Untuk Apa dan Siapa

Oleh: Nafila Rahmawati

SATU hari masuk pesan Whatsapp dari kawan lama saya sejak kuliah. Kawan yang membersamai saya sejak zaman mondar-mandir asrama makara UI, kos di Jl. Pinang dan kegiatan tae kwon do rutin di Pusgiwa.

Kurang lebih, dia tau benar siapa dan tipe seperti apa seorang "saya".

Pesannya pendek saja, namun mencubit hati dan mengamukkan ombak yang tadinya surut di hati saya.

"Naf, daftar hakim deh. Kasian negara butuh hakim berintegritas"

Tentu, aroma keakuan langsung menyala liar. Kebanggaan pernah mengenyam pendidikan hukum di salah satu universitas terbaik bangsa menuntut untuk diejawantahkan dalam kontribusi nyata.

Ada sekelibat rasa terpanggil yang menyeruak, ada gemelitik rasa ingin menggembleng kapasitas diri dengan terjun kembali di dunia hukum, ada dada yang dipenuhi semangat untuk mengambil porsi dalam reformasi peradilan.

Berulang kali saya tanyakan ulang pada diri sendiri. Untuk apa. Untuk siapa.

=====

Bekerja bagi wanita bukan satu perkara mudah. Bukan berarti menikah dan lembaga keluarga adalah borgol berat untuk kaki-tangan mereka.

Tapi memang wanita, dikaruniai Tuhan insting dan passion nyata untuk membersamai keluarga lebih dari apapun juga.

Di antara gelombang Ibu yang memilih kembali ke rumah untuk memastikan pengasuhan orisinil dari tangan pertama, pasti akan selalu ada sekian Ibu muda yang ingin mengevaluasi kebermanfaatannya.

Maksud hati memeluk segala macam keinginan, tapi kedewasaan menuntut kita menempatkan urutan prioritas dengan sadar.

Tidak ada yang salah. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan Ibu bekerja selama dia menghayati betul kebermanfaatannya.

Ada Ibu bekerja yang memang dikondisikan alam harus menjadi tulang punggung keluarga, meskipun remuk badannya karena memang tidak ada yang akan menggantikan tugas menafkahi anak-anaknya.

Ada Ibu bekerja yang musti membersamai khalayak dengan kehadirannya. Karena subtitusi gender untuk wilayah kerjanya hanya akan melebihkan keresahan bagi ummat.

Ada Ibu bekerja yang menjamin redanya rasa gelisah orang tua mereka, karena satu dan lain hal masih harus menggantungkan pemenuhan kebutuhan primer pada anak-anak perempuan mereka.

Bekerja atau tidak bekerja, tidak melulu soal "ridho suami" tapi lebih tentang selesainya perang batin dengan diri sendiri dalam menempatkan prioritas.

Dunia sudah salah kaprah, tentang labelling ibu di rumah. Sejatinya mereka pun bekerja, dalam wilayah kerja domestik dan non formal. Ada job desc nyata yang mereka selesaikan.

Suara sumbang menggeneralisir ibu di rumah sebagai klan kucel penadah nafkah suami. Padahal soal nafkah, jika kita imani bahwa di dalamnya juga ada metafisika rezeki istri yang dititipkan Tuhan sepaket dengan rezeki suami.

Suara nyinyir lagi mengungguli, bahwa ibu di rumah hanya akan mengakibatkan korosi karena vakumnya otak mengerjakan sesuatu yang produktif. Padahal menjadi ibu rumah tangga adalah implementasi "the right man in the right place" dan soal distribusi tanggung jawab dalam berumah tangga.

Suara sok ahli pun menambahi, sayang sekolah dan ijazah kalau hanya disimpan dan tidak menghasilkan. Padahal ilmu tidak akan kadaluwarsa dan ukuran "menghasilkan" adalah soal keberkahan alih-alih nominal pendapatan.

Masifnya labelling inilah yang kemudian mendamparkan sekian banyak wanita, untuk kemudian ragu menempatkan jihad mengasuh keluarga.

Namun bagi mereka yang dengan segenap potensi dan kegemilangan akademis, yang menyimpan peta-peta cemerlang dari segi prestasi dan prestise lantas berani mundur sejenak demi membersamai langsung keluarga, maka mereka adalah petarung yang memenangkan medali ikhlas.

Pulangkan pertanyaan "untuk apa" dan "untuk siapa" setiap kali ada gejolak perasaan baper apakah harus wajib bekerja atau tetap bisa berkontribusi dari rumah saja.

Karena (mungkin) nantinya Tuhan akan mempertanyakan kebermanfaatan kita yang paling mutlak, yang paling mendasar.

Bekerjalah, ketika telah kita pastikan bahwa bekerjanya kita adalah untuk keberlangsungan kebutuhan kehidupan keluarga kita. Bukan untuk keberlangsungan pemenuhan "keinginan" duniawi semata.

Bekerjalah, ketika telah terjawab dengan sempurna essay panjang "untuk apa" dan "untuk siapa"

Bekerjalah, kembalilah membaktikan kebermanfaatan untuk dunia ketika telah kita pastikan selesainya tugas keibuan dan keistrian yang kita emban.

Tanpa perlu beradu mulut atau beradu prinsip, atau bahkan beradu dalil. Apoteker yang mampu menakar dosis kebutuhan kita-Ibu, untuk kembali bekerja atau tetap bekerja, adalah kita sendiri.

Bukan pemirsa yang mengawasi hidup kita secara serampangan.

=====

Di antara kita mungkin ada dokter dan perawat yang memilih "praktek" di rumah, ada akuntan yang memilih pembukuan rumah tangga ketimbang neraca jutaan dolar perusahaan besar, ada guru yang menjadi pengajar privat, ada yuris yang berlabuh dari kontrak perdata, ada bankir yang banting setir menjadi koki keluarga.

Ada banyak sekali wanita dengan potensi profesinya dan memilih meredupkan pentas gemilangnya dengan lentera ikhlas mengasuh keluarga.

Siapa tau Tuhan berkenan, dari asuh tangan dan keringat para ibu rumah tangga-lah reboisasi kualitas generasi mampu ditepati dan penerus pengurus Negara selanjutnya sedang dalam masa orientasi.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments