SEBELUM SURAU INI BENAR-BENAR ROBOH (Dilema The New Age of Dakwah) (Bag. 2)

Oleh: Lalang Bakti

TAK kuduge surau tu nampak tue sangat, sise kayu ka dinding dan lantainye dah lapok. Genap sude sewindu kakek garin surau wafat, pergi ke pangkuan Sang Pemberi Rahmat.
.
Zaman telah berganti, tak terdengar suara adzan atau ajakan sholat berjama’ah lagi. Orang-orang dah sibuk dengan urusan dunie, lupe akheratnye.
.
Ajo Sidi, pembual kurang ajar tu, berjaye membuat orang-orang kampong membenci sareat Islam ngan bualannye. Padahal orang-orang kampong ni mengaku orang Islam, tapi tabitnye macam tabiat bukan orang Islam....
------ Sebelum Surau Ini Benar-Benar Roboh, Lalang
.

Demikianlah mungkin keadaan surau semenjak kakek wafat (baca cerpen Robohnya Surau Kami, biar dong!) .
.
Mirip-mirip lah kondisinya dengan zaman kita saat ini, saat agama telah jauh dari kehidupan individu dan masyarakat. Nah loh...
.
Pada nyadar nggak sih kalau kondisi “mengenaskan” semacam ini tengah terjadi di zaman kita? Ya, di zaman kita... zaman di mana smartphone telah menggantikan peran ibu, peran ayah, peran anak, peran saudara, bahkan peran Tuhan (red.  Allah SWT). Gimana nggak... sekarang dikit-dikit diupload di Instagram, Facebook, Twitter, Path, de el el
.
“Lagi lapar nich hiks...” kalian kira dengan update status kayak gitu perut kalian langsung kenyang? Atau tiba-tiba muncul makanan dari bongkahan es yang membeku selama ratusan tahun (plis jangan nyinggung soal Avatar lagi, kayak nggak ada cartoon yang lain aja... hehehe).
.
Namun demikian, inilah kondisi yang harus dihadapi dan disadari oleh semua pengemban dakwah, guru ngaji, dan pak ustadz... juga emak-emak dan bapak-bapak yang tengah membimbing buah hatinya menuju jalan yang benar.
.
Kondisi kita, di zaman ini sudah jauh berbeda dengan 5 atau 10 tahun yang lalu. Kita sedang menghadapi sebuah masa yang benar-benar berbeda. Masa di mana penghalang dakwah tak terbilang jumlahnya.
.
Tentang Sebuah Harapan
Laut tetaplah laut yang mampu menampung lelahnya rindu debur ombak pada sang pantai. Demikianlah Sang Pencipta telah menggariskan titah untuknya...
.
Semoga ada anak-anak yang masih ingat surau tempat ia dulu bermain, juga ibu-ibu yang telah meminjam bilah demi bilah papan yang menutup dinding serta lantainya...
.
Sebelum “Surau Ini Benar-Benar Roboh”.
Mari kuatkan hati...mantapkan langkah...luruskan niat...
Kita sambut “The New Age of Dakwah”!

-The end of introduction!-
Mohon doanya agar bisa menulis atrikel selanjutnya.

Sumber:

Fb: Lalang Bakti

Post a Comment

0 Comments