THE DEATH OF EDUCATION

Oleh: Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia

KALI ini mari kita perbincangkan masalah kematian pendidikan di negeri ini. Sering orang membicarakan tentang istilah ruh yang merujuk kepada makna rahasia kehidupan. Manusia akan dikatakan mati jika tidak lagi memiliki ruh. Bahasa sederhana ruh adalah nyawa. Namun ruh juga sering dikaitkan dengan istilah lain, semisal ruh pendidikan. Ruh pendidikan berarti nyawa pendidikan. Berarti pendidikan juga bisa dikatakan mati jika tidak lagi memiliki ruh. Lantas apa yang disebut dengan ruh pendidikan itu ?

Ruh pendidikan bisa dikatakan sebagai eksistensi pancaran nilai ketuhanan dalam sistem pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dikatakan memiliki ruh jika dikaitkan dengan keberadaan Tuhan [idra’ silla billah]. Pendidikan dikatakan mati jika tidak lagi mengkaitkan dirinya dengan eksistensi Allah. Memutus hubungan dengan Allah dalam sistem pendidikan berarti hakekatnya pendidikan itu sudah mati, tidak memiliki ruh lagi.

Pancaran nilai-nilai ilahiyah dalam sistem pendidikan menjadikan pendidikan itu sebagai bagian dari ibadah dalam rangkan pengabdian kepada Allah. Sistem pendidikan yang terdiri dari komponen visi, tujuan, kurikulum, guru, murid, metodologi, pembiayaan dan fasilitas harus merujuk kepada nilai-nilai ilahiyah jika ingin dikatakan pendidikan itu memiliki ruh. Karena itu visi pendidikan haruslah sejalan dengan visi penciptaan manusia oleh Allah. Melalui pendidikan seharusnya melahirkan generasi ulil albab sebagai pengejawantahan predikat  penghambaan kepada Allah.

Sekulerisasi pendidikan adalah upaya sistematik untuk memutuskan hubungan pendidikan dengan Allah. Sekulerisasi pendidikan artinya upaya membunuh pendidikan itu sendiri. Pendidikan sekuler dengan demikian adalah pendidikan yang telah mati. Jika pendidikannya mati, maka guru-gurunya tak ubahnya seperti mayat. Jika gurunya mayat, maka akan melahirkan siswa yang lebih dari mayat. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika pemerintahannya sekuler, maka akan melahirkan pendidikan sekuler pula, sebab ruh pendidikannya telah dibuang.

Meski tidak terlalu mengejutkan,  namun gagasan akan dihilangkannya pelajaran agama di sekolah oleh kemendikbud dengan mengajukan sekolah lima hari cukup menimbulkan berbagai pro dan kontra di masyarakat dan akademisi. Tidak terlalu mengejutkan karena memang pendidikan di Indonesia cenderung beraliran sekuleristik dimana agama ditempatkan dalam ranah privasi. Sementara pro kontra timbul karena kekhawatiran masyarakat akan nasib generasi mendatang jika agama tak lagi menjadi perhatian pemerintah.  Paradigma pendidikan sekuler sangat berbeda dengan paradigma pendidikan Islam.

Harus diakui bahwa salah satu komponen fundamental  bagi kualitas sebuah bangsa adalah pendidikan.  Sebagai investasi  jangka panjang, sistem pendidikan akan menentukan arah dan hitam putihnya sebuah bangsa. Paradigma sebuah bangsa terhadap hakekat pendidikan akan menghasilkan karakter  bangsa tersebut. Karena itu seluruh bangsa yang ingin maju senantiasa memberikan perhatian yang serius terhadap sistem pendidikan yang dibangunnya.  Pendidikan yang berkarakter akan menghasilkan bangsa yang berkarakter pula. Kehancuran sebuah bangsa adalah akibat kesalahan pandang terhadap eksistensi manusia yang dirumuskan dalam visi pendidikannya.

Islam sebagai jalan hidup memiliki paradigma yang khas terhadap pendidikan, terutama berkaitan dengan pandangan terhadap manusia, kehidupan dan alam semesta. Sebab ketiga komponen ini adalah produk hasil pendidikan. Artinya pendidikan Islam memiliki visi agung terhadap martabat manusia, kehidupan dan alam lingkungan kaitannya dengan eksistensi Sang Pencipta. Visi agung ini dibangun dengan  landasan aqidah dan spiritual berbasis Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam sistem pendidikan Islam, keduanya ditempatkan sebagai sumber nilai dan inilah yang membedakan dengan epistemologi  pendidikan sekuler. Narasi pendidikan Islam adalah upaya melahirkan generasi unggul di bidang intelektual sekaligus spiritual. 

Sementara paradigma  pendidikan sekuler didasarkan kepada epistemologi dikotomistik  dalam memandang manusia, kehidupan dan alam semesta dikaitkan dengan eksistensi kuasa Tuhan. Berbeda dengan Islam yang memandang pendidikan secara integralistik dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Karena itu visi, tujuan, dan  kurikulum  pendidikan Islam berkarakter paradigmatik. Keberadaan manusia dalam Islam harus berbanding lurus dengan tujuan penciptaannya. Sementara filsafat pendidikan sekuler mengabaikan faktor fundamental ini. Jikapun ada nilai etika dalam pendidikan sekuler, maka hal itu dibangun bukan karena kesadaran religiusitas, namun berdasarkan konsensus sosiologis yang anti metafisik. Sekulerisme mengabaikan peran etika agama dalam kehidupan.

