Semua Ingin Serba Instan, Cenderung Menghindari Proses

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Berulang kali kejadian model bisnis, dagangan, usaha atau cara ingin cepat berhasil dalam mendidik anak. Tergesa-gesa. Inginnya dapatkan hasil segera instan. Waktunya hanya sebentar, biaya murah, tapi cepat balik modal. Kemudian diperoleh KESUKSESAN.

Perihal buruk yang sedikitnya pernah kami alami. Nggak heran, kalau seminar-seminar bisnis, motivasi, parenting apa yang semuanya beredar iklannya jadi suka ada iming-iming. Sehingga bahasa iklan serba instan itu begitu menggiurkan dan bikin lupa. Emosi manusia terbawa. Contoh semisal dalam bahasa iklan ada nih : cara cepat jadi kaya dalam sekejap, tips dan trik dalam 5 menit anak jadi nurut. Mampu menghapal Quran dalam 30menit. Pergi haji cepat tapi bayar sangat murah.

Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga ini juga contoh iklan sesat seolah menggiurkan yang bersliweran di dunia maya.

Padahal Rasulullah sudah mengingatkan. Tergesa-gesa bukanlah perbuatan BAIK.

"Bukan akhlak seorang mukmin berbicara dengan lidah yang tidak sesuai kandungan hatinya. Ketenangan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan." (HR. Asysyihaab)

Nikmatilah segala sesuatu itu dengan prosesnya, segala pelak peliknya persoalan. Entah itu soal bisnis, anak, bahkan jalan kita manusia menuju ke SURGA.

Gak ada yang serba instan itu benar-benar akan mampu bertahan lama, kuat serta kokoh PONDASInya. Pasti ada yang tersembunyi melompati proses yang BENAR.

Ada seorang teman bertanya, gimana cara antisipasi agar tidak kena masalah A. Saat itu dia bertanya ketika saya sharing persoalan bisnis yang pernah kami hadapi. Saya bilang saat itu, kita ambil jalan yang B belum tentu tidak bertemu dengan masalah juga. Karena masalah itu lah yang membuat kita jadi belajar.

Kita diamanahi mendidik dan mengasuh anak, pasti KETEMU masalah. Hatta pakar parenting sekaliber nasional pun. Haqul yaqin pernah mengalami. Apakah ketika bertemu masalah dengan anak, jadi dianggap GAGAL dalam perihal mengasuh anak? Sehingga kita seenaknya bicara, ya anaknya aja masih berantem, berarti belum benar donk cara mendidiknya. Padahal ketika antar anak berantem itulah, orang tua bisa belajar mengenali emosi dan melatih anaknya mengelola persoalan.

Dan jika kemudian ketemu MASALAH segala persoalan hidup apakah kita lantas dikategorikan telah GAGAL dalam hidup? bisa jadi benar, kalau kita tidak bisa mengambil HIKMAH dari persoalan yang kita hadapi. Bisa jadi kita tambah terpuruk, kalau kita sulit dan malas belajar dari pengalaman orang lain yang pernah merasakan terlebih dahulu.

Tetapi jika mampu melewati masalah, bisa jadi malah potensi kebaikan dan keberkahan menjadi semakin melejit serta bertambah ketika diambil hikmahnya untuk menjadi lebih baik. Pengetahuan diri semakin berwawasan luas. Karena adanya pengalaman. Pernah merasakan.

Selagi kita diberikan kesempatan hidup, nikmatilah masalah. Persoalan bisnis, yang kadang rumit, harus dipelajari step by stepnya. Mengelola karyawan, mengatur keuangan, hingga fokus bagaimana mencapai target penjualan. Semua itu masalah. Kita akan ketemu masalah setelah selesai satu masalah sebelumnya. Atau bisa jadi datangnya masalah karena memang tidak diselesaikan. Ya itulah masalah.

Menghadapi anak yang sering manis trus tiba-tiba jadi rewel. Hadapi saja. Selesai masa balita di anak pertama, datang masa balita di anak yang kedua. Setelah mereka selepas balita, muncul masalah menghadapi anak yang baligh. Apakah  hidup kita menjadi berhenti? Tentu tidak, sampai ajal memanggil.

Karena kita memang gak pernah tahu, masalah apa yang akan datang ketika telah memilih jalan A, setelah berputar pikiran tidak jadi memilih jalan yang B.

Yang jelas, hindari bersikap atau berfikiran berandai-andai terhadap keputusan yang telah kita ambil hari ini atau segala persoalan hidup yang dijalani saat ini.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Allah dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllahu wa maa syaa’a fa’ala, Allah telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)

Terjadinya peristiwa apapun dalam hidup semua karena kehendak Allah semata. Baik dan buruknya kacamata manusia tetap yang BAIK sesungguhnya dihadapan Allah. Wallahu'allam.

Nurliani
-belajar tidak tergesa

*menulis buat mengingatkan saya untuk terus bersabar menghadapi sekian proses persoalan hidup.

Sumber:

Fb: Nurliani Ummu Nashifa-Zhafira

Post a Comment

0 Comments