AISYAH BINTI ABU BAKAR R.A., Wanita Mulia dengan Segudang Ilmu

RemajaIslamHebat.Com - Ilmu adalah harta yang tak tergantikan oleh apapun. Dalam sejarah Islam, tak hanya kalangan pria, wanita pun mendapatkan kedudukan mulia dalam mencari ilmu. Banyak muslimah yang layak menjadi teladan dalam hal kepandaiannya. Salah satunya adalah Aisyah Binti Abu Bakar, istri Rasulullah SAW sendiri.
            

Aisyah adalah putri Abu Bakar al-Shidiq r.a bin Abu Quhafah, salah seorang tokoh suku Quraisy yang sangat disegani dan dihormati.  Ayahnya juga termasuk salah seorang dari empat khalifah yang dekat  dengan Rasulullah SAW. Ibunya bernama Ruman Binti Amir bin ‘Uwaymir al-Kinaniyah. Aisyah dilahirkan pada tahun ke4 setelah kenabian. Dua tahun setelah wafatnya Khadijah ra, datang wahyu kepada Nabi SAW untuk menikahi Aisyah r.a Jibril membawa kabar kepada Rasulullah SAW bahwa Aisyah istrinya di dunia dan di akhirat, sebagaimana diterangkan Dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah ra., ”Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi SAW, lalu berkata ’ini adalah istrimu di dunia dan di akhirat’ ”
               

Mendengar kabar itu Abu Bakar dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah SAW setuju menikahi  putri merka,  Aisyah.  Dengan izin Allah SWT menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham.  Aisyah tinggal dikamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi.  Dikamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat  turunnya wahyu.
               

Aisyah memiliki sifat sifat  yang sangat istimewa dan kedudukan mulia yang tidak dimiliki oleh wanita di dunia Islam waktu itu.  Kecerdasannya sangat menonjol dibandingkan istri istri  Rasulullah SAW yang lain ataupun wanita muslimah umumnya. Berbagai bidang keilmuan dia kuasai, dimana tidak ada wanita dijamannya yang mampu menandinginya.  Ia terkenal cerdas dan cendekia sehingga memiliki kemahiran dalam bidang sastra.  Dalam hal berpidato, khususnya dalam menyampaikan dakwah Islam atau pemahaman tentang hukum-hukum Islam, Aisyah dikenal sebagai orator. Retorikanya dalam menyampaikan pendapat selalu menarik perhatian, mudah dipahami dan menyentuh hati pendengarnya.
               

Bukan itu saja, Aisyah juga penyair yang paling andal. Ia mampu menciptakan kata-kata yang indah dalam bertutur kata, pun saat menyampaikan ilmu kepada kaumnya. Pendapatnya dalam hal-hal yang sifatnya umum, juga terkenal paling baik. Dalam hal ini banyak sahabat yang memuji kelihaian dan kepandaiannya.
                

Salah satunya Urwah bin al-Zubair. Ia berkata,   “Aku belum pernah melihat seseorang yang mahir dalam bidang Al-quran,  fiqih,  syair dan hadits yang melebihi kepandaian Aisyah ra. selain itu dia juga memiliki beberapa khotbah yang sangat terkenal.” Demikian pula Mu’awiyah. ”Aku belum pernah menemukan seorang orator yang lebih mengena dan berlidah petah selain Aisyah.” Puji Mu’awiyah.
               

Menurut satu riwayat, Aisyah meriwayatkan 2.210 hadis dari Rasulullah SAW . Hal ini wajar karena Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Bahkan Rasulullah SAW banyak menghabiskan waktunya di samping Aisyah, istrinya tercinta. Seringkali Rasulullah SAW menerima wahyu pada saat berada di samping Aisyah. Karena itu sayidah Aisyah seringkali berperan dalam membantu tugas suaminya sebagai Nabi, karena setiap saat dia mengetahui gerak-gerik dan kondisinya.
               

Hal itu memang menimbulkan kecemburuan diantara istri-istri Rasulullah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ummu Salamah, istri lain yang mencemburui Aisyah, ”Janganlah engkau menyakiti hatiku karena Aisyah. Demi Allah, aku tidak pernah berada didalam dekapan istriku untuk menerima wahyu kecuali didalam dekapannya.”
               

Begitulah, Aisyah sangat dekat dengan Rasulullah SAW  sehingga memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah SAW, jika menemukan  sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah SAW. Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi SAW. Tak heran bila para sahabat menjadikannya sebagai sumber rujukan dalam mencari hukum. Bahkan, para ahli hadits menempatkan Aisyah pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas Bin Malik dan Ibnu Abbas. Kedudukan ini jelas tidak ada bandingannya oleh wanita manapun
                

Setelah Rasulullah wafat, rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru dunia. Mereka datang tak hanya untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW. Yang memang berada di kamarnya, namun juga untuk menimba ilmu. Aisyahpun tak segan-segan memberikan fatwanya dari balik hijab, demi menjaga kemuliaan, kesempurnaan, keutamaan dan kesopanan yang melekat dalam dirinya.
                

Dalam mengeluarkan pendapat, Aisyah sangat berhati-hati dan tegas. Misalnya ketika istri-istri Nabi SAW hendak mengutus Utsman menghadap Khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi SAW yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah SAW telah berkata, ‘Kami para Nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan adalah  sedekah.”
                

Dalam penetapan hukum pun,  Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Ia tidak segan-segan memperingatkan mereka dan  memberi teladan dan penerapan hukum yang sebenarnya[]

Post a Comment

0 Comments