Bukan sekedar “Jas Almamater Mahasiswa”

Oleh: Khairun Nisa’ D.N.R. (member BMI Community)

SATU lagi, fenomena unik terjadi di negri ini. “The power of emak emak”, menjadi viral seusai ditangkapnya seorang ibu rumah tangga bernama Asma Dewi atas status yang dibuatnya di sebuah social media yang mengungkapkan keprihatinannya tentang kondisi ummat. Namun sayangnya, ungkapan tersebut dinilai sebagai ujaran kebencian yang melanggar UU ITE sehingga beliau dipolisikan. Pro dan kontra mengiringi fenomena penangkapan ibu Asma Dewi. Terlepas dari itu semua, kemanakah suara mahasiswa yang seharusnya lebih lantang dari emak-emak?

Padahal, mahasiswa merupakan kaum intelektual terdidik. Tidak main-main, perannya begitu kompleks yakni sebagai agent of change, social control dan Iron stock. Pribadinya dituntut memiliki kepedulian, moral, pikiran kritis serta senantiasa menjadi pelopor perubahan ke arah yang lebih baik. Sejarah membuktikan betapa  pergerakan mahasiswa memiliki posisi sentral di dalam perubahan sosial-politik. Sehingga, potensi sebagai seorang mahasiswa seharusnya menjadi pelecut untuk senantiasa hadir dalam garda terdepan perubahan. Tidak sekedar menjadi mahasiswa menye-menye yang rapuh mentalitas dan idealismenya. Mencukupkan diri berbangga saat mengenakan jas almamater, namun minim kontribusi.

Namun, potensi sebagai intelektual terdidik tidaklah pernah cukup untuk meraih kebangkitan hakiki. Ada satu hal lagi yang harusnya hadir dan menjadi landasan segala potensi itu. Mengapa perlu landasan? sebab jika segenap potensi tersebut dibiarkan berjalan tanpa landasan, maka yang terjadi adalah mahasiswa mudah dibelokkan dari peran dan kontribusi yang seharusnya mereka realisasikan untuk masyarakat. Betapa banyak kita saksikan, mahasiswa yang seolah tak lagi memiliki motivasi untuk belajar membenahi tatanan, masa bodoh rakyat menderita asal mereka duduk nyaman. 

Landasan tersebut bermuara dari sebuah pemahaman, sebab hanya ada dua hal yang akan menjadikan seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu. Yakni pemahaman atau nafsunya. #backtomuslimidentity, kembali kepada identitas sebagai seorang muslim akan menghantarkan pada pemahaman bahwa tidak hanya status sebagai mahasiswa yang menjadikan mahasiswa memiliki kesadaran membenahi. Lebih dari itu, status sebagai seorang muslim seharusnya menjadikan mahasiswa berpikir berulang kali bahkan takut untuk memilih diam dan seolah tuli atas setiap kedzoliman yang terjadi. Sebab setiap amal dan diamnya tentu tidak akan lepas dari pengawasan Allah. Pemahaman tersebut yang akan menjadi landasan untuk mengokohkan.

Ketika seorang mahasiswa belajar, semata ia lakukan untuk mendapat keridhaan Allah. Ketika melakukan penelitian, semata ia lakukan untuk menghadirkan solusi atas problematika ummat. Ketika mendapati sebuah kedzoliman, maka ia tergerak untuk menyuarakan keadilan. Mahasiswa yang tidak mempan dinina-bobokan, tidak mudah silau akan gemerlap lantas surut kepekaan dan idealismenya. Bagi mahasiswa sejati, berkontribusi bukanlah sekedar menggugurkan peran, disaat yang sama ia sedang melakukan perniagaan dengan Allah. Sehingga teraihlah kemuliaan akhirat yang akan menghantarkan pada kemuliaan dunia.  Wallahu a’lam bisshawab.[Back To Muslim Identity]

Post a Comment

0 Comments