RAKYAT BELUM MERDEKA

Oleh: Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Indonesia

ATAS berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Inilah salah satu penggalan kalimat yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang menandai secara de jure kemerdekaan negeri ini. Apakah secara de facto, negeri ini juga sudah merdeka, sehingga layak disyukuri dengan berbagai perayaan yang acap kali justru tidak mencerminkan bentuk kesyukuran ?.

Istilah  de jure   berasal dari bahasa latin: de iure yang artinya  describes practices that are legally recognized by official laws. Sementara istilah  de facto ("in fact" or "in practice") memiliki makna describes situations that are generally known to exist in reality, even if not legally authorized. Dengan demikian istilah pertama merujuk kepada legal formal dan istilah kedua merujuk kepada sebuah kondisi atau situasi. Karena itu kedua istilah ini memiliki perbedaan yang kontras.  Belum tentu keduanya berjalan seiring sejalan.

Deklarasi kemerdekaan pada hari Jumat tanggal 9 Ramadhan 1334 H bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 M adalah sejarah yang tidak mungkin terlupakan oleh bangsa ini. Terlepas dari berbagai interpretasi peristiwa sejarah yang melingkupi suasana saat itu dimana Jepang menyerah kepada sekutu dan pertemuan Soekarno, Hatta dan Radjiman dengan Marsekal Terauchi di Vietnam serta penculikan Soekarno dan Hatta oleh pada pemuda  pada dini hari 8 Ramadhan ke Rengasdengklok. 

Istilah kemerdekaan adalah antonim dari keterjajahan. Merdeka artinya terbebas dari penjajahan. Secara fisik, bangsa Indonesia pernah dijajah oleh Jepang, Belanda, dan Portugis. Penjajahan fisik ditandai dengan berbagai bentuk penindasan, pembunuhan, perbudakan dan perampokan berbagai kekayaan alam. Karena itu perlawanan dari para ulama dan santri pada saat merebut kemerdekaan saat itu juga menggunakan kekuatan fisik, berperang memanggul senjata melawan kolonial.

Namun demikian adalah masalah krusial yang melanda bangsa merdeka ini, yakni apa yang disebut dengan istilah euforia akut, yakni menganggap negeri ini telah merdeka sepenuhnya.  Pada saat para ulama dan santri pahlawan negeri ini berhasil mengusir kolonial seperti Jepang, Belanda dan Portugis dari bumi pertiwi.  Banyak ulama telah syahid sebagai pahlawan dalam perjuangan meraih kemerdekaan seperti  Jenderal Sudirman, Sultan Hasanuddin, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien. Padahal semua ini baru merdeka secara fisik.

Meski bangsa ini baru merdeka secara fisik, namun hal ini tidaklah mudah diraih. Karena itu bangsa ini harus tetap bersyukur atas rahmat dan berkah dari Allah karena telah menurunkan pertolonganNya kepada para pejuang negeri ini. Entah sudah berapa nyawa, harta dan tenaga telah dikorbankan demi meraih pertolongan Allah ini. Namun demikian meraih kemerdekaan hakiki adalah jauh lebih berat dibandingkan kemerdekaan fisik. Sebab pasca kemerdekaan fisik, bangsa ini dihadapkan kembali dengan penjajahan gaya baru atau neokolonialisme melalui konspirasi proxy war.

Jika diistilahkan, maka bangsa ini sesungguhnya baru merdeka pada level satu, yakni merdeka secara fisik. Namun secara pemerintahan, hukum, pendidikan, budaya, politik, iptek, ekonomi dan sistem ideologi bangsa ini sesungguhnya masih jauh dari kata merdeka. Pasca kemerdekaan fisik, bangsa ini kemudian dijajah secara non fisik. Sebab secara de fakto, bangsa ini belum bisa dikatakan berdaulat sepenuhnya di bidang ekonomi, politik, budaya, dan pendidikan. Faktanya hampir seluruh aspek kehidupan ini telah diintervensi dan dihegemoni oleh sistem ideologi asing. Ideologi kapitalisme sekuler terbukti telah menjadikan bangsa ini tersandera dan terjajah.

