Belajar Etika

Oleh : RudiniDPSI

SEINGAT Kami, dulu pernah ada yang inbox ke Kami menanyakan suatu produk Developer X ke Kami dan itu tidak hanya sekali. Kebetulan yang bertanya tertariknya di daerah yang sama dengan yang sedang Kami pasarkan. Dalam hati, "ah tidak mengapa Saya sarankan saja produk Kami, toh daerahnya sekitaran itu juga, konsepnya juga sama, walau berbeda perusahaan", demikian godaan itu membisiki qalbu.

Namun, Kami menepisnya, karena ternyata, ETIKA itu penting. Walau yang inbox tidak merasa keberatan karena dia mendapatkan produk yang kurang lebih sama, bahkan bisa lebih bagus misalnya, dan si Developer X tadi toh tidak mengetahui, tetap saja menurut hemat Kami itu TIDAK BERETIKA.

Di lain waktu, saat Kami mengelola kos-kosan, banyak yang lalu datang bertanya harga, melihat kualitas kamar, jika tidak sesuai harapan, misalnya budget tidak mencukupi, Kami rekomendasikan mereka ke tempat lain. Bukan malah sebaliknya, ketika ada yang datang bertanya, yang nanya salah alamat, Kita tahu alamat yang dimaksudkan, namun justru Kita malah menawarkan apa yang Kita miliki..

Setidaknya itulah yang Kami ajarkan kepada seluruh TIM untuk menjaga etika. Dalam bisnis, sesama Pengusaha Muslim itu terdapat etika (baca: ahlak), tempatnya kira-kira ada di antara hukum halal haram, ia bisa jadi tak haram, namun tak baik untuk dilakukan, sebab itu mencerminkan kualitas dan kapasitas. 

Hal serupa pernah Saya dengarkan langsung bagaimana seorang ustadz kondang menyampaikan cerita menyoal etika ini. 

Alkisah nyata, terdapatlah seorang anak yang sejak kecil dijadikan anak angkat oleh seorang Bapak yang juga seorang pedagang kelontong cukup besar, tidak hanya itu, ia juga dibiayai pendidikannya hingga kuliah selesai. Selama itu, ia hanya diminta untuk membantu si Bapak tadi, hingga ia tahu semua alur proses dari berdagang kelontong.

Suatu waktu, seorang investor menjumpainya, menawarkannya untuk membuka toko kelontong tepat di depan milik si Bapak angkatnya. Kata si Investor, "semua modal Saya yang tanggung, Kamu yang kelola Aku yang modalin, Kita bagi hasil, dari pada Kamu terus-terusan jadi tukang jaga di warung si Bapak tadi"

Rupanya, si Anak tadi terpengaruh bujuk rayu si Investor, singkat cerita mulailah toko kelontongnya beroperasi, yang lokasinya tepat di depan milik Bapak Angkatnya. Awalnya sangat ramai, secara perlahan mulai meredup, bahkan tak sanggup lagi menutupi 'iuran' bunga bank setiap ditagih. Akhirnya, tokonya harus tutup, dan semua kerugian dia sendiri harus menanggungnya, sebab si investor tadi menjadikan nama si Anak tadi sebagai debitur pada Bank tempatny meminjam.

Mengetahui hal tersebut, si Bapak Angkatnya merasa sedih menyaksikan, dia tergerak untuk membantunya.

Di sela obrolan mereka berduai, Si Bapak hanya bisa berucap lirih "Nak, Bapak nggak marah jika Kamu buka toko itu, walau tepat di depan toko Bapak, malah Bapak bangga karena Kamu ini sudah bisa mandiri, ilmu yang Kamu dapatkan sudah bisa diaplikasikan. Tapi yang Bapak sesalkan, MENGAPA KAMU NGGAK NGOMONG? Padahal jika Kamu ngomong, Bapak yang akan buka kan toko itu untukmu, namun Kamu sama sekali tak menyampaikan satu kata pun"

BAHKAN ada hal yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh si anak tadi. Kalau si Bapak sebenarnya menginginkan anak tersebut kelak ketika dirinya wafat, seluruh usaha miliknya diberikan kepada si anak tersebut, tidak hanya itu, dia juga akan DINIKAHKAN dengan putri semata wayangnya.

Namun, apa daya, kini ia sudah kehilangan kepercayaan, anaknya kini telah dinikahkan dengan lelaki yang lain. Dan usaha miliknya pun telah bubar.!

Sahabatku, Saya tidak ingin mengajarimu tentang apa itu etika, sebab Saya juga masih terus belajar menyelami makna setiap tinda tanduk. Untuk guru-guruku, maafkan Saya bila masih ada ketidaberadaban dalam bermu'amalah selama ini. Itu terjadi karena semata Saya belumlah dewasa dan matang, jangan sungkan, tegurlah dan maafkan bila itu sudah terjadi.

Sumber:

Fb: Rudini

Post a Comment

0 Comments