Belajar Memahami Framing Dari Kasus Dodik Ikhwanto

Oleh : Pristian Surono Putro ( Founder KomunitAs SUka BAca / KASUBA Wonosobo )

DUNIA Sosmed untuk kesekian kalinya dihebohkan dengan sosok Dodik Ikhwanto, ada apa ? Dikabarkan Kepolisian telah menangkap yang bersangkutan dengan delik telah melakukan penghinaan terhadap Istri Pak Jokowi. Yang bersangkutan ditangkap oleh Kepolisian setelah mengunggah status di sosmed ( instagram ) yang isinya menyerupakan Istri Pak Jokowi dengan sebutan yang buruk ( sengaja tidak saya tulis disini ).

Namun justru yang menjadikan heboh adalah justru ketika beberapa media sebagaimana yang beredar di sosmed mencoba mengkaitkan yang bersangkutan dengan sebuah pergerakan Islam tertentu, entah dengan bahwa yang bersangkutan  mendapatkan sebutan sebagai " simpatisan"," pendukung", " anggota " dan atau yang semisalnya. Dari mana asal muasal pengkaitan ini ?

Dari membaca beberapa berita, pengkaitan yang bersangkutan dengan dengan pergerakan Islam tertentu adalah ketika pihak kepolisian yang menangani kasus ini menjelaskan di depan khalayak publik dengan menghubungkan yang bersangkutan dengan suatu pergerakan Islam tertentu dengan menemukan beberapa pernak-pernik " yang dianggap" oleh Kepolisian sebagai simbol pergerakan Islam tertentu.

Dari sinilah FRAMING oleh media tertentu mulai beredar luas, yakni bahwa yang bersangkutan adalah " simpatisan ", " pendukung", bahkan menyebut sebagai " anggota " dari pergerakan Islam tertentu. Walaupun hal ini sudah disanggah oleh Representatif Pergerakan Islam ( Ustad Ismail Yusanto ) yang DIFRAMING negatif ini bahwa yang bersangkutan bukanlah anggota pergerakan Islam yang dipimpinnya ( Hizbut Tahrir Indonesia ), lebih jauh dari itu beliau menegaskan bahwa yang bersangkutan dalam pandangan Islam harus mendapatkan sanksi tegas, karena menuduh dengan tuduhan sebagai pezina tanpa bukti, hal ini sangat berat dalam Islam.

Melihat FRAMMING ini Nitizen kritis mencoba untuk membongkar framming ini agar masyarakat mengerti bahwa ada " pembunuhan Karakter " terhadap Pergerakan Islam tertentu, dan atau umat Islam secara luas. Yakni dengan semacam contoh Framing tandingan bahwa ternyata dari penulusuran Nitizen didapati bahwa yang bersangkutan Dodik Ikhwanto dari hasil penelusuran di status facebooknys adalah pada masa pemilihan Presiden adalah termasuk Pendukung Pak Jokowi. Nitizen dengan kritis mencoba memberikan pembelajaran Framing seolah-olah bertanya mengapa tidak  diframming bahwa yang bersangkutan dikaitkan dengan " sebagai pendukung Pak Jokowi ? " atau mengapa tidak dikaitkan bahwa yang bersangkutan adalah Jokower's ( untuk menyebut pendukung Jokowi ) ?

Tulisan ini bukan untuk saling " mengkecebongkan " satu sama lain, bukan pula " mensumbu pendekkan " satu sama lain. Namun lebih agar kita bisa belajar memahami apa yang disebut dengan istilah FRAMMING. Framming, dalam sebuah tulisan di wikipedia ketika menjelaskan istilah Framing didefinisikan sebagai  :
" membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Framing merupakan metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dobelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis. Hal ini sangta berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak. Analisis framing digunakan untuk mengkaji pembingkaian realitas (peristiwa, individu, kelompok, dan lainnya) yang dilakukan oleh media massa.  Pembingkaian tersebut merupakan proses konstruksi, yang berarti realitas dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu. Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak. Dalam praktik, analisis framing banyak digunakan untuk melihat frame surat kabar, sehingga dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarnya meiliki kebijakan politis tersendiri."

Dalam kasus Dodik Ikhwanto faktanya adalah Bahwa ada seseorang yang atas nama akun Dodik Ikhwanto yang dalam statusnya menyamakan istri Pak Jokowi dengan sebutan hinaan. Sampai disini sebenarnya selesai sebagai sebuah fakta kejadian. Sementara Framing adalah ketika pihak Kepolisian mencoba mengkaitkan dengan pergerkaan Islam tertentu, dan media tertentu menyebarkan framing ini di ruang-ruang sosmed. Termasuk " Framing tandingan " juga oleh Nitizen kritis yang mencoba mengkaitkan bahwa yang bersangkutan adalah Jokower's. " Framing tandingan " nitizen kritis ini lebih terlihat sebagai agar adil dalam melihat persoalan ini.

Termasuk siapa saja yang membaca tulisan ini juga perlu kritis, jangan-jangan tulisan inu juga bagian dari Framing ?

Post a Comment

0 Comments