SEBERAPA TERBUKANYA ANAK KITA?

Oleh : Amalia Sinta

SEORANG anak gadis tetangga saya, saat ini duduk di bangku SMA. Setiap hari dia berangkat sekolah diantar ayahnya. Pulang sekolah diantar teman lelakinya yang memakai seragam yang sama.

Uniknya, tiap siang dia selalu berhenti di depan rumah saya, lalu lanjut berjalan kaki menuju rumahnya yang hanya beda beberapa meter di depan sana.

♧♧♧

Disuatu sore saat Tera sedang main di depan rumah, anak-anak SD yang berusia sekitar 12 tahun sedang asik main sepatu roda. Salah satunya belum pandai dan terjatuh masuk ke selokan. Lututnya tergores dan jalannya agak pincang. Mungkin saja keseleo.

Saya ajak ke teras dan ambilkan betadine. Sambil meringis kesakitan dia memohon-mohon agar saya gak bercerita tentang ini ke ibunya. Saat saya tanya alasannya, dia jawab "takut dimarahi tante, ibu kalo marah serem banget"

♧♧♧

Yang saat kecil sering bercerita lucu, saat remaja jadi si penyimpan rahasia nomer satu.

Yang saat balita ditimang-timang, saat remaja sering membuat emosi meregang.

Jadi semakin banyak fenomena renggangnya hubungan orangtua dengan anak remajanya.

Mungkin karena merasa anaknya sudah besar, jadi orangtua sudah jarang memeluk dan mencium anaknya lagi. Padahal dari sinilah kedekatan emosi keduanya bisa tetap terjalin.

Mungkin karena merasa anaknya sudah besar, jadi orangtua sudah tak pernah membacakan buku cerita pengantar tidur. Tapi bukankah tinggal mengganti jenis bukunya saja? Moment membaca bersama bisa tetap dihadirkan di waktu senggang dan berdiskusi tentang pesan moral dari buku yang dibaca.

Mungkin karena merasa anaknya sudah besar, jadi orangtua selalu menuntut anaknya bertindak benar. Akan dimarahi habis-habisan kalau berbuat kesalahan.

Padahal orang tuanya yang umurnya jauh lebih banyak, masih suka berbuat salah kan?
Lalu kenapa memasang standar kesempurnaan yang begitu tinggi bagi anak remajanya?

♧♧♧

Kedekatan emosi dan komunikasi yang terjalin baik adalah modal kita sebagai orangtua agar anak memiliki KETERBUKAAN.

Ajarkan konsep benar-salah sesuai nilai yang dianut dalam keluarga. Berikan pemahaman pada anak, mana yang boleh, mana yang tidak.

Biarkan anak merasa aman saat bercerita tentang apapun pada orang tuanya. Bukan malah merasa takut dan terintimidasi. Sehingga dia tak perlu berbohong. Kasian juga anaknya kalo terluka secara fisik tapi gak diobatin cuma gara-gara takut dimarahi.

Lebih gawat lagi kalo anak perempuan kita sedang terluka secara batin. Mungkin dia lagi patah hati karena cowok yang diam-diam dia taksir, jadian sama temennya sendiri.

Nah bila orangtua sendiri tidak dipercaya untuk menjadi tempat curhat anak, apa yang akan terjadi?

Anak akan sibuk mencari figur lain di luar sana. Yang mau mendengarkan perasaannya, memahami, menghibur dan membuatnya merasa senang lagi.

Ya gpp kalo ketemu temen curhat yang baik.

Kalo pas jatuh ke tangan pemuda playboy gimana?

Anak perempuan remaja yang sedang labil itu, akan mudah sekali termakan bujuk rayuan gombal teman lelakinya. Yang tentu saja hanya mau iseng senang-senang dengannya.

♧♧♧

Lalu gimana ketika anak melakukan kesalahan?

Bisa kita ajak bertukar pikiran supaya dia berpikir dimana letak kesalahannya dan mendiskusikan penyelesaiannya.

Mereka sudah bisa menerima konsekuensi sebagai hukuman atas kesalahannya. Tinggal caranya saja, tidak perlu hukuman fisik yang melukai, apalagi ditambah pandangan penuh kebencian.

Pastikan anak paham, yang kita tidak setujui hanyalah perilakunya. Namun dirinya tetap dicintai sebagai seorang anak.

♧♧♧

Dear parents,
Mulailah peduli pada perasaan anak remajamu
Jangan hanya bertanya tentang nilai pelajaran melulu
Jadilah tempatnya curhat, bertanya tentang segala rasa yang menggebu

Kurangi tuntutan yang terlalu tinggi
Beri masukan tanpa terkesan menasehati
Beri arahan tanpa terkesan menggurui
Biarkan rasa nyaman terhadapmu dia miliki

Peluklah erat anak remajamu, Ayah
Sebelum ada lelaki muda yang ingin memeluknya

Ciumlah pipi anak remajamu, Ibu
Sebelum ada lelaki muda yang mencoba menciumnya

Penuhi sepenuh-penuhnya hatinya dengan cinta dari kedua orangtua, sehingga dia tak butuh tambahan dari orang lain lagi.

Seorang anak remaja tidak pernah terlalu besar untuk menerima belaian di rambutnya.

Seorang anak remaja tetaplah anak. Yang selalu membutuhkan kasih sayang orangtuanya...

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments