Hidup Itu Berpindah

RemajaIslamHebat.Com - Hidup itu adalah perpindahan.  Sebagaimana berpindahnya (hijrahnya) Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Perpindahan yang bukan hanya pada tempat, namun lebih pada pencampaian visi dan tujuan yang lebih besar. Bagaimana visi, maka tergantung akan misi yang ditempuh dan bagaimana pencapaian tujuan, maka tergantung pada sebuah pemikiran yang diemban.

Pemikiran yang diemban adalah pondasi dari sebuah hijrah itu sendiri dari tujuan yang ingin dicapai. Sebab, tanpa adanya sebuah pemikiran tidak akan ada perubahan, kecuali hanya sebatas aktivitas dan rutinitas yang tanpa arti.

Bagaimana hijrah itu harus bisa membawa pada perubahan. Perubahan dari kebodohan menjadi kepengetahuan, perubahan dari kejumudan menjadi kemajuan, perubahan dari kehinaan menjadi kemuliaan, dan perubahan dari kelemahan menjadi  sebuah keperadaban.

Itulah hakikat hijrah, bukan hanya sebatas pada penampilan dan aktivitas, namun lebih pada pemikiran yang diemban dan tujuan yang ingin dicapai.

Sebagaimana halnya kalian dulu yang lebih banyak berdiam karena ketidaktahuan, lebih banyak mencela karena kebodohan, dan lebih banyak bergerak karena keumuman. Maka perubahan itupun tidak berbeda adanya, kecuali hanya pada waktu, tempat dan manusianya saja. Sedangkan pada kondisi tidaklah berbeda.

Dulu, saat mereka berbicara akan kerusakan-kerusakan yang terjadi pada generasi. Dulu, saat mereka  berbicara akan kebobrokan sistem negeri ini. Dulu, saat mereka berteriak menolak akan berbagai kebijakan yang mendzalimi. Dan dulu juga saat mereka bersiteguh menawarkan solusi.  Maka, bersamaan pula wajah-wajah sinis, istilah-istilah utopis, radikalis, ektrimis kalian lancarkan dan hujamkan pada mereka.

Namun, seiring berjalannya waktu dan istiqomahnya mereka dalam menyampaikan dan memahamkan. Kini, sebagian kalian telah menyadari meski sebagian lagi masih menghujamkan penolakan dan penentagan akan perubahan yang haqiqi.

Kalian mulai terbuka melihat fakta dan realita yang selama ini terus disampaikan dan digambarkan. Pemahaman akan sebuah pemikiran itupun nampak mulai berpindah dan bahkan tidak sedikit yang telah berpindah. Maka, aktivitas kalianpun mulai bergerak kearah pembelaan pada keadilan dan kebenaran. Dan bahkan, seperti bagaimana terhadap saudara kalian yang jauh disana.

Suara-suara kalianpun mulai menggema. Aktif dalam berbagai aksi. Semangat dalam berbagai solidaritas. Ngotot dalam pengecaman dan pengutukan. Besar dalam penggalangan dana. Dan menangis karena merasa saudara.

Namun, cukupkah itu membantu mereka ?
Cukupkah itu mengurangi beban mereka ?
Cukupkah itu menghentikan pembantaian pada mereka ?
Atau setidaknya cukupkah itu untuk menghibur mereka ?
Atau jangan-jangan itu hanya akan menambah lamanya penderitaan mereka. Menambah penyiksaan pada mereka.
Dan hanya menambah semakin beratnya lawan mereka.

Sebab, ibarat orang yang terluka karena ditusuk orang. Kemudian, kalian hanya mengelap setiap darah yang menetes keluar, memberi makan, minum, dan menghibur dengan senyuman kadang pula dengan nyanyian. Namun, kalian tidak pernah mengeluarkan pisau yang tertancap. Tidak pula menghentikan, menangkap pelaku penusukan tetapi malah membiarkan seakan tiada kaitan.

Kalian biarkan luka itu membusuk hingga berbau, kemudian kalian semprotkan minyak untuk menetralisir baunya. Hingga merekapun sekarat, kalian tetap saja berteriak pada pelaku penusukan. Kalian anggap pelaku penusukan lebih paham akan cara penyelamatan. Maka berteriaklah kalian, “Selamatkan mereka...! Selamatkan mereka...!”

Sungguh, usaha kalian untuk mereka adalah besar. Namun, memahami dengan sebuah pemikiran akan akar permasalahan adalah langkah yang paling benar. Meski terasa lebih lama, namun hanya itulah yang akan membawa pada penyelesaian dan perubahan.

Cabutlah pisau itu, yang tidak lain adalah pelaku pembantaian. Dan hentikan pelaku penusukan itu, yang tidak lain adalah mereka-mereka yang mengklaim kekuasaan atas semua keputusan negara-negara hanya ditangannya. Mereka inilah, akar dari semua probematika dunia. Bagaimana manusia menjadi tumbal untuk kelanggenan sebuah kekuasaan dan kesenangan yang diinginkan.

Berbuatlah untuk mereka dan kita dengan mencabut pada akar-akarnya dan menanamkan kembali dengan pemahaman yang bisa menyelamatkan dunia. Agar perjuangan dan pengorbanan kalian nyatalah adanya. Bukan hanya slogan dan angan-angan yang tidak akan ada ujung dan penyelesaian.

#HijrahHakikih_ISLAM

Sumber:

Fb: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments