Seimbang pada Kewajiban

RemajaIslamHebat.Com - Menembus gelapnya malam, menyapu sisa-sisa air hujan yang terjatuh dari awan. Angin pun tak mau kalah, menyambut dengan hembusan yang kadang memanjakan, namun dalam sekejab terasa akan galaknya menyapu wajah yang sedikit basah. Aku pun melajukan perjalanan dengan motor cz1. Menyusuri sepanjang jalan yang kutemui hanya satu dua rumah dengan lampu yang berpijar nampak tergantung di salah satu sisi emperannya. Ia menyapa dengan sayunya seakan tiada penghuninya, padahal mereka hanya telah bercengkraman di dalamnya. Ya, itulah suasana desa saat magrib tiba maka pintu-pintu pun harus tertutup semua. Ntah, alasan apa ? yang jelas jika terbuka tidak baik katanya.

Motor itupun terus melaju dengan kecepatan yang tak melebihi 40km/jam, sebab tetesan air yang mengenai kaca mataku membuat suramnya pandangan jalan. Sesekali aku pun harus berhenti untuk mengusap kaca mataku dengan tisu. Sampai akhirnya aku pun telah berada pada jalan di mana harus hentikan motorku. Sebagian memang bisa dilewati dengan motor, namun sebagian lagi harus di lewati dengan berjalan kaki. Licinnya tanah menjadikan motor tak mampu bergerak hanya dengan gesekan ban. 

Kencangnya hembusan angin yang menjadikan semua dedaunan dan pohon-pohon bergerak tanpa aturan.  Mematahkan beberapa ranting hingga menambah riuh ributnya suara angin. Yang ku bayangkan seakan-akan ia memberi sambutan akan kemenangan yang telah kusandang. Ntah, kemenangan apa ? hmm… dalam hayalku, mungkin kemenangan sebab telah mengalahkan akan nikmatnya berbaring dan bersandar dalam kamar. Menikmati dinginnya malam dengan membaca buku, mendengarkan dan melihat vidio kajian atau sebatas membuka HP untuk bertegur sapa dengan orang-orang kejauhan ataupun sebatas hiburan. Namun ternyata aku pun tetap memilih melakukan akan kewajiban.

Menyusuri jalan yang kadang berbatu, kadang bertanah yang rata namun seakang kecut dalam menyapa sampai tak jarang akupun terjatuh karenanya. Namun, tanpa adanya suara tangan mungil dan lembut itupun mengulur seakan mengintruksi untuk segera bangun dan berdiri. Ya… itulah tangan malaikat duniaku. Ia yang selalu menemani setiap langkah perjuangan malamku. Aku tidak tahu bagaimana pemahamannya akan tujuan ini, namun cinta dan ketulusannya begitu menjadikanku kuat dengan segala apa yang telah dan akan terjadi.

Kabut yang menyelimuti menjadikan semakin pekatnya gelap malam. Hanya bercahaya senter yang berdiameter tak lebih dari tiga senti meter sebagai penunjuk jalan. Kupandangi wajahnya, ku temukan tatapan mata yang berbinar. Dengan lembut suara itupun membuyarkan, “Bagaimana kakimu ?”. Seketika tetesan-tetesan bening itupun tumpah tak mampu tertahan menyapu dan menyatu dengan air yang membasahi pipi. Ku lanjutkan langkah tanpa membersihkan tanah yang melekat pada jilbab dan kaos kakiku.  Kami pun berjalan dengan bergandeng tangan, menjaga agar tidak terjatuh untuk yang kesekian kalinya.

Setiap langkah, pikiranku terus membayangkan akan apa yang bisa ku berikan. Sejak lahir hingga sekarang ku hanya bisa merepotkan. Dengan usiaku yang hampir dewasa tak mampu jatahkan uang bulanan ataulah apa. Kecuali hanya namanya yang selalu kusebut dalam setiap bait-bait doa. Tak jarang sebab kebutuhan dakwah maka uang simpanannya pun harus aku pinjam. Banjir itupun seakan telah menghampiri, meski hanya menyapu sebagian pipi. 

Kusempatkan melirik pada krudung biru tua itu, dalam balutan itu rambutpun sudah mulai beruban dan bahkan hampir rata sebagian. Namun, sebab senyuman yang selalu terlukiskan ia nampak jauh lebih muda dari usia yang ada.

Teringat, saat suatu kajian kukira ia lebih muda dari salah satu ibu yang ada sebab wajah yang terlihat berbeda. Namun, ternyata usianya jauh lebih tua, saat itu pula hatikupun terasa ada  yang menekan begitu kuat, kenapa aku tidak pernah merasa bahwa usianya sudah begitu tua. Aku selalu sibuk dengan segala agenda dan kegiatanku, mendengarkan akan keluh kesah mat’u-mat’uku namun aku telah melupakan akan bagaimana perasaan dan kondisi ibuku. Apa yang beliau pikirkan ? Apa yang sedang beliau inginkan ? Apa yang sedang beliau butuhkan ?

Bagaimana aku bisa berharap akan pertolongan Allah dalam dakwah, padahal kewajiban utamaku sebagai seorang anak ku lupakan. Aku tak ubahnya seperti mengejar suatu yang belum datang namun mengabaikan apa yang sudah ku genggam. Sungguh surga itupun ada di bawah telapak kakiknya… bagaimana bisa aku sampai lalai terhadapnya.

Kini kusadari bahwa ku masih belum bisa seimbang dan amanah dalam kewajiban. Aku hanya semangat karena ghirah yang sedang terbakar. Belum paham akan mana yang didahulukan dan mana yang diutamakan. Semua adalah sama-sama kewajiban jadi tidak boleh ada yang tertinggal namun hanya seimbang dalam jalankan agar tidak sampai berbenturan dengan kesalahan. Kewajiban kepada orang tua itu diutamakan namun kewajiban berdakwahpun harus dijalankan, yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

Kewajiban untuk beramar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka, mengajak pada kebaikan dan mengingatkan akan kemaksiatan. Menggambarkan akan kuasa Tuhan sampai menunjukkan akan kerdil dan lemahnya kita sebagai manusia. Memilih seperti ini, bukan berarti diri telah merasa mampu dan tahu. Namun sungguh, yang ada tidak lain hanya rasa malu yang terus menyelimuti di setiap perasaan dan pikiranku.

Sebab kekurangan demi kekurangan itu pun nampak begitu jelas adanya. Di mana, lidah ini kadang terasa kaku, membahas akan apa yang belum menjadi duniaku. Namun, itu semua telah memaksaku untuk paham akan dunia keluarga terkhusus ibu-ibu. Saat membahas itu hati dan pikiran pun menjadi tak menentu. Bagaimana tidak! membahas yang sama sekali aku pun tak pernah alami itu. Menerka-nerka maka takut masuk dalam jebakan nafsu, namun jika ingin sampaikan sesuai wahyu, aku pun belum kuasai itu. Maka, tak jarang aku pun harus terpaksa katakan, “Mohon maaf…, sepertinya aku belum bisa membahas tentang itu, Insyaa Allah akan ku cari jawaban sampai minggu depan”. Senyum itu pun tetap merekah, namun hati ini terasa telah terkena cambukan.

Itulah rasa saat bersama-sama mereka. Rasa syukur, bahagia, takut semua jadi satu. Mereka bukan tempatku berbagi ilmu, namun sungguh mereka adalah tempat kuperoleh ilmu. Dari cerita-cerita mereka, dari pertanyaan-pertanyaan mereka, dari respond dan tanggapan-tanggapan mereka, menunjukkan bahwa mereka jauh lebih mengenal kehidupan. Hanya saja niat yang masih serampangan sebab belum temukan pemahaman tentang dan apa di balik kehidupan.

Senyuman dan sapaan akrab mereka, seakan bagaikan sabetan pedang yang merobek-robek pikiran. “Apa kemampuanmu ?”, “Apa pengalamanmu ?”, “Apa yang kau tahu ?”, hingga aku harus berani berkata di depan mereka. Bagaimana tidak, mereka jauh lebih tua, mereka jauh lebih banyak makan asam garam kehidupan, mereka lebih tahu akan bagaimana bertahan untuk kehidupan, mereka lebih banyak akan pengalaman. Sedangkan diri hanya secuil ilmu dan pengetahuan untuk menyampaikan. “Sampaikanlah, walau satu ayat”

Hanya ini, yang masih mampu menjadikanku tetap bertahan pada kewajiban. Kewajiban yang tidak menunggu pada kesempurnaan, namun hanya harus segera diamalkan, disampaikan, dan di istiqomahkan. Aku tidak tahu akan hasil dari usahaku sebab memang sangat rendah dari sekedar tahu. Namun, aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku bukan bagian dari mereka yang diam. Aku hanya ingin menunjukkan di mana ku berpihak, ntah apapun hasilnya itu tergantung pada kehendak-Nya. Aku tidak ingin seperti cicak yang hanya diam dan mentertawakan saat burung pipit dan lainnnya berusaha memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Jika dipikir, apa ada gunanya meneteskan air dari paruh yang kecil kedalam kobaran api yang besar. Namun, ternyata itu bukan menjadi pertanyaan, masalahnya hanya di mana kita bepihak.

Begitupun usahaku, tak lebih jauh dari tetesan air dari paruh burung pipit untuk memadamkan kobaran api. Di mana kata terbata-bata itu selalu terdengar dalam penyampaian. Bahasa tubuh nervous itupun selalu ada saat berhadapan. Namun, mereka masih sudi untuk mendengarkan dan memperhatika, tak jarang kata pembenaran pun mereka sampaikan. Aku pun sangat yakin, sebab dangkalnya pemahaman tak jarang lisanku pun telah menyakiti dan melukai hati dan perasaan mereka. Sungguh, jika bukan karena Allah  yang memberi hidayah dan kelembutan pada hati-hati mereka maka kontribusiku pun tidak akan ada apa-apanya.

Maka dari itu saat menjalankan kewajiban bukan melihat siapa diriku. Namun, hanya memperhatikan akan apa yang bisa kulakukan dan biarlah Allah yang memutuskan.[]

Sumber:

FB: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments