Perubahan itu, dari yang Ada

RemajaIslamHebat.Com - Saat menulis di jejaring sosial dengan tujuan pada kebaikan, maka tak ubahnya kita sedang berdakwah. Akan ada pujian dan kritikan. Akan ada sanjungan dan celaan.

Jika menerima pujian dan sanjungan maka bersikap biasalah, sebab itu bukan karena kepandaian. Namun, jika menerima kritikan dan celaan maka bersyukurlah, sebab ia adalah peringatan yang tentunya hanya untuk perbaikkan.

Ketahuilah, cinta dan kasih sayang itu bukan hanya pada sanjungan dan kebanggaan. Namun, cinta dan kasih sayang adalah ia yang bisa membawa pada perbaikan.

Maka, penghargaan dan penghormatan yang terbesar patut kita tujukan pada dia yang telah mengingatkan saat kita masih penuh salah dan dosa. Dia yang telah menunjukkan jalan saat kita masih dalam keangkuhan. Dia yang selalu mmperhatikan saat kita tidak pedulikan. Dia yang selalu tersenyum saat kita tetap acuhkan.

Dialah sebenarnya guru kita. Dia yang bukan hanya mentransfer pada ilmu dari gelar dan kedudukan, namun telah ikhlas mencurahkan pikiran, tenaga, dan waktunya untuk memberikan perbaikan. Sampai kebaikan itu nyata adanya, namun kita tak pernah sadar akan jasa-jasanya. Jarak jauh tidak menjadi penghalang. Kesibukan tidak menjadi penghadang. Penghargaan atau hanya sebatas ucapan trimakasih sekalipun tak pernah ia harapkan.

Dialah sebenarnya guru kita. Dia tidak sebanding dengan guru-guru di sekolah, yang mana dibalik ilmu yang diajarkan ada imbalan penghargaan dan uang.
Aku masih teringat begitu jelas di mana pengalaman saat-saat proses bimbingan skripsi. Dua pembimbing yang kadang harus kita ikuti semua kata-katanya tanpa melihat dulu akan keinginan kita. Terlebih lagi saat mereka berbeda latar belakang, kita sebagai mahasiswa semakin bingung harus ikuti yang mana. Sampai akhirnya ada salah satu teman yang tak sanggup selesaikan hingga harus menunggu tahun depan. Mereka hanyalah guru yang minta  diikuti bukan bagaimana  mengikuti. Mereka hanya guru yang minta  dibenarkan bukan bagaimana membenarkan.

Maka sungguh ! Penghargaan itu hanya pantas bagi dia yang telah mengulurkan tangannya saat kita masih biasa. Bukan dia yang menyabut kita dengan tepuk tangan dan senyuman saat kita telah peroleh nikmat dunia.

Maka dari itu, sudah selayaknya bagi kita menghargai dia yang telah merubah. Bukan pada dia yang lebih tua. Bukan pada dia yang lebih tinggi kedudukannya. Bukan pada dia yang lebih dewasa dari kita. Bukan pada dia yang lebih cerdas dari kita. Namun, hanya dia yang selalu ada untuk kita.[]

Sumber:

FB: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments