BEM (Barisan Emak-Emak Militan)

RemajaIslamHebat.Com - Di tengah-tengah mlempemnya gerakan mahasiswa, akhir-akhir ini media dihebohkan dengan bangkitnya BEM.
Bukan Badan Eksekutif Mahasiswa, tapi Barisan Emak-Emak Militan, demikian Prof. Suteki (guru besar hukum Undip) menjuluki.

Ditangkapnya seorang ibu rumah tangga Asma Dewi atas status socmednya yang mengungkapkan keprihatinannya tentang kondisi umat, salah satunya Rohingya.

Namun sayangnya, ungkapan kepedulian tersebut kemudian direspon sebagai ujaran kebencian dan dinilai melanggar UU ITE sehingga beliau dipolisikan.

Banyak simpati ditujukan netizen kepada ibu Asma Dewi.

Bahkan menuai apresiasi positif dari kalangan intelektual atas kepedulian beliau terhadap kondisi umat baik nasional maupun internasional.

Dari sosok ibu Asma Dewi kita patut bercermin, bahwa #kepedulian bukan hanya milik generasi pemuda atau mereka yang "free".
Bahwa ibu-ibu yang banyak berkutat di lingkungan domestik juga harus bahkan wajib #peduli dengan kondisi umat. Ibu-ibu juga layak ngomong politik.

Mengapa? Ada banyak alasan kaum muslimah layak peduli dan terlibat aktif dalam amar makruf nahiy Munkar.

Pertama, karena kita adalah seorang muslim. Salah satu karakter mulia seorang muslim adalah #peduli. Banyak nash syar'i yang memerintahkan kaum muslimin untuk peduli dan terlibat aktif dalam perubahan sosial-politik. Bahkan Amar ma'ruf nahiy Munkar menjadi salah satu ciri mukmin sebagai Khoiru Ummah (umat terbaik), sebagaimana firman Allah SWT:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
[TQS. Ali Imron: 110]

Peran aktif dalam amar makruf nahiy Munkar banyak dicontohkan oleh muslimah di masa Rasul Saw dan Khulafaur Rasyidin. Salah satu contoh kisah masyhur ketika seorang muslimah mendengarkan pidato Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab. Dalam pidatonya, Umar melarang pemberian mas kawin secara berlebih-lebihan dan menyerukan untuk membatasi mas kawin dalam jumlah tertentu.

Lantas muslimah itu menampakkan diri seraya berkata, “Anda tidak berhak menentukan hal itu, wahai Umar!” Umar pun kemudian bertanya, “Mengapa?” Wanita itu pun menjawab, “Karena Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?” (An-Nisa’ 20).

Para sahabat mendiamkan sikap muslimah ini. Itu artinya para sahabat memahami dan menyepakati hak amar makruf nahiy Munkar bagi kaum muslimah.

Kedua, banyak sekali persoalan umat yang layak disikapi ibu-ibu. Siapa bilang urusan di dapur, sumur dan kasur jauh dari urusan umat?

Mahalnya harga LPG dan TDL akibat pencabutan subsidi energi, mahalnya biaya pendidikan anak karena kapitalisasi pendidikan, mahalnya sembako sebagai akibat kebijakan impor, sulitnya mendidik generasi Sholih akibat liberalisasi media dan kurikulum sekuler, dll.
Semua itu wajib disikapi oleh para ibu. Untuk menjalankan tugasnya dengan baik, butuh lingkungan yang kondusif, sekaligus wajib menciptakan lingkungan yang kondusif dengan menjalankan fungsi kontrol sosial-politik. Disamping itu adalah hak para ibu sebagai bagian dari rakyat untuk menerima pelayanan yang sebaik-baiknya dari negara.

Bahkan sebagai ibu generasi, seorang muslimah wajib memiliki kecerdasan & kepekaan sosial-politik. Generasi calon pemimpin butuh pendidik yang bisa mengajarkan tentang kepemimpinan di tengah-tengah masyarakat & negara, berikut kemampuan mensolusi problem sosial-politik yang tepat. Ibu adalah madrosatul 'ula (sekolah pertama & utama) bagi generasi.

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam amar makruf nahiy Munkar. Rasul Saw bersabda yang artinya:
"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Karenanya para ibu dan generasi muda muslimah calon ibu, yuk peduli, yuk amar makruf nahiy munkar mewujudkan Indonesia sebagai Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Jika tak mampu merubah dengan tangan (kekuasaan), setidaknya kita bersuara baik secara lisan maupun tulisan. Allahua'lam bish showwab.

Sumber:

Fp: Info Muslimah Jember

Post a Comment

0 Comments