Debora dan Kapitalisasi Kesehatan

RemajaIslamHebat.Com - Tiara Debora Simanjorang telah tenang di alam baka, Minggu (3/9). Tapi, tragedi kematiannya masih menyimpan tanya. Bayi 4 bulan yang diduga lambat ditangani gara-gara DP belum lunas itu, tak tertolong nyawanya di ruang gawat darurat.
.
Hal ini berdasarkan hasil investigasi Kementerian Kesehatan. Diduga, Debora mendapatkan kesalahan layanan medis di Rumah Sakit (RS) Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat. Keluarga tak sanggup melunasi uang muka yang besarnya mencapai Rp19 juta untuk penanganan lanjutan di pediatric intensive care unit (PICU).
.
Padahal dalam kondisi kegawat-daruratan, RS dilarang menggunakan uang muka. Apalagi, pasien sebenarnya memiliki BPJS yang seharusnya tidak perlu uang muka karena biaya ditanggung negara. Debora malah hendak dirujuk ke RS lain. Selama proses mencari rujukan itu, dokter memang sempat menanganinya. Namun, tidak segera dimasukkan ke PICU hingga keburu meninggal dunia.
.
Pihak RS akhirnya mendapat sanksi administratif berupa teguran tertulis dari Kemenkes. Uang yang telah dibayarkan orangtua Debora sebesar Rp6 juta juga dikembalikan atas arahan Dinas Kesehatan. Tapi apa lacur, hal itu toh tidak mengembalikan nyawa Debora yang terlanjur melayang. Begitulah nasib pasien di peradaban kapitalis saat ini. Ada uang ada layanan, tak ada uang nyawa melayang. Tragis.
.
KORBAN SISTEMIK
.
Apakah Debora korban pertama? Tidak. Sejatinya, sudah tak terhitung "Debora-Debora" berjatuhan. Sejak dulu. Sejak dulu. Cari saja di media-media lalu, akan kita temukan banyak kasus serupa. Pasien meninggal sebelum ditangani hanya masalah bayaran.
.
Tampaknya, rumah sakit sudah melupakan filosofi melayani demi kemanusiaan, berganti motto: melayani demi uang. Nyawa anak manusia tidak diutamakan, yang penting urusan finansial terperhatikan. Inilah peradaban kapitalisme dimana rumah sakit dibisniskan. Akibatnya, rasa empati dan belas kasihan di meja gawat darurat pun lenyap.
.
Para tenaga medis begitu menomorsatukan birokrasi dan administrasi demi segumpal materi. Menolong nyawa manusia, dengan dorongan kemanusiaan, tidak ada lagi. Mati rasa. Dokter lebih takut pada manajemen rumah sakit dibanding mengikuti hati nuraninya.
.
Hilangnya perikemanusiaan tenaga medis ini bukan isapan jempol. Kita bisa bandingkan, dokter yang sama yang kita datangi, akan beda sikap dan perlakuan tergantung di mana ia praktik. Jika sang dokter praktik di rumah sakit negeri, keramahan saja terkadang sulit kita dapatkan. Tetapi ketika kita temui dia di rumah sakit swasta yang elit, dengan ramah dan komunikatif pasien dimanjakan. 
.
Memang, tidak semua dokter dan tenaga medis setega itu. Tidak semua rumah sakit sekejam itu. Tapi kejadian seperti Debora ini berlangsung sistemik. Sudah sangat klasik. Semua tahu, ketika masuk rumah sakit, apalagi swasta, harus sedia duit. Makanya ada ungkapan, orang miskin dilarang sakit.
.
Pasien dengan duit cekak, tak ada yang berani melangkahkan kaki ke tenaga medis. Makanya kita kerap temukan, orang-orang miskin yang tiba-tiba jadi bahan berita karena penyakit berat seperti kanker, hidrocepalus, kaki gajah, dll. Mereka ditemukan dalam kondisi sudah parah, karena tak pernah berobat medis. Tak punya duit. Selain itu, pendidikan yang rendah menyebabkan kurang aware terhadap pemeriksaan kesehatan secara medis. Lebih percaya nonmedis.
.
SPIRIT UANG
.
Selama ini, rumah sakit negeri yang dibiayai dari duit rakyat, belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan warga secara maksimal. Selain jumlahnya sangat sedikit, layanannya kalah kualitas dibanding rumah sakit swasta. Sayangnya, rumah sakit swasta ini sudah terkenal mahal. Mengapa?
