Pembenaran VS Kebenaran

Oleh: Nafila Rahmawati

KETIKA masih usia sekolah, daya pikir kita sebagai manusia pra dewasa memang masih kurang distimulasi untuk membedakan "pembenaran" dan "kebenaran".
Kita terlatih untuk menjalani rentetan pelajaran dan ritual ujian tanpa dibiasakan berpikir esensi dari suatu hal.

Pembenaran adalah proses membenarkan alasan dan pilihan kita.
Sementara kebenaran adalah keadaan sesungguhnya yang ada.

Mari tengok kasus pelakor dan perselingkuhan yang dengan ringannya berdalih macam-macam agar mereka sah menggamit suami/istri orang lain atau agar sah melenggang dari pernikahan.

Kebenarannya bahwa, ada ruang hampa yang tidak terisi oleh pasutri inti.

Pembenarannya kemudian, para pelakor-lah yang merasa "berkewajiban" melengkapi kehampaan.
Pembenaran yang kedua, para penyelingkuh memanfaatkan latar belakang keadaan untuk mencari kenyamanan sepihak.

Pembenaran versus Kebenaran ini selayaknya menjadi tolak pikir setiap manusia ketika sedang diuji dengan permasalahan.

Demikian juga dalam rumah tangga yang varian permasalahannya terbentang dari Sabang hingga Merauke, Miangas hingga Rote.

Mulai dari pola parenting bawaan keluarga hingga penerapan intisari kebaikan pada anak, dari soal selera rasa makanan hingga selera menata perabot, dari intervensi mertua hingga komentar tetangga, dan lain sebagainya yang tidak sempat terdata.

Sebagai pasangan yang didoakan oleh ribuan tamu undangan untuk menjadi keluarga samawa, kitapun harus berusaha untuk men-samawakan ambient dalam rumah tangga.

Klausula suami yang menyatakan bahwa:
"Ah istri gue ngga secantik dulu"
"Ah istri gue ngga se-atraktif temen cewe di kantor"
"Ah istri gue udahlah banyak gelambirnya, banyak juga ngomelnya"

Coba telaah kembali, jangan-jangan hanya menjadi pembenaran dari kisutnya iman untuk menjaga samawanya rumah tangga.
Seorang suami yang sehat imannya, akan menelusuri kembali kebenaran. Mengulik penyebab keadaan menjadi demikian.

Di balik istri yang tidak secantik dulu, ada kebenaran bahwa ia mendahulukan meramut keluarganya ketimbang dirinya.
Di balik istri yang tidak seatraktif rekan kerja, ada kebenaran bahwa ia merampungkan tugas keistrian dan keibuan ketimbang mengurus binar pribadinya.
Di balik istri yang ngomel, ada kebenaran yang harus diterka tentang kepekaan suami membersamai kedamaian hati sang istri.

Lalu klausula istri yang menyatakan bahwa:
"Dih suami gue sama sekali ngga romantis"
"Dih suami gue bikin sakit hati, masa keluarga dia mulu yang dibiayain"

Coba telaah kembali, jangan-jangan hanya menjadi pembenaran yang mempersilakan Iblis meng-erosi keikhlasan.
Bahwa selalu ada kebenaran ketika kita bersedia menjernihkan pemikiran.

Di balik suami yang tidak romantis dengan buket bunga mahal atau tiket pelesir mewah, ada kebenaran bahwa ia adalah pria yang praktikal.
Lebih memilih membaktikan waktu dan tenaganya untuk kerja nyata memenuhi kebutuhan anak istrinya, ia simpan perhatian dan cintanya untuk momen penting yang jauh dari menye-menye. Ia tetap sigap membantu hal-hal sepele.

Di balik suami yang masih mendahulukan keluarga asalnya, ada kebenaran bahwa ia memang bertanggung jawab sebagai wakil kapten di keluarganya atau kebenaran kedua bahwa kitalah yang kurang mampu mengkomunikasikan dan mendiplomasikan kebutuhan bersama.

=====

Setiap masalah, akan mudah bagi kita mencari pembenaran untuk membuka pintu dan berlari demi kenyamanan sendiri.
Dan akan selalu ada banyak pihak, yang menerima pembenaran tersebut dengan tangan terbuka, menjadi bumerang yang melibas habis keluarga kita.

Memversuskan pembenaran dengan kebenaran, akan menjadi titik balik pemikiran kita. Meneropong ulang yang sudah di-ikhtiarkan pasangan sebagai kebenaran seringkali mampu melunturkan deru adrenalin kita yang sok-sok-an mencari pembenaran.

Jika tulisan ini sempat sampai pada para wanita yang pernah khilaf atau sedang menjalani takdir transisi sebagai penggamit suami orang lain, semoga Yang Maha Kuasa berkenan membuka pintu hatinya sebagai wanita untuk mengakhirkan pembenaran "melengkapi" ruang hampa yang dicari para suami.

Jika tulisan ini sempat sampai pada pelaku yang tengah selingkuh dari takdir baiknya, semoga sekian kekurangan dalam rumah tangga dapat dikunyah bersama untuk ditemukan kebenaran alih-alih kekurangan menjadi pembenaran terbukanya takdir yang lebih buruk dan dzalim.

Jika tulisan ini sempat sampai pada pengayom rumah tangga yang menjaga keluarga dalam melodi samawa, semoga Yang Maha Kuasa berkenan menjaga pola pikir pembenaran versus kebenaran dalam keluarga.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments