Selebgram dan Trust Issue Wanita

Oleh: Nafila Rahmawati

Di malam-malam nganggur, saya beberapa kali scrolling akun selebgram yang jadi ikon "goals-goals" abege kekinian. Selebgram wanita yang tenar di jalan yang radikal dan cenderung rebel.

Saya scroll halaman berisi ribuan foto tersebut, yang memang bukan hanya akun komersial tapi saya juga menyebutnya akun pelarian.

Wanita-wanita ini, yang menggayut kepopuleran dan kesuksesan dari branding ala liberal, dengan selilit dua lilit pakaian dalam, tuak-tuak mahal, asap rokok dan kehidupan malam, hingga dengan luwesnya menjalani gaya cumbuan, terkadang juga menyelipkan beberapa bait mengenaskan yang mereka rindukan.

Di antara branding kehidupan bebas dengan konsep "LMAO IDEC yr opinion as long as I'M HAPPY", nyatanya mereka masih membutuhkan posting sisi lain kehidupan yang mereka rindukan.

Wanita-wanita ini pernah sekelibat memposting foto anak mereka yang telah lebih dulu meninggal, foto syahdu jaman mereka masih anak-anak,  memposting foto yang menyiratkan kesepian, memposting foto abstrak yang mengisyaratkan kosongnya jiwa, bahkan kadang memposting foto versi suci dari dirinya dengan berada di tengah keluarga besar lengkap dengan busana khas agama.

Fakta bahwa mereka telah berhasil memiliki nyaris segala bentuk kebahagiaan duniawi, ternyata tetap tidak mampu mengisi rongga sumber masalah.

Mengapa seorang wanita MAU menyediakan dirinya sendiri untuk dieksploitasi secara komersil dan untuk publisitas, adalah satu hal yang selalu saya pertanyakan sejak saya tumbuh remaja.

Dibesarkan dengan bekal "rasa malu" dan konsep "aurat" rasanya sudah jamak diterapkan pada hampir semua keluarga Muslim. Namun pegangan ini kemudian mengendur dan lepas total ketika wanita-wanita beranjak dewasa dan mulai "berdemokrasi" atas dirinya sendiri.

Mengaca dari penelusuran ala-ala saya atas beberapa akun selebgram, dan mengaca dari pengalaman saya yang baru empat tahun meninggalkan kegadisan (iya saya baru empat tahun menikah ), rasanya kaum hawa hampir selalu dibentrokkan dengan trust issue.

Mempercayai dan dipercayai orang lain adalah krusial bagi seorang wanita, terutama dalam episode gejolak masa muda, cinta dan keluarga.

===

Perawan-perawan belia yang tadinya bertahan menutup rapat mahkota bunganya, mengenal jejaka yang menawarinya kejut elektrik seru dari texting manja dan kebersamaan. Sementara kehangatan keluarga sudah lama tidak ia dapatkan.

Anak-anak remaja yang sebelumnya selalu berakhlak baik dan teratur, kemudian menyusur gerbang kedewasaan dengan cubitan kasar kecurigaan dari kedua orang tua yang hanya merasa was-was dan jengah melakukan pendekatan sebagai teman.

Ibu-ibu muda yang tengah mengadon indahnya pernikahan, mengurus buah hati dengan memberi sebaiknya teladan, menangkupkan sedalamnya kesetiaan, nyatanya masih mendapat tamparan berita perselingkuhan suami tersayang.

Kehilangan kepercayaan atas orang lain dan tidak dipercayai akan dengan mudahnya membumbungkan rasa acuh dan pembuktian diri bahwa mereka mampu berdikari.

Memberontak, kemudian menjadi rute pelarian mereka selanjutnya. Dengan memilih atribut yang berbeda 180 derajat dengan kepribadian mereka sebelumnya, ada eksistensi diri yang sedang mereka garap untuk membungkus rasa kesepian dan duka.

Dan selebgram yang "bahagia" dengan pesta atau kebahagiaan artifisial yang mereka tayangkan, yang mungkin masih berstatus korban dari masa lampau mereka, bisa jadi juga kembali menjadi korban dari manajemen-manajemen orbit kekinian.

Membuat mereka nampaknya sukses dan move on dari keterpurukan masa lalu, namun tidak mengobati sudut hampa yang masih berongga.

===

Katakanlah tulisan ini judgemental untuk hasil akhir dari stalking akun selebgram, tapi pun saya sebagai seorang wanita pernah merasakan kesepian yang menjadi pelajaran. Saya tidak sedang memvonis mereka sebagai wanita-wanita liar, saya hanya mencoba menyarikan (lagi-lagi) pembelajaran.

Ketika terasa sulit menghalau badai negativitisme kekinian tersaji kepada anak-anak perempuan kita nantinya, ada beberapa hal yang bisa kita mulai dari sekarang.

Kuatkan mental anak-anak perempuan kita. Bahwa mempercayai dan dipercayai, akan selalu menjadi value dalam keluarga.

Karena hanya sedikit orang tua yang mampu percaya dengan kemampuan anak mereka menangkis nilai-nilai buruk dan mengarahkan mereka kembali tanpa menghakimi.
Dan tidak banyak pula anak yang mampu kembali percaya kasih sayang orang tua mereka setelah dilibas habis-habisan selepas melakukan kesalahan.

Mempercayai dan dipercayai akan melahirkan energi positif yang menggerakkan kapabilitas jiwa ke arah produktif, alih-alih mencari pelarian dalam bentuk rebel dan radikal.

Jangan biarkan anak-anak kita, terutama anak perempuan berkubang dalam kesepian. Karena jemputan pria tampan hidung belang mudah sekali menyelinap dalam byte demi byte paket data yang kita sediakan.

Karena kesepian dan rasa kehilangan, sangat mudah menjadi alasan untuk memburu pemuasan dalam bentuk lain yang lebih "menyegarkan".

Kita mungkin bisa membesarkan bayi dan balita kita dengan segala teori parenting dasar yang nampak menyenangkan. Tapi membersamai pendatang baru di dunia remaja, mungkin akan membuat kita mengaca. Selebgram remaja dan kematian Chester Bennington, bisa jadi hanya sebuah kisah, namun bagi saya mereka meninggalkan pembelajaran.

Bahwa ada rongga yang tidak bisa diisi dengan ketenaran, kesuksesan, harta duniawi apalagi sekedar baris kalimat makian yang menjadi standar keren dan pembuktian ketidakpedulian karena telah merasa bahagia.

Bahwa kesepian, kehilangan, inner child dan ketidakpuasan dengan masa lalulah yang harus masuk proses memaafkan, mengikhlaskan dan kembali utuh ke fase mempercayai dan dipercayai. Dan Tuhan harus selalu terlibat dalan semua proses ini.

Selebgram-selebgram rebel yang demikian kini menjadi kiblat remaja, dengan berbagai latar belakang hantu masa lalunya. Maka berhati-hatilah memperlakukan seorang wanita, karena menyakitinya sama dengan mempertaruhkan masa depan dunia.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments