Debora, Gagalnya Sistem Kesehatan Negara

RemajaIslamHebat.Com - Kasus meninggalnya Tiara Debora Simanjorang, bayi pasangan Rudianto Simanjorang dan Henny Silalahi telah menambah daftar panjang kegagalan negara dalam memberikan kesehatan yang menyeluruh untuk rakyat.

Pasien Debora meninggal karena telatnya penanganan serius dari rumah sakit swasta di bilangan Kalideres. Hal ini terjadi karena RS tersebut tidak melayani pasien BPJS.

Banyak kalangan yang menyayangkan peristiwa yang menimpa bayi Debora ini. Sekaligus kecewa dengan sikap pelayanan RS tersebut. Seharusnya penanganan pasien darurat harus lebih diutamakan ketimbang biaya dan administrasi. Namun, nasi sudah menjadi bubur, bayi Debora tidak akan kembali lagi.

Kegagalan Pemerintah dalam memenuhi kesehatan menyeluruh untuk rakyat, tentunya tidak terjadi kali ini saja. Masih segar di ingatan kita, tepatnya 10 juni lalu, peristiwa pahit yang menimpa pasangan Hery Kustanto dan Reny Wahyudi pasien BPJS yang harus kehilangan bayinya setelah ditolak 6 rumah sakit di Bekasi. Ditambah kasus Debora, tentunya ini adalah satu dari sekian kasus pelayanan kesehatan buruk. Yang tidak terekspos, tentu lebih banyak lagi.

Sejatinya, jaminan pemenuhan layanan kesehatan bagi rakyat adalah tanggung jawab negara. Negara berkewajiban menyediakan akses tercepat dan terbaik dalam kesehatan untuk rakyatnya.

Kesulitan rakyat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik tentunya tidak akan pernah berakhir jika pemerintah tidak segera melakukan pembenahan. Selayaknya pemerintah menghapus sistem komersialisasi kesehatan oleh swasta dan asing. Menguasai penuh sektornya demi memberikan pelayanan terbaik lagi menyejahterakan. Namun, ini mustahil terjadi, jika negara masih setengah hati dalam mengurusi.

Hal ini terjadi karena bangsa kita belum mandiri dalam mengatur kebijakan negeri. Masih bergantung pada investor swasta dan asing, termasuk di bidang kesehatan. Akibat sistem pemerintahan yang mengkapitalisasi seluruh sektor kehidupan, kesehatanpun dikomersialisasi, dijadikan lahan bisnis untuk meraup keuntungan. Nyawapun jadi objek tawar menawar, "orang miskin tidak boleh sakit", tidak punya uang mati.

Belajar dari Kegagalan

Apa yang terjadi pada bayi Debora adalah satu contoh dari sekian kegagalan sistem kesehatan ala kapitalistik yang lahir dari ide sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).

Seharusnya hal tersebut bisa menyadarkan kita, bahwa tidak akan pernah ada kemaslahatan yang diperoleh bila terus menjauhkan aturan Islam dalam kehidupan. Islam sebagai agama sekaligus ideologi, memandang bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemenuhan hak- hak primer umat merupakan kewajiban negara.

Di antara hak-hak tersebut adalah jaminan keamanan, kesehatan dan pendidikan, sabda Rasulullah Saw;

"Siapa saja yang saat memasuki pagi merasakan aman pada kelompoknya, sehat badannya dan tersedia bahan makanan di hari itu, dia seolah-olah telah memiliki dunia semuanya." (HR al-Bukhari, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pelayanan kesehatan ini, diatur penuh oleh negara. bebas campur tangan investor swasta atau asing. Selain itu, pelayanannya pun terbaik, cepat, murah bahkan gratis.

Ini semua dilaksanakan negara sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai raa'in (pemelihara umat) dan junnah (perisai umat). Mengabaikannya merupakan bentuk pelanggaran yang harus dipertanggung jawabkan berupa sanksi dunia maupun akhirat.

Rasulullah Saw bersabda; "Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sebagai seorang muslim tentunya kita merindu akan kehidupan yang sejahtera di bawah kepemimpinan Islam. Islamlah satu-satunya aturan yang mampu membawa kita pada kehidupan yang rahmatan lil'alamin.

Oleh karena itu, mengembalikan institusi Islam (khilafah), yang akan menerapkan syari'at Allah secara keseluruhan merupakan keharusan. Yang akan menghapus privatisasi dan dunia komersialisasi kesehatan, yang akan memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyatnya, tak peduli pejabat atau rakyat jelata, miskin atau kaya, bahkan agama.

Wallahu'alam bi Ashawab.

Penulis : Shafiya (Founder Muslimah Cinta Quran, Anggota Revowriter, Aceh)]
_________

Post a Comment

0 Comments