RINDU BERTETANGGA DI KOTA

RemajaIslamHebat.Com - Seperti biasa, agenda mudik selaluu saja menyisakan drama di hati saya dan suami, yang pada dasarnya manusia-manusia dusun ini.

Kami tak henti dibuat kagum dengan kehidupan kekeluargaan masyarakat desa. Saling melempar sapa di pagi hari. Bercanda lepas. Saling mengirimi makanan. Bisa ngobrol enak tanpa basa basi..

Hal yang biasa, mungkin. Begitu saja apa istimewanya?

Hehe... itu bukan hanya istimewa. Tapi karunia buat saya pribadi.

Belasan tahun kami hijrah ke ibukota, hingga kini mendiami pinggirannya. Pernah merasakan tinggal di perkampungan, hingga komplek perumahan. Dan kalau boleh jujur, romantisme desa tak lagi saya rasa.

Ya jelas engga to ya..

Desa sama kota kan jauh berbeda. Di desa, orang kerjanya ke sawah yang cuma di seberang kali. Di sini, orang kerja harus berangkat di pagi hari, pulang saat malam sudah gelap sekali. Waktu buat nenangga nyaris ga ada sama sekali...

Tapi bukan berarti waktu yang tidak ada ini membuat kita bersikap apatis terhadap tetangga juga..

Cuma faktanya, di kota lazim sekali lho bertetangga tapi tidak saling kenal. Dengan tetangga kanan kiri bertegur sapa ala kadarnya. Mau lempar senyum aja udah bagus banget. Kadang bikin males menyapa. Daripada sapaannya bertepuk sebelah tangan.

Rumah hadap hadapan, tapi kalau ketemu paling banter mengulum senyum doang

Tetangga bawa pacar sampe diinepin, ya sudahlah bukan urusan saya selama dia tidak mengganggu.

Tetangga sebelah rumah sakit, atau melahirkan, wajar sekali jika tidak tahu. Kalaupun tahu ya trus mau apa? Ya ga gimana-gimana

Ini biasa aja sih, barangkali.... sekali lagi yang membedakan adalah saya baru saja mudik dan disana saya disuguhi pemandangan mengesankan antar tetangga.

Tapi lama-lama.....

Kok berasa hidup di hutan ya...

Saya punya satu cerita yang unik, dan lumayan ngeres di hati. Tentang hidup bertetangga di kota. Tiap ingat kisah ini, duh rasanya ingin segera mewujudkan mimpi balik ndeso hidup di kampung

Suatu ketika, anak kami Titan (5,5 tahun) terjatuh dari sepeda dan tidak sengaja setangnya mengenai mobil tetangga kami yang memang setiap hari diparkir di jalan.

Tetangga ini dengan kasar mendorong titan sambil memarahinya. Titan tentu saja pucat pasi.

Untung suami melihat kejadian itu, lalu segera meminta maaf pada si tetangga. Rupanya ia tidak terima mobil avanza-nya kebaret (tergores di permukaan) sepanjang kurang lebih 4cm. Baret itu sebenarnya samar. Tidak terlihat jika tidak diamati dengan seksama.

Tetangga kami ini marah, dan minta ganti rugi uang Rp. 300.000.

Kami turuti permintaannya, dan pulang ke rumah dengan hati hampa.

Ya Allah... sebegini ganaskah hidup di kota? Dengan tetangga pun tega berhitung hanya karena ketidaksengajaan anak kecil, yang itu tidak seberapa kerugiannya. Dan toh si bapak punya andil kesalahan. Memarkir mobil di jalan, sedangkan garasi dia dipenuhi perkakas rumah.

Sebuah model bertetangga yang ajaib bukan?

Duh gusti...

Bukan soal uangnya. Tapi kemana hilangnya nurani orang-orang kota

Barangkali ini memang bukan urusan desa dan kota
Barangkali ini soal siapa personalnya. Siapa menghadapi siapa. Entahlah.

Tapi pengalaman singkat saya selama berada di ibukota, cukup menyentil hati saya, bahwa hidup di kota butuh mental yang kuat, sekaligus siap menjadi terasing.

Sebab di sinilah orang merasa tak penting lagi apa dan siapa, melainkan hanya saya..

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Post a Comment

0 Comments