Rohis Diawasi, Setuju 100 Persen

RemajaIslamHebat.Com - Sebagai orang yang cukup sering berinteraksi dengan anak muda, saya pribadi sepakat jika Rohis mendapatkan pengawasan. Bahkan, saya usul agar bukan hanya Rohis yang diawasi, tapi ekstrakurikuler lainnya seperti pramuka, pecinta alam, bahkan termasuk karang taruna juga perlu mendapatkan pengawasan khusus. Kalau perlu, setiap sekolah di negeri ini dari Sabang sampai Merauke mendapat pengawasan.

Pengawasan khusus agar anak-anak muda-pelajar negeri ini mencapai tujuan pendidikan, yakni menjadi insan beriman dan bertaqwa. Mereka harus diawasi secara khusus agar senantiasa terikat dengan Syariah Islam, diawasi agar mereka menjaga shalat lima waktunya, puasa ramadhan, menutup aurat, menundukkan pandangan, dan senantiasa diawasi agar terjaga dari mengkonsumsi makanan-minuman yang haram.

Mereka harus senantiasa mendapatkan nasihat, taujih, motivasi, dan dimutaba'ah.
Mereka harus diawasi agar terjaga dari pergaulan bebas (zina), barkoba, geng motor, dan berbagai tindak-tanduk kriminalitas lainnya.
Mereka harus dijaga dan diawasi agar tidak teracuni dengan Akidah Sekularisme. Sebab, Sekularisme ini akan meracuni benak mereka dengan pemikiran "Lo-Loe, Gue-gue".

Akidah Sekularisme ini akan merusak pemikiran mereka dengan mengatakan bahwa "LGBT itu hak asasi, suka-suka dong ". Sekularisme akan menjadikan pemikiran mereka error dengan menyatakan gagasan semua agama itu sama saja, sama-sama menyembah Tuhan. Sekularisme akan mendidik mereka hanya meletakkan Islam sebagai soal ibadah ritual an sich, Islam sekedar seruan moral belaka, seraya menolak Islam sebagai sebuah pandangan hidup sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan.

Untuk meraih pengawasan yang komprehensif ini, tentu perlu sinergitas masyarakat dan sinergitas antar pergerakan Islam untuk mendidik anak-anak muda Islam. Perlu kerja sama-kerja bareng antar para kyai, ustad, guru, aktivis pergerakan Islam untuk merumuskan pola pengawasan yang komprehensif, agar tujuan pengawasan ini benar-benar tercapai, yakni dalam rangka mendidik menjadikan kaum muda berkepribadian Islam, membentuk pelajar muslim yang Dasyat (Cerdas-Taat Syariat ). Setuju ?

Barangkali sebagai bahan pemikiran kita bersama, berapa angka anak muda negeri ini yang terjerumus di pergaulan bebas?
Berapa jumlah pemudi negeri ini yang terperosok kasus hamil di luar nikah? Di antara itu siapa yang berani dengan biadabnya melakukan pembunuhan (aborsi)?
Berapa persentase yang masuk dunia hitam LGBT?
Berapa yang teler karena narkoba dan minuman keras?
Berapa yang berani sadis ikut geng motor pembegal jalanan?
Dan seabrek kriminalitas lainnya? Ah terlalu panjang daftarnya, dan membuat dada kami menjadi sesak, itulah etalase berjejer yang ada di Rumah Indonesia kita tercinta ini akibat penerapan Sekularisme.

Wahai Penguasa, Campakkan Sekularisme, Tumbangkan Kapitalisme.

Wahai Para Ulama Mukhlis Ulama Akhirat Warasatul Ambiya, Bimbinglah Umat Ini Untuk Menerapkan Sistem Islam Secara Kaafah, Sebuah Sistem Kehidupan Yang Akan Menjaga Anak-anak Muda Negeri Ini Dari Himpitan Kapitalisme Sekular.[]

Sumber:

Fb: Pristian Surono Putro

Tulisan lain di FB Pristian Surono Putro :

Kemerdekaan Dalam Perspektif
-
Ada Perbedaan cukup mendasar diantara para pejuang yang berusaha mengusir penjajah dari Nusantara. Indikasinya bisa kita lihat saat Negara baru Indonesia ini muncul. Umat Islam yang digawangi oleh para Ulama menginginkan Negeri ini berasaskan Akidah Islam. Sementara Kaum Sekuler yang dikomando oleh para intelektual sekular berusaha agar Indonesia menjadi Negara Sekular, yakni memisahkan Islam dari persoalan politik ketatanegaraan. Sementara diposisi yang lain Dedengkot Pemikir Sosialisme-Komunisme ingin membawa Negeri ini menjadi Negara Sosialis-Komunis.
-
Dalam kurun waktu Penjajahan masing-masing Ideologi ini seruan yang khas. Umat Islam dengan para Ulamanya dengan seruan khasnya Jihad Fisabilillah mengusir kaum kafir penjajah,  sementara Kaum Sekular dengan jargon-jargonnya menentukan nasib sendiri, dan Pemikir Sosialis dengan jargon melawan kaum borjuis. Saat penjajah secara fisik belum hengkang semuanya tampak tumpang tindih tak begitu jelas seolah semuanya larut dalam seruan bersama MERDEKA atau MATI !
-
Semuanya baru tampak setelah Penjajah Hengkang, muncul pertanyaan " Dengan apakah Negeri ini diatur setelah Penjajah ditendang ? " Diatur dengan Islam kah ? Dengan Sekular kah ? Atau dengan Sosialis-Komunis kah ? Faktanya Negeri ini sampai detik ini mengadopsi KUHP warisan Penjajah yang Sekular, serta memisahkan Agama dengan Politik Ketatanegaraan.
-

Ah jadi teringat Pidato Prof. Kasman "Lion On the table" Singodimedjo dihadapan mejelis Konstituante :

“…Saudara Ketua, kini juru bicara Islam Ki Bagus Hadikusumo itu telah meinggalkan kita untuk selama-lamanya, karena telah pulang ke Rakhmatullah. Beliau telah menanti dengan sabarnya, bukan menanti 6 bulan seperti yang telah dijanjikan kepadanya. Beliau menanti, ya menanti sampai wafatnya. Beliau kini tidak dapat lagi ikut serta dalam Dewan Konstituante ini untuk memasukkan materi Islam, ke dalam Undang-Undang Dasar yang kita hadapi sekarang ini.”

“…Saudara ketua, secara kategoris saya ingin tanya, saudara Ketua, dimana lagi jika tidak di Dewan Konstituante yang terhormat ini, Saudara Ketua, di manakah kami golongan Islam dapat menuntut penunaian ‘Janji’ tadi itu? Di mana lagi tempatnya?”

Sumber:

Fb: Pristian Surono Putro

Post a Comment

0 Comments