.
Rumah sakit swasta kebanyakan didirikan bukan oleh para tenaga medis tersebab dorongan pengabdian, tapi oleh para pemodal demi meraup keuntungan. RS Mitra Keluarga tempat Debora menjemput ajal, juga adalah salah satu jaringan RS swasta terbesar kedua di Indonesia berdasar kapasitas tempat tidurnya.
.
Perusahaan di bidang kesehatan ini telah go public dengan nama PT Mitra Keluarga Karya Sehat Tbk (MIKA). Kasus Debora pun sempat membuat nilai sahamnya ke zona merah, meski kemudian naik lagi. RS ini didirikan 3 Januari 1995. Awalnya bernama PT Calida Ekaprana yang kemudian berubah jadi PT Mitra Keluarga Karya Sehat. RS ini memiliki jaringan di 11 lokasi, yakni 7 di Jabodetabek, 3 di Surabaya, dan 1 di Tegal. Tanah dan bangunan rumah sakit tersebut merupakan milik perseroan.
.
Bayangkan, layanan kesehatan yang bertujuan menyelamatkan nyawa manusia, menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Perusahaan yang berhitung rugi laba. Wajar jika paradigma berpikirnya uang dan uang.
.
Sangat berbeda bila RS didirikan oleh para pengabdi kemanusiaan. Lihatlah, bagaimana dokter Gamal Albinsaid di Malang, mampu memanusiakan pasien hanya dengan bayaran sampah. Dokter kelahiran 8 September 1989 ini mendirikan Klinik Asuransi Sampah pada 2010, jauh dari spirit kapitalisme.
.
Ada juga dokter Ferihana (36) yang membuka Rumah Sehat Muslim dan Dhuafa di Bantul, Yogyakarta, 2012. Di klinik itu pasien cukup bayar kotak infak seikhlasnya. Ia bersama rekan-rekan dari Komunitas Muslim Medical juga keliling ke pelosok seperti Gunung Kidul dan Kulon Progo mencari orang sakit.
.
Tak hanya itu, ia membangun rumah singgah untuk para janda untuk pengobatan psikis di Bekam Ruqyah Center. Hebatnya, perempuan bercadar ini menolak tegas donasi, karena khawatir dengan kepentingan di balik itu. Semua biaya operasional disubsidi dari klinik kecantikan yang juga ia dirikan secara berbayar.
.
Itu adalah contoh kontribusi personal di bidang kesehatan yang tidak mengedepankan uang. Seperti ini harusnya diadopsi siapa saja yang ingin bergerak di bidang kesehatan. Tapi, terpenting bagaimana kebijakan negara yang tegas terhadap semua layanan kesehatan.
.
Rumah sakit mestinya dilarang dibisniskan. Silakan swasta mendirikan rumah sakit, semata-mata demi kemanusiaan. Jangan rusak spirit kemanusian para dokter dan tenaga medis yang selama ini ditanamkan di bangku kuliah dengan uang.
.
ISLAM IS THE BEST
.
Kesehatan adalah kebutuhan pokok setiap manusia. Berbeda dengan peradaban sekuler kapitalis saat ini, di peradaban Islam masa lalu, rumah sakit adalah tempat pasien menemukan obat dan penyembuhan yang menyenangkan. Tidak mencekik pasien dengan tagihan. Tenaga medis bekerja atas dasar kemanusiaan. Demi menjadi manusia paling bermanfaat dengan ilmu yang terterapkan. Lillahi ta'ala. Ah, lihatlat kisahnya di sejarah-sejarah gemilang itu.
.
Kapan paradigma rumah sakit seperti itu kembali diterapkan? Jangan menunggu ribuan Debora kembali berguguran di ranjang putih gawat darurat. Cukuplah Debora korban terakhir. Hentikan kematian demi kematian pasien miskin dengan menerapkan sistem Islam.
.
Memang, ajal adalah hak prerogatif Sang Maha Kuasa. Tetapi, ada ranah ikhtiar yang bisa dikendalikan manusia. Jika dilakukan dengan landasan takwa, niscaya pasien meninggalpun dalam keadakan ikhlas. Menerima takdir itu. Bukan mati merana di algojo bernama uang di meja administrasi rumah sakit yang begitu menakutkan.(kholda)
.

Penulis : Kholda Naajiyah

Post a Comment

0 Comments