Semua dari Mimpi

RemajaIslamHebat.Com - Semua itu berawal dari sebuah mimpi. Hidup tanpa mimpi maka tidaklah berarti kecuali hanya seperti hidup dalam peti mati.

Mimpi itu tidak butuh pada modal harta. Sebab jika harta adalah modal bermimpi maka seharusnya Qarun telah peroleh bahagia dari mimpi-mimpinya. Mimpi itu pun juga tidak butuh pada modal senjata. Sebab jika senjata menjadi modalnya maka orang-orang kafir pun telah kalahkan Islam sejak semula.

Namun,  mimpi hanya butuh tekat pada usaha dan keyakinan. Usaha tanpa keyakinan itu kekalahan sedari awal. Keyakinan tanpa usaha itupun kekalahan sebelum pertandingan.

Begitupun Rosulullah telah contohkan. Dimana saat perang khandak, para sahabat pun hampir menyerah lantaran batu besar yang tidak mampu mereka pecahkan. Penggalian parit sebagai pertahanan sebab akan menghadapi 10.000 pasukan kaum kafir. Yang jauh dari kata seimbang dari pasukan kaum Muslim saat itu. Kemudian Rosul pun mengambil kapak lalu memukul batu itu seraya berkata: "Allahuakbar... U'tifu mafatiha faris" akan ada umatku yang akan menakhlukkan paris. Dan pada pukulan kedua berteriaklah: "Allahuakbar... U'tifu mafatiha Arruum" Romawipun akan takhluk.

Sejatinya bagaimana pun keadaan tidak menjadi penghalang, sebab mimpi adalah pilihan untuk masa depan. Sedangkan sekarang itu urusan yang harus diselesaikan.

Lihatlah bagaimana sangat getir dan gentingnya kondisi kaum Muslim saat itu. Namun, mimpi itu tetaplah besar. Penakhlukkan pada dua emperium yang berkuasa. Maka tidak heran jika sampai orang Yahudi pun menganggap Muhammad telah gila. Sebab mengatakan suatu hal yang sangat jauh dari kondisi yang ada di depan mata.

Itulah mimpi, harus lebih jauh dari ia berada, harus lebih tinggi dari ia berdiri. Terserah bagaimana orang menilai, jika kita telah berbeda dari mereka.

Sadari pula bagaimana sebelumnya kegagalan kaum muslim pada perang uhud. Tidak pula menjadikan mereka berhenti meski hanya untuk meratapi. Sebab kegagalan bukalah kekalahan. Ia hanya rute perjalanan yang hanya akan menghantarkan pada kemenangan.

Kegagalan pada perang uhud yang kemudian disusul dengan kesulitan diperang khandak tidak menjadikan nyali itu mundur, namun mimpi itupun semakin tinggi.

Maka hanya mimpilah yang mampu merubah pada kehidupan. Seperti berharap akan merubah dari manusia biasa menjadi manusia yang bisa berkarya pada tulisan. Sebab tulisan tidaklah kalah dari tajamnya pedang.

Sampai-sampai Nepoleon Bonaparte pernah berkomentar,
"Aku lebih suka menghadapi seribu tentara daripada satu orang penulis".
Sebab, satu jendral mengerahkan seribu kekuatan pasukan. Namun, satu penulis bisa menginspirasi ratusan, ribuan hingga jutaan untuk melakukan perlawanan.

Pena lebih tajam dari pedang, maka jangan kita #pejuang1001Goa:Putut Putut Wijiyanti Zahra Jundullah, Widhy Lutfiah Marha, Dhian Novita, Jauziah Alhanifah Ifah dan Uli Nice berhenti untuk menulis.

Menulis akan menjadi senjata saat harta belum kita punya, saat jabatan belum kita terima, saat hiduppun hanya seadanya. Namun kekuatan itu terus menyelimuti akan kebersamaan kita.

Semoga kita tetap akan bersama-sama. Seandainya kita pun harus berpisah, semoga itu hanya dalam sisa kehidupan dunia yang sementara. Hingga kita pun akan kembali bersua dan bersama dalam SurgaNya, yang selama ini telah menjadi mimpi kita sejak saat di dunia.

Selalu berdo'alah untuk kita, sebab cinta yang karenaNya semata akan menjadikan kita bisa bersama dan bisa saling menolong untuk sampai pada jannahNya.
Marilalah berkarya, yang bukan dengan kelebihan dan kekurangan kita tapi dengan Branding pada kita yang berbeda.

Semoga Pacitan tidak hanya akan terkenal dengan 1001Goanya tetapi juga bisa dikenal dengan 1001pejuang penanya.

Sedangkan malas tidak ada pada catatan bagi mereka yang ingin dirindu Surga.

Sumber:

FB: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments