Tarik Tambang, Raih Kemerdekaan

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.

RIUH riang kemerdekaan sudah mulai menusantara. Merah putih pun terlihat meliuk berkibar-kibar hampir di seluruh pelosok negeri. Ungkapan haru, bangga, maupun optimisme mulai terdengar lantang dari mereka pemangku jabatan. Di balik layar elektronik, mereka berbusung dada dan berkata: MERDEKA!. Satu kata sakral setiap kali mengulang hari kemerdekaan, hari lahir Indonesia. Tanpa pernah ditanyakan kepada mereka yang jelata, sudahkah menikmati hidup yang merdeka?

Gegap gempita peringatan hari lahirnya bangsa juga mewarnai pelosok desa. Para pemuda yang bekerjasama dengan RT, mengetuk pintu setiap warga untuk memungut sumbangan. Mengumpulkan dana dari rakyat, untuk rakyat. Demi terselenggaranya pesta kemerdekaan yang meriah. Balap karung, makan kerupuk, panjat pinang, sepak bola bapak-bapak pakai daster dan tarik tambang, adalah primadona untuk jadi pengisi acara. Setidaknya, mampu sedikit mengurangi beban hidup. Bisa tertawa lepas menyaksikan peserta lomba yang jungkir balik bersama karungnya, atau berteriak histeris melihat pemanjat pinang yang sudah hampir finis tapi mendadak harus merosot karena tim yang paling bawah tumbang kelelahan. Bisa jadi, hari kemerdekaan juga memberi berkah bagi sebagian mereka. Dapat hadiah  sekarton mie instan dari hasil perlombaan, misalnya. Ritme ini berulang setiap tahunnya. Rasanya, ini pula yang kembali mengisi 72 tahun kemerdekaan bangsa.

Selanjutnya saat pesta rakyat usai, derita kembali mendera yang papa. Berbagai subsidi telah dicabut. Pungutan untuk biaya kesehatan ditarik paksa secara legal. Sumber daya alam dari sabang sampai marauke dalam cengkraman bangsa asing. Bahkan tambang emas freeport, telah diperpanjang hingga tahun 2040. Hingga penyediaan garam pun, direncanakan impor dari luar negeri. Pada saat yang bersamaan, para pemilik nurani yang peduli pada nasib rakyat dibungkam. Tokoh masyarakat, ulama beserta ajaran yang disampaikan dikriminalkan. Keadilan begitu timpang, hukum seakan gamang mengetuk palu kebenaran. Banyak yang bilang, tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Apakah Anda juga merasakannya?

Kaca mata saya sebagai bagian dari rakyat jelata, melihat semua kebijakan tersebut tidak ada yang membuat masyarakat sejahtera dan bahagia. Akibatnya bisa kita saksikan bersama, terjadi persoalan sosial yang semakin kronis di tengah kehidupan. Kriminalitas semakin tinggi. Tidak sedikit yang mengalami depresi. Banyak pula yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Mari sadar, inilah realita di atas pentas bangsa zamrud khatulistiwa. MERDEKA?!

Bukan tidak bersyukur dengan hengkangnya belanda dari nusantara. Bukan tak bahagia dengan sirnanya kerja rodi dan peperangan di sana-sini. Bukan tak menghargai pengorbanan dan perjuangan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan. Bukan seperti itu! Sebagai anak bangsa yang lahir dan besar di bumi pertiwi, tentulah rasa cinta untuk negeri ini tidak bisa dipungkiri. Sebagaimana Rasulullah Saw. yang begitu mencintai negeri kelahirannya yakni Mekah almukaromah, demikian pulalah cinta yang saya miliki untuk Indonesia. Namun cinta tidak harus buta, kan?! Karenanya, tulisan ini adalah bukti ketulusan cinta saya sebagai generasi bangsa untuk negeri Indonesia.

72 tahun merdeka, bukan waktu yang sebentar. Secara logika, seharusnya bangsa ini telah mampu menyelesaikan berbagai persoalan dalam perjalanan hidupnya. Mengingat, berbagai fasilitas berupa limpahan kekayaan alam terbentang di mana saja bola mata memandang. Bangsa ini kaya. Dengan kekayaan yang ada, semestinya dalam kurun waktu 72 tahun telah mampu membuka lapangan kerja bagi setiap warga negaranya. Telah melahirkan ribuan bahkan jutaan tenaga kerja yang ahli di setiap bidangnya. Sehingga mutlak, pengelolaan sumber daya alam yang ada hanya dilakukan oleh anak bangsa dan didistribusikan untuk seluruh rakyat yang ada dalam tanggung jawabnya. Sehingga dari kekayaan yang ada, pun mampu memberikan fasilitas kesehatan dan pendidikan secara optimal, berkualitas, dan cuma-cuma.

Jangan lagi beretorika tentang minimnya tenaga ahli dalam negeri atau sulitnya pemerintah membuka lapangan kerja karena krisis ekonomi. Retorika itu hanya klise dan sudah basi. Nyatanya, berapa banyak tenaga ahli pribumi yang justru mengabdi di luar negeri? Faktanya, ribuan bahkan jutaan tenaga kerja asing yang digaji tinggi di negeri ini? kenapa ini semua terjadi?

Benarlah, nampaknya ibu pertiwi tengah bersusah hati. Menyaksikan kekusutan dari alur cerita kehidupan di Indonesia yang sudah 72 tahun merdeka. Harus kita terima sebuah kenyataan, bahwa bangsa ini belum mampu berdiri di atas kaki sendiri. Ketergantungan pada hutang luar negeri semakin memperparah kondisi ini. Bahkan nilainya telah jauh melampaui ambang batas yang ditentukan oleh undang-undang. Hutang ini pula, yang menjadikan Indonesia tak berdaya ketika negara-negara kapital menancapkan kuku-kuku tajamnya di seluruh kekayaan yang ada. Bahkan, bukan hanya barang tambang yang mereka kuasai. Sektor pasar pun hendak mereka kangkangi. Ibu pertiwi, tidak lagi memiliki daya untuk menghalau penjajahan gaya baru ini. Jika demikian, lantas apa yang tersisa untuk putra-putri negeri pertiwi?

Seluruh komponen negeri, mari kita bangkit dan bersatu. Bukankah dengan pekikan takbir, pahlawan-pahlawan kita meraih kemerdekaan. Karenanya, tersematkan dalam pembukaan UUD 1945 kalimat yang mahsyur, ”Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”. Ya,  Allah Swt. memang menghendaki kehidupan yang damai, adil dan sejahtera bagi umat manusia tanpa adanya penjajahan. Jika semua komponen bangsa benar-benar ingin bebas dari penjajahan yang mencengkram saat ini, maka sudah selayaknya kita kembali secara kaffah pada  Sang pemberi rahmat yakni Allah Swt. Sudah saatnya, kita tinggalkan neoimperialisme dan neoliberalisme yang nyata-nyata membawa kerusakan bagi bangsa. Sudah semestinya, seluruh elemen bangsa menarik tambang sumber daya alam yang digenggam asing. Kini masanya, tarik tambang-tambang kekayaan kita, raih kemerdekaan yang sebenarnya. Semoga, sekali lagi Allah Swt. memberikan rahmatnya untuk kemerdekaan yang hakiki. MERDEKA!
.
Terbit di haluan Riau. Edisi 18 Agustus 2017.

Post a Comment

0 Comments