Pelajaran Berharga dari Aisyah

RemajaIslamHebat.Com - Aisyah adalah istri Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi. Sehingga banyak kisah kehidupan Rasulullah yang bisa kita ketahui dan teladani dari beliau.

Aisyah adalah manusia biasa, sama seperti kita. Tapi Aisyah punya banyak keistimewaan yang membuatnya pantas menjadi ummul mukminin, pendamping Rasulullah.

Berikut ini adalah kisah-kisah yang menggambarkan sisi-sisi manusiawi seorang Aisyah, disamping keistimewaan dan perjuangan beliau dalam meraih derajat wanita mulia.

###

*BIARKAN AKU IKUT PERDAMAIAN DI ANTARA KALIAN*

Rasulullah selalu berusaha menyenangkan dan membahagiakan istrinya.

Suatu ketika Abu Bakar, meminta izin untuk menemui Rasulullah. Tiba-tiba dia mendengar Aisyah berbicara kepada Nabi dengan nada yang cukup tinggi.

Segera Abu Bakar menegur,
"Wahai putriku! Mengapa engkau berani berbicara kepada Rasulullah dengan suara keras seperti itu?"
Dan Abu Bakar pun memarahi Aisyah. Terjadilah perdebatan kecil diantara mereka.

Melihat hal ini, Rasulullah segera melerainya. Kemudian Abu Bakar pulang. Sedangkan Rasulullah berusaha menghibur dan menenangkan Aisyah.

"Bukankah engkau melihat sendiri, aku telah melindungimu dari kemarahan ayahmu?"

Beberapa saat kemudian Abu Bakar datang menemui Rasulullah. Kali ini dia mendengar beliau sedang tertawa-tawa dengan Aisyah.

Maka Abu Bakar berkata,
"Biarkanlah aku ikut merasakan perdamaian di antara kalian, sebagaimana aku ikut dalam perselisihan kalian tadi." (HR Abu Dawud)

Demikianlah.. Rasulullah adalah seorang suami yang bijak dalam menghadapi kemarahan seorang istri. Ketika istri marah-marah, bukan dihadapi dengan emosi, melainkan dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketenangan. Beliau mampu mengubah perselisihan menjadi perdamaian yang penuh canda tawa.

###

*SESUNGGUHNYA ENGKAU BERAKHLAQ MULIA*

Aisyah menyaksikan sendiri kemuliaan akhlak Rasulullah salallahu alaihi wasallam. Sebagaimana disampaikan dalam Al Quran :
"Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al Qalam 4)

Aisyah berkat, "Rasulullah salallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul apapun dengan tangannya. Beliau tidak pernah memukul istri, atau pelayan, atau siapapun. Beliau hanya memukul ketika berjihad di medan perang.

Beliau juga tidak pernah membalas dendam terhadap orang yang menyakitinya, kecuali jika aturan Allah dilanggar. Saat itulah beliau membalasnya karena Allah azza wa jalla." (HR Muslim)

Meskipun Rasulullah salallahu alaihi wasallam sangat sibuk dengan ibadah dan mengurusi berbagai persoalan umat, namun beliau tetap tampil sebagai suami yang ideal.

Beliau masih sempat membantu istrinya menyelesaikan urusan rumah.

Aisyah pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Rasulullah jika di dalam rumah. Dia menjawab, "Beliau membantu pekerjaan istrinya, sampai terdengar azan, barulah beliau keluar rumah." (HR Bukhari).

Pernah Aisyah kesulitan menaiki unta, sehingga dia menarik-narik untanya. Melihat hal ini Rasulullah salallahu alaihi wasallam berkata,

"Hendaknya engkau bersikap lembut, karena kelembutan dalam segala sesuatu hanya akan menambahnya lebih indah. Dan jika kelembutan hilang dari sesuatu, maka akan membuatnya bertambah jelek."

Demikianlah Rasulullah menegur Aisyah dengan bijak, sekaligus mengajarkan untuk selalu bersikap lembut sekalipun itu terhadap hewan.

Urwah bin Zubair meriwayatkan bahwa Aisyah berkata: Suatu ketika beberapa orang Yahudi menemui Rasulullah salallahu alaihi wasallam.

Mereka, orang-orang Yahudi itu, berkata :
"As-saamu 'alaikum."
Kalau diterjemahkan artinya: Semoga kematian menghampirimu.