Akibat hegemoni neokolonialisme kapitalisme sekuler inilah, kini bangsa kaya raya akan sumber daya alam ini harus menanggung hutang luar negeri  hampir 4000 triliun yang mesti ditanggung oleh rakyat melalui berbagai kebijakan yang membebani rakyat seperti pajak, listrik dan biaya pendidikan. Padahal jika fluktuasi hutang luar negeri suatu negara sebesar 30 persen, maka masuk dalam level bahaya. Sementara hutang luar negeri Indonesia telah mencapai 34,08 persen.

Benarlah apa yang dikatakan oleh seorang sosiolog muslim Ibnu Khaldun yang menyatakan bahwa salah satu tanda kerapuhan sebuah negara adalah saat rakyat diminta pajak yang tinggi. Padahal pemerintah tugasnya adalah mensejahterakan rakyat melalui pengelolaan sumber daya alamnya, bukan justru menarik harta rakyat.

Di bidang budaya, bangsa ini tidak lagi memiliki jati diri sebagai bangsa Melayu yang didominasi nilai-nilai ajaran Islam. Penetrasi budaya liberal dan sekuler yang berwatak hedonistik dan permisifistik telah memporak-porandakan anak-anak bangsa ini. Jutaan anak bangsa telah terjerembab kepada jebakan maut narkoba, jebakan maut seks bebas, dan jebakan maut dekadensi moral. Generasi muda bangsa ini telah berada diambang kehancuran jati diri, padahal merekalah kelak yang akan menggantikan kepemimpinan negeri ini.

Sementara akibat penetrasi ideologi kapitalisme, hukum dan kebijakan bangsa ini terseret kepada watak liberal dan neoliberal. Hal ini mengakibatkan negara ini tak lagi memiliki kedaulatan sepenuhnya atas pengelolaan aset-aset negara. Melalui kebijakan privatisasi dan kontrak pengelolaan SDA, maka rakyat hampir tidak kebagian apa-apa atas kekayaan negerinya sendiri. Sebab kekayaan bangsa ini hanya dikuasai oleh segelintir manusia kapitalis yang ironisnya adalah orang-orang asing. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa negara ini sesungguhnya telah terjual.

Benar, secara de jure, negara ini telah merdeka, namun secara de facto, bangsa ini justru telah terperosok jauh ke jurang penjajahan gaya baru. Kata merdeka yang diteriakkan menandai peringatan hari kemerdekaan negeri tak ubahnya sebagai ilusi yang hampa akan makna dan fakta. Lebih baik diam dan merenung, memikirkan masa depan bangsa ini, dari pada sekedar teriak merdeka, tanpa fakta yang dirasa. Saatnya bangsa ini melakukan muhasabah kebangsaan di hari peringatan kemerdekaan, mengapa bangsa ini tak kunjung mampu berdaulat sepenuhnya dan tak mampu mensejahterakan rakyatnya sendiri. Bukan malah merayakannya dengan nuansa hura-hura, apa lagi berbau maksiat. Mestinya bangsa ini mensyukurinya dengan terus berusaha meraih merdeka yang sempurna, bukan justru mengkufurinya.

Mungkin saja para penguasa yang telah menikmati uang rakyat dengan berbagai jabatan yang disandangnya bisa teriak merdeka. Namun sungguh, rakyat sendiri belum merasakan kemerdekaan. Yang terjadi justru sebaliknya, mereka masih dalam kondisi menderita hidup di negeri yang katanya sudah merdeka ini. Jadi untuk para penguasa negeri ini yang telah hidup enak, jangan teriak merdeka, sebelum memerdekakan rakyat jelata. Jangan justru bikin kebijakan yang semakin menjerat rakyat dan memberatkan beban hidup rakyat yang sudah miskin.

Jangan teriak merdeka, malu kita.[]

Post a Comment

0 Comments