TERIAK MARAH KE ANAK? REFRAMING DULU YUK

Oleh: Amalia Sinta

SEMAKIN saya mempelajari tentang fitrah anak, semakin paham bahwa selama ini banyak melakukan penyimpangan dalam pengasuhan.

Dulu saya seringkali melarang, terlalu mengkhawatirkan, gak percaya dan meragukan kemampuan anak dalam berbagai hal sehari-hari.

Maka kini saya menyingkirkan ketakutan saya sendiri dan lebih memfasilitasi anak dalam bereksplorasi.

Salah satu cara saya supaya bisa mengawal fitrah anak dalam pengasuhan, adalah dengan melakukan REFRAMING.

Dalam psikologi, Reframing berarti mengubah sudut pandang.

Selama ini kita telah mempunyai sudut pandang yang disebut Frame.

Namun seringkali Frame kita itu menghambat diri kita sendiri, dalam konteks ini tentang pengasuhan.

Maka perlu untuk dilakukan Reframing untuk menge-set ulang cara pandang orangtua terhadap tingkah laku anaknya.

Ini beberapa contoh Frame dan Reframing yang telah saya terapkan.

Membantu sekali untuk mengurangi emosi dan menambah kesabaran.

Btw kalo ada online shop yang jualan stok sabar, kasih tau yey..

Mau saya borong

Nah dengan reframing ini, kita pun jadi bisa memahami pemikiran anak dan memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan daya pikir, logika, dan motorik kasarnya.

Keterangan :
X : frame
√ : reframing

♧♧♧

Masalah : Anak membantah, ngeyel, ga nurut.

X : iih ni anak ga sopan, berani melawan orang tua.

√ : Oh anakku udah bisa berpendapat sendiri. Bagus untuk mengembangkan kemampuan mengemukakan isi pikirannya.

PR Orangtuanya :

Turunkan ego kita. Anak punya pendapat atau cara yang beda, boleh donk..
Bukan berarti dia anak durhaka kan?

Ajari anak cara menyampaikan dengan baik, dengan kalimat biasa, bukan dengan teriak.

Maka emaknya pun diusahakan banget jangan teriak *ngomong ama kaca

♧♧♧

Masalah : Kakak gangguin adik sampai nangis.

X : Nakal banget sih si kakak.

√ : Kakak butuh perhatian, berarti emaknya kebanyakan megang si adek (atau hape?) wkwkwk..

PR Orangtuanya :

Kakak jangan dianggurin. Luangin waktu berdua buat bacain buku, temani susun lego, masak bersama, berkebun berdua, ato apalah-apalah.

Pokoknya judulnya berduaan. Quality time yang gak diganggu si adek kecilnya. Bisa saat adeknya tidur atau saat akhir pekan adeknya dipegang papanya.

Bonding antara ibu dan kakak yang diperbaiki akan membuat hubungan kakak dengan adiknya membaik juga.

Ga percaya? Just try it!

♧♧♧

Masalah : Anakku rewel kalo diajak arisan.

X : Bikin malu ajah, repot ga bisa diajak pergi.

√ : Anakku pasti udah capek, gerah, laper atau pengen tidur.

Ya kali ada anak demen lama-lama di arisan emak-emak..

Ga ada, Mak..

Taroh di playground, baru deh betah dia nya..

PR Orangtuanya :

Bawa mainan, buku, cemilan bahkan makanan besar saat ajak anak ke arisan atau ke tempat kumpul orang dewasa.

Batasi waktunya, daya tahan anak beda dengan kita. Perhatikan gerak-geriknya. Kalo dah bosan, lebih baik izin pulang lebih awal daripada anak jadi rewel dan lanjut nangis kejer.

Bakal heboh bener kan kalo ampe tantrum, huhu..

♧♧♧

Masalah : Anakku lari-lari terus, segala apaan dipanjat, pegangin semua barang.

X : Bahaya, bikin capek dan repot ajah. Jangan dibolehin deh.

√ : Anakku aktif, sehat, motorik kasarnya lagi berkembang dan penasaran akan semua hal, berarti rasa ingin taunya tinggi.

PR Orangtuanya :

Menjaga di sisi anak ketika memanjat, alasi lantai bawah dengan karpet, kasur lipat atau bantal.

Jauhkan barang berbahaya seperti pisau, kompor, lilin yang menyala. Pastiin ajah barang yang terjangkau anak tu bersih ya Mak hehe..

Puaskan rasa ingin taunya yang berarti memaksimalkan proses sinapsis otaknya bersambungan dengan baik.

Katanya kepengen punya anak pinter kan, Mak?

♧♧♧

Anakku hobi ngacak-acak, tisu, baju, bedak, semua yang rapi, sukses dia diberantakin.

X : Anakku tukang bikin kacau.

√ : Balita sedang belajar banyak hal dalam kegiatan "mengacak-acak" itu.

Penting ni Mak :

Studi tim peneliti dari University of Iowa : anak yang cenderung 'berantakan' atau suka mengacak-acak saat bermain, bisa belajar lebih baik.

Studi ini sudah diterbitkan dalam jurnal Developmental Science. Dalam laporannya, penulis mengatakan informasi yang diperoleh melalui eksplorasi aktif terkadang penting untuk mengetahui sesuatu.

Balita akan bisa mempelajari kosakata dan mengingat nama benda di awal perkembangannya. Sehingga kemampuan kognitifnya bisa berkembang dengan baik saat dewasa, dikutip dari detik.com

PR orangtuanya :

Siapin tenaga ekstra buat membereskan haha..

Ajak anak terlibat untuk membereskan setelah puas eksplorasi.

Jadi, kudunya seneng ya Mak kalo punya balita yang doyan acak-acak?

Calon anak pinter ituuw..

♧♧♧

Tentu perlu latihan untuk menguasai Reframing ini. Terus menerus mencoba mencari sisi positif dari suatu kejadian.

Lama-lama bisa dan terbiasa kok Mak..

Layak dicoba terus, karena bisa memperpanjang sabar.

Itu kan yang paling kita butuhkan sebagai emaknya anak-anak?

Sudut pandang kita akan menentukan reaksi yang timbul.

Jika sudut pandangnya positif, kita akan lebih bisa mengontrol diri dan merespon anak dengan lebih baik.

Setelah Reframing, yang perlu kita kuasai adalah teknik komunikasi dengan anak.

Gimana cara ngomong ma anak yang gak bikin leher tegang?

Akan saya bahas pada artikel berikutnya.

Stay tune yaa hihi..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments