Hijrah Ala Rasulullah SAW

RemajaIslamHebat.Com - Hari ini tanggal 1 Muharram 1439 H.  Itu artinya 14 abad sudah Rasulullah SAW dan kaum muslimin saat itu   berpindah dari Makkah ke Madinah.  Begitulah Umar Bin Khattab ra- khalifah kedua pengganti Rasulullah SAW menetapkan penentuan penanggalan umat Islam dimulai dari berpindahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah.  Disini kita dapat menyimpulkan betapa sangat pentingnya peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW bagi umat Islam.   Hijrah ini dari mekkah menuju masyarakat Islam di Madinah sebagai  pusat pemerintahan Islam.
.
Sebelum peristiwa hijrah.  Seorang pemuda Makkah- Muhammad- terpilih untuk diangkat menjadi utusan Allah, di usia 40 tahun.  Beliau begitu bersemangat membina semua orang memeluk Islam dengan hukum-hukum agama dan meminta mereka menghafalkan Al Qur’an.    Mereka berkumpul membentuk kelompok dakwah, dibina selama 3 tahun di Daarul Arqam.   Jumlah mereka lebih dari 40 orang  saat diangkatnya Rasulullah SAW hingga turunnya perintah dakwah secara terang-terangan. Kelompok dakwah ini memiliki aqliyyah (pola pikir) yang Islami dan nafsiyah (pola sikap) yang Islami.  Berkat pembinaan langsung oleh Rasul, mereka memiliki kematangan pemikiran dan keluhuran jiwa.  Karena itu Rasul sangat senang karena kelompok dakwah ini telah kuat dan mampu menghadapi segala resiko dakwah.
.
Mulailah dakwah berinteraksi dengan masyarakat Makkah yang jahiliyyah.  Rasul mengajak mengesakan Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan penyembahan pada berhala serta melepaskan diri dari semua sistem yang rusak dimana mereka hidup di dalamnya.  Karena itulah dakwah Rasul berbenturan dengan kafir Quraisy secara menyeluruh.  Al qur’an senantiasa turun kepada Rasul SAW dan secara gamblang   merendahkan khayalan-khayalan mereka.  Merendahkan sesembahan mereka.  Mencela rusaknya kehidupan mereka dan cara hidup mereka yang sesat.  Al Qur’an mensifati sesembahan kepada selain Allah menjadi umpan neraka jahannam.  Al Qur’an mencela praktek riba.  Al quran pun mengancam orang yang praktek curang dalam mengurangi takaran dan timbangan.  Ini membangkitkan benturan antara pemikiran Islam yang benar dengan pemikiran rusak.
.
Begitulah dakwah yang berjalan dalam waktu yang belum terlalu panjang , kafir Quraisy mulai menyadari bahaya dakwah.  Mereka sepakat untuk menentang, memusuhi dan memeranginya.  Mereka menggunakan berbagai cara untuk menyerang dakwah.  Mulai dari penganiayaan, berbagai propaganda di dalam dan di luar Makkah, hingga pemboikotan.  Beliau dan para sahabat menanggung resiko dakwah yang begitu luar biasa.  Hingga ada yang syahid karena penyiksaan, ada yang hijrah ke habsy untuk menyelamatkan agamanya.  Ada juga yang menanggung siksaan yang sangat menyakitkan.  Semua dilakukan oleh kafir Quraisy. 
.
Setelah fase dakwah di Makkah melalui dua tahapan, secara sembunyi sembunyi dan terang-terangan, datanglah cercah cercah keberhasilan di Yatsrib.  Setelah sebelumnya Rasul mengutus sahabat Mus’ab Bin Umair ra untuk melakukan dakwah dan mengajarkan Islam di sana. Yatsrib ini kemudian berubah nama menjadi Madinah.  Kelompok dari suku Aus dan khazraj berbaiat pada Bai’at Aqabah I dan kemudian disusul dengan bai’at Aqabah II yang merupakan komitmen untuk menyerahkan kekuasaan, mentaati dan membela Rasul.  Peristiwa komitmen dalam ketaatan ini adalah cikal bakal terbentuknya pasukan Islam.   Pasukan Islam ini terbentuk kelak demi melindungi dakwah dari kekuatan jahat dan kekufuran.
.
Rasul kemudian menetapkan Madinah  sebagai titik sentral dakwah Islamiyyah dan titik awal pusat pemerintahan Islam.  Keberadaan kekuatan Islam yang ada di Madinah dan kesiapan Madinah untuk menerima Rasul dan memusatkan pemerintahan Islam disana adalah  perkara yang mendorong Rasulullah SAW untuk hijrah.  Demikianlah, hijrah merupakan pembatas dalam Islam yang memisahkan tahapan dakwah dengan mewujudkan masyarakat Islam yang menerapkan Islam kaffah dalam pemerintahan Islam.

Memaknai Hijrah di Masa Kini.
.
Sejak Rasulullah SAW dan kaum muslimin hijrah, mulailah terbentuknya masyarakat Islam yang berkualitas prima di Madinah.  Masyarakat Islam di Madinah dan di daerah penyebarannya adalah keberhasilan Rasulullah SAW  yang tak tertandingi oleh sistem manapun.  Baik kekuatan integralnya maupun keeratan ukhuwahnya.  Ketika itu setiap individu muslim terpatri menjadi satu bangunan yang saling kokoh-mengokohkan.  Mereka saling mengindahkan kepentingan satu sama lain.  Mereka bersatu dalam sebuah sistem yang tampil menjadi pusat dan kiblat peradaban yang mendunia. 
.
Kini kebanggaan itu telah sirna dengan runtuhnya kekhilafahan Islamiyyah di Turki, tanggal 3 Mei 1924.  Inilah hasil jerih payah kaum kafir yang senantiasa menghendaki musnahnya perundang-undangan ilahiyah di dunia ini.  Keberhasilan mereka itu teraih setelah ratusan tahun lamanya mencoba menghancur leburkan Islam dan umatnya.  Keruntuhan ini tak lepas dari kelengahan dan mengendurnya kewaspadaan umat Islam menghadapi ‘ghazwul fikri’  (perang pemikiran) yang dilancarkan kaum kuffar itu.  Maka hijrah sudah sepatutnya dimaknai untuk mengembalikan kebanggaan umat Islam seperti di Madinah dulu.  Sebuah masyarakat Islam dalam naungan pemerintahan Islam.  Yang kelak menjadi pusat dan kiblat peradaban dunia.
.
Dilihat dari kemampuan mengemban dakwah dan kepemimpinan Rasulullah SAW dengan siapa pun di masa kini tidak akan pernah sebanding.  Gelar Rasulullah SAW (utusan Allah SWT) betapa pun keadaannya tak akan pernah sebanding.  Karena Rasulullah SAW ma’shum (terpelihara dari salah dan dosa).  Sifat tersebut hanya ada pada diri Rasulullah SAW.  Membandingkan kemampuan mengemban dakwah dengan para sahabat juga sulit dilakukan.  Karena saat mereka berijma mereka mustahil dalam dusta.  Namun tak menutup kemungkinan ada banyak pengemban dakwah yang memiliki kesamaan dalam hal karakter dan kejiwaan mereka.  Mereka konsisten mempertahankan keimanan, ikhlash, sungguh-sungguh mengemban dakwah, tak segan berkorban harta dan jiwa demi tersebarnya dakwah.
.
Para sahabat bukanlah manusia yang berbeda dengan kaum muslimin sekarang.  Mereka bukan manusia langka dalam sejarah.  Bahkan, ingatlah bahwa Nabi SAW telah menyamakan bahwa orang yang berpegang pada Kitabullah dan As Sunnah dalam kurun terakhir dengan sahabat kurun Rasul dengan ganjaran 50 kali lipat.   Rasulullah SAW menyampaikan berita gembira ini kepada pengemban dakwah dewasa ini.  Dalam Riwayat Ibnu Wadhah dari Abu Tsa’labah al-Khusyaini terdapat Sabda Rasulullah SAW berikut ini :
“ Orang yang konsisten berpegang pada agama dan sunnahku di zaman yang penuh kemungkaran bagaikan orang yang menggenggam bara api.  Siapa saja yang melaksanakan sunnahku pada saat yang demikian itu pahalanya senilai 50 orang dari kalian (sahabat)”. 
.
Kini menjadi jelas bagi kita, bahwa yang kita butuhkan adalah berpegang teguh dan konsisten pada agama Allah dan Sunnah Rasulullah SAW.  Meski para pengemban dakwah bukan individu yang maksum seperti Rasulullah.  Pengemban dakwah  mungkin saja berbuat salah dan dosa.  Namun jika mereka baik dan berpegang teguh melaksanakan Islam, maka kita pun mampu seperti para sahabat SAW yang terbukti berhasil dakwah bersama  Rasulullah SAW.    Karena itu tugas kita tak lain adalah mengikuti jejak Rasul SAW dan  sahabat  dalam dakwah sebagaimana yang mereka lakukan.  Alhamdulillah, jika sampai pada tujuan yang sempurna, maka itulah harapan kita.   Kalaupun tidak, berati kita telah menjalankan kewajiban kita.  In sya Allah akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.   Allah SWT telah menjamin terhadap orang yang berjuang menegakkan dan membela agama Allah bahwa Dia akan menolong mereka (lihat QS Muhammad: 7). 
.
Karena itu perjuangan menyongsong lahirnya masyarakat baru dalam pemerintahan Islam tak boleh berhenti, meski sekejap.  Sekalipun menghadapi kesulitan, hambatan dan tantangan dewasa ini.  Perjuangan ini harus selalu ditegakkan sampai pertolongan Allah SWT datang.  Karena kita yakin bahwa kemenangan hanyalah dari Allah SWT.  Dia telah menjadikan segala sesuatu  mempunyai  batas dan ketentuan yang harus terjadi.  Sebagaimana sabdanya :
“...kemudian akan datang masa khilafah yang mengikuti jekak kenabian, yang menerapkan sunnah nabi SAW, sehingga Islam meliputi seluruh permukaan bumi...” (HR Imam Ahmad Dan Al Bazzar dengan sanad hasan dan shahih).
Wallahu a’lam.

Sumber:

Fb: Desi Yunise

Post a Comment

0 Comments