Pengulangan Proses Berpikir

RemajaIslamHebat.Com - Umumnya perbedaan anak-anak dengan orang dewasa dalam Proses Berpikir lebih kepada Quwwatu Robti, yakni kemampuan mengkaitkan fakta dengan informasi yang diterima. Sementara fakta yang dilihat dan informasi yang diterima, secara umum sama. Kalaupun ada perbedaan, hanya terletak pada kekuatan panca indera yang dikaruniakan Allah Ta’ala kepada masing-masing. Artinya ada anak-anak yang memiliki kemampuan panca indera kuat dan ada yang lemah.  Demikian pula orang dewasa, ada yang kemampuan panca inderanya masih kuat dan ada yang melemah. Oleh karena itu kita bisa mengatakan fakta dan informasi sebagai faktor kondisi yang beragam.

Hal yang perlu dipahami sama adalah pada pola berpikir anak-anak yang masih lemah kemampuan pengkaitannya (quwwatu robtinya). Itulah sebabnya  mereka belum terbebani taklif sebagaimana orang dewasa. Hal ini lebih karena akal belum terbentuk sempurna. Akal inilah yang saya maksud sebagai istilah lain dari proses berpikir atau kemampuan berpikir.

Proses pendidikan yang bersifat talqiyan fikriyan adalah mengulang-ulang proses berpikir dengan melatih secara berulang-ulang kemampuan mengkaitkan fakta dengan informasi. Di sinilah letak peran ibu yang memerlukan kesungguhan dan kesabaran.

Mengenai hal ini saya senang memperhatikan anak-anak yang baru belajar bicara. Kali ini saya contohkan Ulfah Mumtazah ( 2 thn), putri ke 5 dari Teh Nur Handayani dan Bapak Oleh Solihin. Kalau sedang bermain ke rumah, biasanya akan menuju loker yang ada gambar balon merah, lebah kecil terbang dan awan-awan yang tersenyum. Karena gambar pada loker pas sama tingginya,  maka ia akan berlama-lama memandangnya, menunjuk gambar dan menoleh ke arah saya.

“Balon”, kata saya. Ia mengangguk, lalu menunjuk yang lain.
“Lebah”, kata saya. Ia mengangguk lagi, lalu beralih ke yang lain.
“Awan”, kata saya. Demikian berulang-ulang sampai ia puas dan beranjak ke tempat yang lain.

Pengulangan tersebut bisa lebih dari 15 kali menunjuk. Wajahnya serius memperhatikan saya menyebut balon, lebah atau awan. Tentu saya menyikapinya dengan vokal yang jelas dan wajah  menghadap kepada Ulfah. Demikianlah proses mengkaitkan informasi dengan fakta.

Pada anak kecil, ini tidak bisa satu kali terjadi. Bisa berulang-ulang, bahkan mungkin anak tertentu memerlukan 60 kali pengulangan.

Subhanallah. Sebuah proses pengkaitan yang menakjubkan.  Ini sebuah pekerjaan besar bagi seorang ibu. Besar dan berat bagi kalangan tertentu, sehingga mereka tidak sanggup (atau tidak mau) melakukannya.  Kebanyakan ibu merasa bosan (mungkin karena tidak tahu targetnya), sehingga mencoba mengalihkan ke fakta yang lain.
“Udah main aja sanaa.”  Padahal anak sedang mengulang sebuah proses yang diminatinya.

Selanjutnya Ulfah Mumtazah memang tidak perlu menanyakan lagi, karena ketika masuk dan menunjuk gambar balon, dia sudah langsung menyebut balon. Tentu dengan lafazh sesuai usianya. Proses pengkaitan berarti sudah terjadi. Ini contoh paling sederhana.

Akhirnya seorang ibu yang pendiam (seperti saya dulu…hehe), seolah-olah jadi cerewet setelah punya anak kecil. Yah…, mau tidak mau. Bagian dari tugas besar seorang ibu.

Proses pengulangan pengkaitan, bisa dilihat pada anak yang lain.  Saya kembali memperhatikan Muhammad Mujahid Fisabilillah Leboe, yang pada usia 5 tahun selalu mengulang sebanyak tiga kali pada setiap ucapannya. Sebagai contoh:

“Koala makannya apa Mi?” ia bertanya sambil menunjuk gambar koala.
“Daun Eukaliptus.” Kata saya sambil menunjuk daun dalam gambar yang sedang dipegang oleh koala tadi.
“Oh daun Eukaliptus ya?” kata Muhammad sambil mengangguk angguk.
“Iya daun Eukaliptus,” kata saya lagi membenarkan. Dia masih memperhatikan koala tadi
“Daun Eukaliptus ya,” katanya.
“Iya Eukaliptus.” Kata saya.
“Eukaliptus,” kata Muhammad sambil mengangguk-angguk.

Mungkin ada yang tertawa atau tidak sabar dengan pengulangan tersebut. Tetapi demikianlah talqiyan fikriyan sedang terjadi.  Saya perhatikan selalu tiga kali ia mengulanginya. 

Bila kita tidak sabar dan mengatakan, “Iyaaaa”, atau “Tadi kan ummi udah bilang Eukaliptus, memangnya adek nggak dengar?”, maka saya percaya bahwa proses talqiyan fikrian tidak akan berjalan sempurna. Ada faktor ketidaknyamanan yang akan menghambat seorang anak mampu belajar berpikir dengan baik.

Demikianlah, akan selalu terjadi pengulangan pada talqiyan fikriyan. Jadi, kesabaran menjadi modal bagi kita untuk melakukan penanaman proses berpikir (talqiyan fikriyan) pada anak usia dini.
Wallaahu a’lamu bish showab.

Sumber:

Fb: Lathifah Musa

Post a Comment

0 Comments