan kaum muslimin, juga menjadi tempat mengatur strategi jihad, menetapkan hukum dan urusan Negara Madinah dll.

Bahkan di Madinah beliau SAW mengangkat Sayyidina Abu Bakr dan Sayyidina Umar bin Khattab sebagai kedua wazir (menteri, pembantu) beliau. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri bahwasannya rasulullah SAW bersabda,
“Kedua wazir atau pembantuku dari penduduk bumi adalam Abu Bakr dan Umar”
Kata wazir sendiri memiliki pengertian al-Ma’unah atau bantuan dan pembawa beban pemerintahan [Faidh al-Qadir, al-Munawi juz 2 hal 656]. Iii semakin menguatkan fakta bahwa Madinah adalah Daar al-Islam karena hokum dan kekuasaan di dalamnya ada di tangan Islam.

Penjelasan tentang pengertian Daar al-Islam oleh para fuqaha dan fakta sejarah di atas jelas menepis beberapa opini menyesatkan yang menyebutkan bahwa Rasulullah hijrah ke Madinah bukan untuk menjadikannya Dar Islam, tapi Daar as-salaam, Yang secara bahasa bermakana tempat yang selamat dan aman. Sehingga esensi hijrah adalah akhlaq yang menyelamatkan dan damai, bukan persoalan konstitusi Negara Islam. Ini jelas-jelas sebuah penyesatan politik. Karena jika kita melihat kata Darus Salam yang disebutkan dalam al-qur’an dikonotasikan dengan surga, sebagaiman firman Allah dalam surat al-an’am 127.

Sahabat muslimah, semoga kita bisa meneladani perjuangan rasulullah SAW yang berupaya untuk menjadikan negeri-negeri yang didiami kaum muslimin sebagai Daar al-Islam. Sehingga kita bisa merasakan indahnya kehidupan di bawah hokum Allah yang diberkahi.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments