BANGKITNYA KOMUNISME dan Evaluasi Arah Dakwah Kita

Oleh : Siti Nafidah Anshory (Peminat Masalah Politik dan Isu-isu Gender)

Kebangkitan kembali ideologi komunis di Indonesia nampaknya memang bukan sekedar isapan jempol. Munculnya simbol-simbol, jargon-jargon, bahkan person dan komunitas-komunitas yang secara atraktif mengidentifikasi dirinya sebagai penganut ideologi ini menunjukkan bahwa komunisme memang sedang merintis jalan untuk kembali.

Tentu fenomena ini harus diwaspadai. Sejarah kelam hubungan bangsa ini dengan PKI akan senantiasa tercatat baik dalam benak umat, bukan hanya di film G30S/PKI. Sejak tahun pemberontakan itu, bangsa ini seolah sudah mengambil janji, tak ada lagi tempat bagi PKI!

Namun apa yang terjadi hari ini? Sebagian generasi justru sedang membangun mimpi hidup dengan platform perjuangan PKI. Ada apakah gerangan?

Bagi saya, munculnya isu kebangkitan PKI atau ideologi komunisme tak lebih meresahkan dari bercokolnya kehidupan serba sekuler akibat penerapan ideologi kapitalisme selama ini. Namun, tanpa bermaksud mengecilkan bahaya PKI, saya memiliki pandangan lain terkait fenomena bangkitnya PKI. Yakni bahwa fenomena ini bisa dibaca sebagai harapan sekaligus tantangan.

Harapan, karena ini berarti sebagian umat sudah menyadari bahwa sistem kapitalisme yang kini tengah mengungkung bangsa Indonesia telah terbukti membawa kerusakan dan kesengsaraan. Gap sosial makin menganga dan penjajahan politik dan ekonomi negara adidaya pun makin menguat. Semua ini yang membuat umat mulai berpikir tentang perubahan sosial dengan mencampakkan sistem kapitalisme dan menggantinya dengan sistem yang lain.

Tantangan, karena ini berarti masyarakat hanya paham bahwa ideologi yang bisa menggantikan kapitalisme ini hanya komunisme. Padahal komunisme adalah ideologi yang memiliki cacat bawaan dan tak bisa diharapkan. 

Asas materialismenya jelas-jelas batil. Sementara aturan hidup yang lahir dari asas batil itu sudah terbukti gagal menciptakan masyarakat ideal yang diimpikan. Bahkan, peradaban yang dibangun sebagai antitesis bagi kapitalisme ini justru hancur lebih cepat daripada peradaban kapitalisme yang dikritiknya itu.

Walhasil, fakta ini seharusnya menjadi evaluasi sekaligus PR besar bagi para ulama, ustadz, jamaah, ormas, dan parpol Islam, terkait aktivitas dakwah yang dilakukan selama ini. Mengapa bukan Islam yang mereka pilih sebagai pengganti peradaban kapitalisme? Mengapa mereka malah mencoba membangun kembali puing-puing peradaban marxist dan lenninist yang fondasinya rapuh dan tiang-tiangnya keropos?

Bagi saya jawabannya sudah sangat jelas. Secara fakta, dakwah kita hari ini masih banyak berkutat pada aspek-aspek ritual individual dan sedikit soal akhlak. Kalaupun ada yang membahas soal muamalah semisal hukum-hukum jual beli, bisnis, keuangan syariah, atau hukum-hukum tentang keluarga (NTCR), semuanya dibahas dalam konteks amal individual, bukan dalam konteks membangun konstruksi sistem.

Ibaratnya kalau kita membahas kitab-kitab fikih Islam, selama ini kita hanya berkutat di bab thaharah, ibadah mahdhah, nikah, thalaq, dan muamalah saja. Jarang sekali ada majelis kajian yang menamatkannya hingga akhir, semisal bab hukum persanksian, sistem ekonomi makro semacam sistem moneter, perdagangan dalam negeri, apalagi bab politik luar negeri semacam jihad dan sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Padahal, hampir semua kitab fikih, termasuk yang paling sederhana semisal FIQIH ISLAM karya KH. Prof. Sulaeman Rasyid pun membahas Islam dari urusan thaharah hingga Khilafah.

Wajarlah jika hingga saat ini tak pernah terbayang di benak umat fungsi Islam sebagai tuntunan dan solusi hidup sekaligus pembangun peradaban. Bahkan, saat berbagai krisis mendera, para ustadz dan ulama hanya bisa menyodorkan kata "shabar" dan perintah berdoa sebagai wujud kegagapan pemahaman agama sekaligus pembungkus sikap putus asa.
Rupa-rupanya, pengaruh sekularisasi dan penyesatan politik sudah sedemikian parah mencengkeram umat ini. Sehingga nyaris setiap level masyarakat sudah kehilangan gambaran yang utuh tentang agama Islam.

Islam tak lagi dipahami sebagai sebuah ideologi yang mampu menjadi fondasi sebuah peradaban mulia. Mereka asing dengan rumahnya sendiri. Bahkan malu menyematkan identitas keislaman dalam seluruh perilaku dan interaksi yang dibangunnya, termasuk dalam pergaulan dan berpolitik.

Mereka juga tidak kenal dengan sejarahnya sendiri yang penuh dengan catatan-catatan emas. Bahkan, mereka amnesia terhadap peradaban Islam yang bertahan 14 abad dan tak bisa dinafikan jasanya bagi kebangkitan peradaban Barat yang telah lama jatuh dalam sejarah kelam dominasi kekuasaan feodalis yang berkolaborasi dengan kaum gerejawan.

Sungguh, kehebatan Islam sudah tertutup oleh kebodohan umatnya sendiri. Padahal, jika Islam dipelajari utuh, maka akan nampak bahwa hanya Islam yang layak menjadi tumpuan harapan umat. Aqidahnya yang lurus,  sesuai akal dan fitrah manusia, akan menjadi jaminan kehidupan yang tentram dan menentramkan. Aturan Islam yang lahir dari akidah yang lurus tadi akan menjamin kehidupan yang teratur, sejahtera dan menyejahterakan.

Islam yang menegaskan posisi Allah sebagai Rabb Semesta Alam sekaligus sebagai satu-satunya Pembuat Aturan Kehidupan, telah memberi manusia panduan bagaimana setiap sisi hidup mereka harus dijalankan. Baik dalam konteks manusia sebagai individu, maupun manusia sebagai makhluk sosial yang mengenal konsep hidup berkeluarga maupun bermasyarakat dan bernegara. Dengan aqidah dan aturan itulah Islam memberi jaminan kesuksesan bagi manusia dalam mengemban misi penciptaan sebagai hamba sekaligus khalifah pemakmur semesta, yang dengannya manusia akan beroleh kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Betapa dengan kajian yang utuh, dari akar hingga daunnya, ideologi Islam akan memancarkan harapan besar bagi dunia yang hari ini sudah di ambang kehancuran. Dengan dakwah Islam kaffah pula, umat tak akan sesat pikir, mengambil ideologi kufur buatan manusia dan malah mencampakkan obat mujarab kehidupan ciptaan Allah SWT.[]

Post a Comment

0 Comments