‘Bimaristan’ Rumah Sakit Idaman Dalam Sejarah Peradaban Islam

Oleh : Reza Indra Wiguna, S.Kep.,Ns (Anggota HELP-S)

DALAM rentang sejarah peradaban islam, segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Negara khilafah tidak melepas perhatian sedikitpun termasuk urusan kesehatan warganya, hal ini wajib diperhatikan oleh seorang khalifah sebagai pemimpin untuk melakukan pelayanan. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw. “Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya“ (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Perhatian terhadap urusan kesehatan dan pendirian rumah sakit menjadi penting sejak masa Rasulullah Saw hingga masa kekhilafahan islam. Bagaimana tidak, dengan kepentingan dakwah dan jihad, semakin bertambah dan luasnya wilayah islam. Urusan kesehatan masyarakat maupun militer menjadi sistem kesehatan yang terbangun diatas pondasi yang kuat berdasarkan petunjuk kenabian. Sehingga konsep kebutuhan lembaga dan bangunan untuk tempat merawat dan mengobati akhirnya digagas. Hal ini bisa dilihat dalam rentang sejarah abad pertengahan hingga masa kegemilangan peradaban islam. Rumah sakit  pada waktu itu dikenal dengan sebutan ‘Bimaristan’ serapan dari bahasa persia, Istilah modernnya disebut ‘Rumah Sakit’ atau ‘al-Mustasyfa”.

Dalam lembaran sejarah, di dunia Islam telah membangun rumah sakit berlevel tinggi. Mulai desain bangunan hingga manajemen pengelolaan, sekaligus menjadi fakultas kajian ilmu medis. Sangat bertolak belakang Jika dibandingkan dengan peradaban barat di Romawi maupun Yunani, pengobatan masih dianggap hal yang mistik yang masih mempercayai ritual ritus-ritus sebagai sarana penyembuhan yang dikakukan di kuil atau dikenal dengan Asclepius.

Peran penanganan kesehatan secara terorganisir dalam sejarah diawali dalam menangani kasus untuk penyakit kusta. Pelayanan ini diinisiasi oleh khalifah Bani Umayyah al-Walid bin Abdul-Malik pada tahun 710 M. Setelah itu, beberapa lembaga seperti rumah sakit didirikan di kekhilafahan Islam. Rumah sakit tersebut dianggap sebagai basis ilmu pengetahuan terhadap kesehatan. Rumah sakit islam pertama dibangun pada era khalifah Harun Al-Rasyid dari Bani Abbasiyah di Baghdad. Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad tersebut merupakan ide dari Al-Razi, dokter muslim terkemuka yang dikenal oleh barat dengan nama Rhazes. RS ini kemudian berkembang menjadi pusat pengobatan dan menjadi cikal bakal melahirkan RS lainya di seluruh wilayah khilafah islam.

Di kota-kota besar negeri Islam, terdapat beberapa rumah sakit yang menjadi pusat sains dalam pengembangan dan penelitian kesehatan. sebutlah diantaranya rumah sakit al-A’dudi di Baghdad, yang didirikan oleh A’dud al Dawlah ibn Buwayh pada tahun 981 M, sebuah rumah sakit yang memiliki fasilitas perpustakaan besar dan apotek lengkap. Salah satu RS modern terbesar selanjutnya adalah Rumah Sakit al-Nuri di Damaskus, yang didirikan pada tahun 1154 M oleh Nuruddin Mahmud Zanki seorang khalifah Umayyah. RS ini sudah menggunakan rekam medis. Dalam sejarah perkembangannya, inilah RS pertama di dunia yang menggunakan rekam medis pasien.

Tak kalah hebat Rumah sakit Al-Mansuri di Kairo yang didirikan pada 1284 M, RS ini memiliki kualitas akurasi dan organisasi, mampu menampung lebih dari empat ribu pasien setiap  harinya. sosok Ibnu al-Nafis dibelakang perkembangan al-Mansuri yang menjadi direktur rumah sakit di wilayah Mesir tersebut. Berseberang ke Afrika Utara tepatnya di Maroko terdapat Rumah Sakit Marakesh. RS ini dibangun tahun 1190 oleh al-Mansur Ya’qub ibn Yusuf. Saat itu Marakesh merupakan RS besar nan indah. Halamannya penuh bunga dan pepohonan. Sedangkan di Andalusia terdapat Rumah Sakit Granada yang dibangun pada tahun 1366, dan tercatat di ibu kota Cordoba saja ada lebih dari lima puluh rumah sakit lainnya. Menurut Dr Hasim Hasan Naqvi dalam artikel “Four Medieval Hospital in Syiria” yang di kutip muslimheritage.com Seiring waktu, rumah sakit ditemukan di semua kota-kota Islam. Sementara selama puncak Kekhalifahan Abbasiyah, lebih dari enam puluh rumah sakit disajikan kota Baghdad saja.

Dimasa peradaban Islam, Bimaristan tak hanya menjadi pusat pengobatan, disamping itu juga berfungsi sebagai kampus, tempat menimba ilmu dan riset di bidang kesehatan. Sebuah tempat dimana mendidik para tenaga kesehatan dari perawat, dokter hingga apoteker, yang melahirkan para ilmuwan, sehingga dapat menghasilkan berbagai macam penemuan ilmiah dibidang kesehatan, karya-karya mereka dijadikan sebagai referensi ensiklopedi kedokteran. Dari pengenalanan anatomi, penemuan sirkulasi darah, bahkan proses tindakan pembedahan baru diperkenalkan, hal ini merupakan hasil riset yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan RS dan dunia medis.

/ Konsep Pelayanan /

Dr Mushthafa As-Siba`i menggambarakan desain dan pengelolaan bimaristan dalam bukunya “Min Rawai` Hadlaratina”. Sejak awal para dokter memilih tempat yang baik untuk bangunannya. Misalnya saja, rumah sakit A’dhudi Baghdad. Untuk mengetahui kondisi kebersihan lingkunganya, ar-Razi menempatkan empat buah daging mentah selama satu malam di beberapa penjuru, tempat daging yang paling segar dipilih sebagai tempat berdirinya Rumah sakit. Ini menandakan bahwa dilingkungan yang bersih, terdapat sedikit kuman yang menginvasi daging.

Adapun pengelolaan di mayoritas seluruh Bimaristân, pasien laki-laki dan perempuan dirawat di ruangan berbeda. Setiap bagian terdiri dari juru perawat dan dokter dan dikepalai dokter ahli. al-Siba’i memaparkan hampir semua layanan digratiskan bagi semua lapisan masyarakat. Semua unsur yang ada dalam rumah sakit mendapat perhatian penuh dari segi pelayanan, makanan, pakaian, sanitasi lingkungan, sampai pembekalan pascakesembuhan. Dalam sebuah artikel yang berjudul “Arabian Medicine in The Middle Ages, Journal of the Royal Society of Medicine” yang terbit pada 1984. Rumah sakit yang tersebar di kawasan Arab memiliki karakteristik yang khas. Di antaranya, melayani semua orang tanpa membedakan warna kulit, agama, serta strata sosial. Hal tersebut dituliskan Nigel Shanks dalam penelitinya.

Hossam Arafa dalam tulisan berjudul “Hospital in Islamic History” menyebut, bimaristan senantiasa memperhatikan pasokan air dan kebersihan kamar mandi. Dalam kondisi sehat ataupun sakit, shalat tetap merupakan sebuah kewajiban. Dalam tahap penyembuhan, pasien akan dipindahkan diruangan khusus. Jika telah benar-benar sembuh maka dia diberi pakaian baru dan pesangon sampai pasien tersebut benar-benar bisa bekerja dan beraktifitas secara normal. Model ‘service’ seperti ini tetap berlanjut, pelayanan tersebut pernah membuat orang prancis berdetak kagum saat mengunjungi Al-Mansuri.

Dari sini kita tahu bahwa islam mempunyai sejarah yang kuat dalam membangun dunia. Keberadaan bimaristan menjadi bukti rekaman sejarah tentang betapa tingginya peradaban Islam pada masa tersebut. Fakta ini sekaligus memberikan gambaran kemajuan negara Khilafah dalam mengembangkan sains dibidang kesahatan islam yang mendahului peradaban barat. Sistem pengobatan dan pelayanan warga negara dilaksanakan secara manusiawi berdasarkan bimbingan Ilahi. Hal ini karena Islam sangat memperhatikan urusan kesehatan ummat.[]

Post a Comment

2 Comments

reza wiguna said…
blognya keren, terimaksih
makasih juga mas,maaf copas tidk izin