Standar Waras Para Ibu (?)

Oleh: Nafila Rahmawati

DALAM satu kali scroll laman sosial media di saat anak saya sedang tertidur lelap, saya acap kali menemukan postingan resep waras ala Ibu muda.

Betul bahwa, hak-nya lah mau mengerjakan atau meninggalkan pekerjaan domestik karena memang pilihan seorang wanita untuk menjadi Ibu rumah tangga tidak serta merta ekuivalen dengan tanggung jawab mengkinclongkan setiap sudut rumah.

Demikian dinyatakan, demi agar tetap menjaga kewarasan.

Sebetulnya bagaimana standar kewarasan para Ibu zaman sekarang?

Apakah menelantarkan rumah dalam keadaan kurang bersih dan higienis lantas tetap mampu nyaman untuk ditempati bermain dan eksplorasi bersama buat hati...

Apakah kegagapan dalam mengenal bumbu dapur lantas membuat kita sah untuk menyerahkan komposisi menu empat bintang keluarga pada catering dan menu cepat saji saban harinya...

Apakah keseharian kita yang bergelut dengan rutinitas yang sama lantas menjadi pembenaran mendelegasikan anak pada pengasuhan layar kaca...

Ketika para Ibu mulai menganalogikan kewarasan dengan hal yang instan, rasanya kita patut berduka

Menjadi Ibu memang tidak mudah. Menjadi Ibu itu seumur hidup tirakat. Bagi sebagian besar dari kita, menjadi Ibu memang melelahkan. Tapi justru di situlah pahalanya.

Bukan berarti kita tidak layak mengambil asisten rumah tangga, atau jatuh harga diri ketika memesan makanan siap saji, atau tidak pantas atas sepotong me time.
Namun standar kewarasan yang dilinierkan dengan gaya hidup instan, rasanya akan melunturkan teladan dan arti perjuangan.

Masih ingatkah kita kepada Ibu kita terdahulu, yang tetap mampu waras dan bahagia meski repot beranak lebih dari lima, meski digelayuti anak ketika memasak atau mengepel lantai, meski tidak ada akses internet untuk scrolling manja atas nama me time.

Masih ingatkah kita kepada kisah Fatimah RA yang meski kelelahan dan meminta pembantu, namun mau bersabar dan memperbanyak dzikir di penghujung harinya tanpa berdalih meninggalkan tugas domestiknya agar kewarasannya tetap terjaga.

=====

Sungguh saya bertanya-tanya, siapa yang menetapkan standar waras ibu rumah tangga... Siapa yang ingin merusak peradaban dari akarnya, dengan melenakan tanggung jawab Ibu yang menjadi jantung rumah tangga

Ketika Ibu, atas nama menjaga kewarasan lalu sekenanya saja membereskan rumah dan seisinya. Lalu siapa yang meneladankan kepada anak rasa tanggung jawab dan kepedulian menjaga lingkungan.

Ketika Ibu, atas nama menjaga kewarasan lalu sekenanya mendelegasikan tugas meramut nutrisi keluarga. Lalu siapa yang meneladankan pada anak-anaknya, tentang jerih payah memasak dan penghayatan melayani keluarga demi ditelannya cinta oleh perut yang lapar.

Ketika Ibu, atas nama menjaga kewarasan lalu menyerahkan tugas pengasuhan anak pada televisi dan klan layar candu hanya agar memiliki me time di sosial media. Lalu apakah anak kita akan lebih bahagia dari anak mamalia lain yang sepanjang waktu mampu bercengekerama bersama Ibunya.

Siapa yang menetapkan standar waras para Ibu, dan mengapa kita harus selalu mengiyakan dan meniru.

Ada kalanya Ibu butuh istirahat, karena Ibu bukan malaikat.

Namun melabeli kegiatan meninggalkan tanggung jawab sebagai definisi menjaga kewarasan, rasanya perlu kita pertanyakan ulang, rasanya perlu kita perhatikan batasan.

Jangan sampai demi atas nama menjaga kewarasan, segala keinginan kita menjadi pembenaran dan mengugurkan apa yang tadinya merupakan ladang pahala dan jihad seorang wanita.

Ibu perlu berhati-hati.
Karena Ibu adalah matahari yang menghangatkan keluarga. Maka setiap dari pilihannya akan berefek domino bagi seluruh penghuni rumahnya.

Waraslah, tanpa meninggalkan amanah.
Waraslah, dalam cara yang bersahaja.
Waraslah, dalam dzikir dan kau akan menemukan bahwa ridho dan pelukan Yang Maha Kuasa akan meringankan beban rutinitasmu jauh lebih berkah ketimbang jalan kewarasan yang di setting manusia.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments