Doa Ibu, Pengantar Kesuksesan Sahabatku

Oleh : Deassy M Destiani

SAHABAT, sewaktu kuliah, aku punya teman laki-laki. Sosoknya tidak mencuri perhatian. Biasa banget deh. Untuk ukuran laki-laki dia tidak begitu tinggi, wajahnya khas orang Jawa. Kulit sawo matang, rambutnya ikal,  badannya kurus. Tetapi dia pintar, sering jadi tempat bertanya  berbagai mata kuliah yang susah. Dia juga punya jiwa leadership yang tinggi, makanya terpilih jadi ketua kelas alias KOMTI di tingkat pertama perkuliahan di IPB.

Sebenarnya aku gak begitu dekat dengannya, karena temanku ini seringkali menarik diri dari pergaulan di kampus.  Jarang nongkrong atau jajan ketika ada jeda istirahat sebelum masuk kuliah lagi, jarang kumpul bareng teman-teman deh pokoknya. Hanya saat kuliah saja dia kelihatan di kelas.

Kosan kami satu arah, jadi terkadang sering bareng bersama teman-teman lainnya kalau mau ke kampus atau pulang kuliah. Setelah tingkat dua, kami berpisah. Dia masuk ke fakultas kehutanan, sedangkan aku ke fakultas pertanian.  Semenjak itu kami tidak pernah lagi berinteraksi. Bertemu hanya sesekali jika kebetulan papasan saja di kampus. Sebab aku dan dia beda kampus. Dia di kampus Dermaga sedangkan aku di kampus Baranangsiang Bogor.

Suatu hari, kami dipertemukan kembali di Yogyakarta. Dia kebetulan ada tugas dari kantornya. Aku, dia dan seorang teman sekelas juga bernama Hatta janjian untuk ketemu di mall Malioboro Yogyakarta. Mulailah kisah seru itu, aku tak pernah menyangka bahwa dibalik sosoknya yang sederhana, tegas, kadang galak dan kadang lucu itu meyimpan banyak sekali cerita.

Hampir 25 tahun kami tak pernah bertemu. Ketika Allah mempertemukan kami lagi, sikapnya masih sesederhana dulu. Masih kelihatan galak, tetapi suka bercanda. Ngomongnya ceplas ceplos dan mengalir tanpa terlihat ingin menyombongkan diri. Padahal kalau mau sombong bisa banget deh dia itu. Bayangkan, sejak dinyatakan lulus kuliah dari IPB, temanku ini  diterima di 7 perusahaan dari 10 perusahaan  yang dia lamar. Diantaranya ada Bank BDN, Perusahaan Tambang Batu Bara, Pusat Keanekaragaman Hayati, Asisten Dosen di IPB, Departemen Kehutanan dan Perhutani

Itupun dengan mudahnya dia keluar masuk dari satu perusahaan terkenal ke perusahaan yang lain. Padahal gajinya saat itu sudah bisa dikategorikan gaji yang  sangat diinginkan para mahasiswa yang baru lulus. Pernah sampai diterima di dua lembaga pemerintah yang berbeda yaitu di Perhutani dan Departemen Kehutanan. Ketika itu dia disuruh memilih. Sebenarnya dia memilih  Perhutani dengan alasan ingin cepat kaya, ternyata Ibundanya mengatakan bahwa dia lebih baik di Departemen Kehutanan. Institusi yang ada menterinya pesan Ibundanya.  Ternyata lagi-lagi Ibundanya benar,  hingga saat ini pelabuhan terakhir karir yang dia pilih adalah di Departemen Kehutanan.  Jabatan yang diembannya saat ini adalah Kepala Balai Taman Nasional Kutai.

Temanku ini buka rahasia, bahwa saat dia kuliah dulu makan saja seringnya dikasih daripada beli sendiri. Uang dari orangtuanya hanya Rp. 75.000 per bulan. Sementara aku dulu kalau gak salah dikasih orangtua antara 350 ribu sd 500 ribu per bulan. Jauh banget yah bedanya. Untuk bisa cukup uang segitu, maka dia makan dengan lauk hanya 15 hari, sedangkan 15 harinya lagi dia harus puasa. Sahur dan bukanya hanya dengan segelas air putih dan coklat kecil cap Bajing yang harganya 100 rupiah jaman dulu. Ampun deh emang kenyang tuh perut? Kata temanku ini, lapar adalah makanannya sehari-hari. Hmmh tagline yang cukup sadis menurutku. He..he..he...

Mungkin sahabat penasaran yah siapa sih yang aku ceritakan ini? Aku kasih tahu yah, dia adalah Nur Patria Kurniawan S.Hut, M.Sc. Alumni IPB angkatan 29 Fakultas Kehutanan. Aku dan dia satu kelompok di TPB. Sekarang dia tinggal di Bontang Kalimantan bersama istri dan ke 3 anaknya. Aku sangat terkesan olehnya karena ternyata dibalik sosok nyelenehnya itu, dia berpesan dalam obrolan ringan kami, “ Doa Ibu yang membuatku hidupku bisa berubah drastis. Dalam setiap kesempatan yang aku peroleh sebelum aku memutuskan sesuatu maka aku pasti tanya pendapat dan nasehat Ibu dulu. Aku pernah belajar, tapi gak minta doa ibu maka IP ku hanya tiga koma dua. Setelah aku belajar, shalat lima waktu ditambah doa Ibu, maka IP ku sempurna, yaitu empat koma nol-nol”.

Sahabat,  selain doa dalam belajar dan karir, Nur juga meminta petunjuk jodoh dari sang Ibunda. Kepatuhan pada Ibunda membuatnya mendapatkan jodoh yang bisa membuat jiwa dan hatinya tenang. Sang Ibu pernah bilang, bahwa jodohnya ada di Bayuwangi dengan nama berakhiran i. Nur sempat bingung karena masa sih di hutan ada perempuan cantik yang akan menjadi jodohnya. Ternyata Ibunda Nur tidak salah, setelah beberapa bulan bertugas di  Alas Purwo Banyuwangi, ada dua orang perempuan datang dan keduanya namanya  berakhiran i. Daripada salah pilih, Nur memilih mengajak Ibundanya ke Banyuwangi. Dimintanya sang Ibu untuk menunjuk dari dua perempuan berakhiran i itu. Ibunda dengan tegas menunjuk perempuan yang bernama Luviandri. Beliau bilang pada Nur, “ Yang itu... Ibu melihat dia di mimpi Ibu". Kini Nur sudah bahagia dengan istri pilihan Ibunya, memang benar ibunya tidak salah pilih. Jodohnya bernama Luvi Andari, orang Kalimantan yang namanya berakhiran huruf i. 

Nur menutup obrolan kami dengan pesan pendek,  “Pokoknya nih, gue sih berpesan kalau hidup lu mau bahagia jangan pernah menyakiti dua orang perempuan dalam hidupmu yaitu ibumu dan istrimu. Gue aja sekarang merasa kehilangan tempat bertanya sejak Ibu gak ada. Kayaknya mau kemana-mana tuh susah, beda dengan saat Ibu masih ada”.  Sahabat setuju dengan  pendapat Nur diatas? Kalau aku sih setuju banget...!! Cintai, hormati dan sayangi Ibumu yah...karena anak itu membutuhkan seorang Ibu tiga kali lebih banyak dari pada seorang ayah. Kata Rasul, Ibumu... Ibumu... Ibumu... Ayahmu.

Post a Comment

0 Comments