Ilmuwan Barat sendiri sebenarnya sangat pesimistik terhadap filsafat pendidikan sekuler yang berkarakter empirik materialistik ini. Heidegger, dalam the End of  Philosophy, menggambarkan ‘akhir filsafat’ bukan dalam pengertian tidak ada lagi filsafat  namun memiliki makna berakhirnya filsafat sebagai jalan metafisik. Akhir metafisis dimulai ketika klaim ontologi sebagai pondasi dunia realitas mengalami kemerosotan sehingga dunia realitas tidak lagi menggantungkan pendefinisian dirinya pada model-model kebenaran metafisik tersebut – logos, eidos, substansi, esensi Tuhan – melainkan oleh kebenaran dalam dunia itu sendiri.

Michel Foucault melihat ‘kematian’ dalam berbagai wacana (discourse) sebagai sebuah diskontinuitas (discontiunity). Foucault berbicara tentang kematian subyek (death of subject) sebagai akibat diskontiunitas dari wacana modernitas ke arah wacana lain, yang didalamnya peran subyek manusia menjadi minimalis. Peralihan manusia sebagai penguasa dunia menjadi pengguna semata dari wacana, menggiring pada kematian manusia dalam pengertian antropomorfisme Descartes untuk diganti dengan konsep manusia wacana yaitu manusia yang dibentuk di dalam dan oleh wacana.

Dalam kematian manusia, yang ada adalah kedaulatan wacana (sovereignity of discourse) dalam merepresentasikan (manusia), yang di dalamnya subyek manusia tidak lagi memiliki kekuasaan atas dunia wacana itu. ‘Manusia’ yang merupakan penemuan filsafat Barat modern  itu, tukas Foulcault, kini telah berada dalam senjakala kematian.

Berbeda secara diametral dengan pandangan Islam tentang manusia dalam wacana pendidikan dan peradaban. Islam memandang manusia adalah sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Khalifah adalah status mulia dalam rangka menjaga nilai kemanusiaan, kehidupan dan alam semesta agar sejalan dengan tujuan yang telah Allah gariskan. Karena itulah mengapa dalam QS Az Dzariyat ayat 56, Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi sang pengabdi. Seluruh pola pikir dan sikap meski memiliki dimensi vertikal kepada Allah agar kehadirannya di dunia bisa menebarkan rahmat bagi alam semesta sesuai dengan tujuan diutusnya Rasulullah. Paradigma pendidikan Islam berkarakter konstruktif, sementara sekulerisme membawa efek destruktif.

Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, manusia diwujudkan menjadi manusia yang berdimensi spiritual, bukan manusia yang berdimensi material semata. Manusia spiritual adalah manusia yang mampu mengemban amanah kekhalifahan dalam rangka membangun peradaban mulia demi mengangkat derajat seluruh manusia. Manusia spiritual adalah manusia yang memiliki kepribadian sholeh, baik kepada dirinya sendiri, kepada Allah dan kepada sesama manusia. Kepribadian salehnya dikejawantahkan dalam seluruh aspek kehidupannya.

Allah menegaskan konsep manusia spiritual yang memiliki dimensi ilahiyah, ilmiah dan alamiah dengan istilah ulul albaab. Sebagaimana Allah firmankan dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 109-191 berikut, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albaab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.

Ayat ini dengan jelas menjelaskan dimensi-dimensi manusia dalam konsep Islam. Pertama, dimensi spiritual dalam arti manusia hasil didikan Islam adalah manusia yang senantiasa menjadikan Allah sebagai sumber kesadaran dirinya bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah, bukan seperti yang diklaim oleh paham materialisme. Kedua, dimensi sains dalam arti manusia dituntut untuk terus melakukan aktivitas intelektual berupa pemikiran dan penelitian atas fakta-fakta inderawi sedalam mungkin. Ketiga, dimensi kekhalifahan dalam arti bahwa pengelolaan kehidupan dan alam semesta mesti dipimpin sejalan dengan tujuan Allah menciptakan alam semesta. Akhirnya pilihan ada pada bangsa ini, mau membangun generasi destruktif atau konstruktif.

Jika negeri ini terus mempertahankan ideologi sekuler, maka pendidikan akan terus mati, membusuk dan beraroma busuk. Jika pendidikannya beraroma busuk, maka hanya akan melahirkan manusia-manusia busuk. Jika negeri ini mau membuang ideologi busuk sekulerisme dan mengganti dengan Islam, maka pendidikan akan hidup kembali dan melahirkan manusia-manusia mulia. Tinggal mau atau tidak. Itu saja.

Dan jika pendidikan tekan mati, lantas untuk apa sekolah ? []

Post a Comment

0 Comments