SIAPAKAH MEREKA; DEKAT TAPI BUKAN SAHABAT, MUSUHAN TAPI SALING MEMBUTUHKAN?

Oleh: @rozyArkom (Analis Politik APR)

MEREKA adalah Politisi (KBBI: bentuk jamak dari politikus; orang yang berkecimpung dibidang politik). Manuver politikus diwarnai berbagai intrik dan polemik. Misalnya, bagaimana _sowan_ "ciamik" Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), politikus muda (38 tahun) putra presiden ke-6 SBY, ke Istana. Juga respon "cantik" presiden Jokowi yang mengutus putra sulungnya Gibran Rakabuming (29 tahun), untuk menemui dan mengimbangi persona AHY. Ketiganya bermain peran dalam drama politik bertema kekuasaan.

Untuk mengulik seperti apa sepak terjang para politikus, saya akan mengajak anda menengok 22 abad kebelakang. Tepatnya ke zaman Yunani dan Romawi kuno. Ini relevan berhubung Indonesia saat ini menganut sistem politik Demokrasi yang lahir di Yunani dam Romawi.

Kilasan sejarah kita awali dengan mengutip pernyataan *Marcus Tullius Cicero* (106-43 SM). Cicero yang dikenal sebagai orator ulung, negarawan, filsuf, ahli politik, ahli hukum, dan konsul ini mengatakan, _”politik bukan perjuangan demi keadilan. Politik adalah profesi. Karena politik adalah profesi, maka politikus adalah makhluk yang ulet dalam memperjuangkan ambisi politiknya"._

Pernyataan Cicero bukan tanpa dasar. Sebagai senator, Ia faham betul, bahkan kemudian menjadi korban ganasnya politik Roma, yang meski berjubah demokrasi, isinya dipenuhi pertarungan ambisi antar politisi.

Cicero sendiri memperoleh kekuasaan setelah menyingkirkan pesaingnya, Lucius Sergius Catilina (108-62 SM), politikus oposisi mantan gubernur Afrika. Naasnya, selang 15 tahun kemudian, Cicero dibunuh oleh kompatriotnya Marc Anthony (83-30 SM). Suksesor Penguasa Roma Sebelumnya, Julius Caesar yang mati dibunuh menterinya, Marcus Junius Brutus, pada 15 Maret 44 SM.

Cicero menyatakan, pada masa itu para pemegang jabatan tak beretika. Apabila etika jabatan yang menekankan nurani kejujuran dan ketulusan sudah dilanggar, kekuasaan akan menjadi monster penuh kerakusan yang mengerikan. Thomas Hobbes menggambarkan mereka sebagai _*leviathan,*_ yang mendewakan kekuasaan di atas segala-galanya. Karena itu harus direbut dengan segala cara, digenggam erat-erat dengan segala daya.

Politisi, menurut Cicero, adalah makhluk yang ulet. Keuletan, ditambah kecerdikan dan kelicikan, serta kemampuan berkelok-kelok, bermanuver, itu yang akan memberikan hasil dalam dunia politik.

Immanuel Kant (1724-1804), filosof Jerman yang memengaruhi kemunculan zaman pencerahan (rainessance) di Eropa, pernah mengatakan, _”seorang politikus haruslah cerdik dan licin seperti ular”._

Hal itu seperti menegaskan apa yang pernah dikatakan oleh Niccolo di Bernardo Machiavelli (1469-1527): _"seorang penguasa harus mengetahui bagaimana menggunakan sifat manusia dan sifat binatang, dan bahwa menggunakan salah satu tanpa yang lainnya tidak akan dapat bertahan. Kedua sifat ini memang harus dimiliki penguasa"._ Namun celakanya, dalam praktiknya, sifat binatang lebih menonjol dibandingkan dengan sifat manusia. _(Trias Kuncahyono, 2015)_

Para politikus mengartikan politik dengan sangat pragmatis. Meminjam definisi politik, menurut Prof. Harold Dwight Laswell, ilmuwan politik Harvard, politik adalah: *siapa dapat apa, kapan, dan bagaimana.* _(Politics: Who Gets What, When, How: 1936)._

+++
Lantas, bagaimana potret politikus kita saat ini? Tidakah anda menemukan ada kemiripan sifat dan gelagat dengan politikus busuk era Yunani dan Romawi?

Ditataran Top Level; nampak jelas hubungan _"zigzag",_ tarik-ulur, panas-dingin antara Jokowi, Megawati, Jusuf Kalla, Prabowo dan SBY. Kemudian dilevel Medioker; relasi dekat tapi tidak akrab terjadi antara 3 "Jenderal": Wiranto, Tito dan Gatot Nurmantyo. Juga, hubungan putus-nyambung antar 5 'Senopati Raja'; Luhut, Tahjo, Jonan, Rini dan Susi.

Inilah fenomena Politikus saat ini. Tidak ada kawan dan lawan sejati. Yang ada kepentingan hakiki. Hubungan antar mereka dekat tapi bukan sahabat. Musuhan tapi saling membutuhkan.

Yang lebih parah dari itu, jika ada relasi _"crossline"_ antar mereka. Misalnya, (berhubungan) dekat namun pada akhirnya musuhan. Seperti yang dialami Jurnalis Metro TV, Najwa Shihab, yang _'ditendang'_ sang Bigbos, Surya Paloh. Atau nasib tragis Johannes Marliem, saksi kunci kasus e-KTP yang ditengarai _'dimunirkan'_ oleh kongsinya para koruptor. Atau juga misalnya, perseteruan panas, setelah sebelumnya bermesraan ganas, antara model Destiara Talita dengan Walikota Kendari terpilih, Adriatma Dwi Putra.

Bak lingkaran setan, aneka intrik dan konspirasi akan terus berulang dan berotasi, di negeri ini. Terkecuali mata rantai kebobrokan demokrasi diputus dengan *politik Islam.* Satu-satunya "mazhab" politik yang murni, jujur dan mendatangkan keberkahan. [fr]

Post a Comment

0 Comments