Aisyah menangkap maksud perkataan mereka ini. Maka dia langsung menjawab :
"Wa alaikumus salam wal la'nah."
(Begitu juga kalian, semoga kematian dan laknat menghampiri kalian).

Mendengar hal ini, Rasulullah berkata,
"Tenanglah, wahai Aisyah. Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam segala sesuatu."
"Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan tadi?"
Beliau menjawab,
"Ya, aku sendiri menjawabnya : Wa alaikum (Dan kalian juga)."

Rasulullah juga sangat tulus dan objektif. Meskipun beliau mencintai Aisyah, tetapi beliau tetap menegurnya jika salah.

Pernah suatu ketika Aisyah karena cemburu kepada Shafiyyah binti Huyay, maka dia menyindir kekurangannya di hadapan Rasulullah sebagai berikut:
"Cukuplah engkau mengetahui kekurangan Shafiyyah, bahwa dia itu pendek."

Maka Rasulullah pun menegur Aisyah,
"Sesungguhnya engkau telah mengatakan kata-kata yang apabila dicampur dengan air laut, maka air laut akan tercemar olehnya. "

###

*KECERDIKAN AISYAH*

Suatu malam, Rasulullah membuka baju luarnya dan melepas sandal dan meletakkan di dekat kakinya. Kemudian beliau berbaring di sebelahku pelan-pelan, karena mengira aku telah tidur pulas. Beliau tampaknya khawatir membangunkanku.

Tiba-tiba, beliau bangun dan memakai baju luarnya serta sandalnya dengan pelan-pelan, lalu keluar dan menutup pintu pelan-pelan.

Aku segera mengambil penutup kepala dan mengarungkan kain hitam pada bagian atas tubuhku (agar tersamar), lalu membuntuti beliau dari belakang.

Ternyata Rasulullah menuju kuburan Baqi'. Di sana beliau berdiri lama sekali, kemudian terlihat beliau mengangkat kedua tangannya tiga kali, lalu membalikkan tubuhnya.

Maka akupun segera membalikkan tubuhku. Ketika kulihat beliau mempercepat jalannya, maka akupun berjalan lebih cepat lagi.

Ketika beliau setengah berlari, maka aku pun melakukan hal yang sama. Ketika beliau berlari, maka aku pun berlari.

Akhirnya aku sampai di rumah lebih dulu daripada beliau dan langsung masuk rumah.

Aku baru saja membaringkan tubuh di atas tempat tidur, saat Rasulullah muncul.

"Ada apa denganmu Aisyah? Mengapa napasmu tersengal-sengal?"
"Tidak ada apa-apa."
"Engkau mau memberitahuku atau biar Allah saja yang memberitahuku?"
Maka akupun menceritakan apa yang baru saja kulakukan.

Mendengar hal itu, Rasulullah berkata,
"Berarti bayangan hitam yang ada di depanku tadi itu engkau?"
"Benar."

Rasulullah tampak amat sangat marah.
"Apakah engkau mengira Allah dan RasulNya akan mendzalimimu?"

Aku berkata dalam hati 'Sehebat apapun aku menyembunyikannya maka Allah pasti mengetahuinya,' maka saat itu juga aku menjawab,
"Benar."

Rasulullah menjelaskan, "Sesungguhnya tadi Jibril datang kepadaku. Ia memanggilku dengan suara yang tidak engkau dengar, lalu aku menjawabnya tanpa terdengar olehmu. Dia tidak mungkin masuk, karena engkau telah bersiap tidur.
Saat itu aku mengira engkau tertidur lelap. Aku khawatir mengganggu tidurmu dan mengagetkanmu.

Jibril berkata, 'Sesungguhnya Tuhanmu menyuruh agar engkau datang ke pekuburan Baqi' untuk memohonkan ampunan bagi orang-orang yang dimakamkan disana.'"

Mendengar penuturan itu aku lalu bertanya,
"Lantas apa yang harus kukatakan jika datang ke pekuburan?"

Beliau menjawab, "Kesejahteraan bagimu wahai para penghuni kubur, yang terdiri dari orang-orang mukmin dan muslim. Semoga Allah mengasihi semua yang telah mendahului dan yang akan menyusul di kemudian hari di antara kita. Dan sesungguhnya InsyaAllah kami akan menyusul kalian." (HR Muslim)

Di sini kita bisa melihat betapa cerdiknya Aisyah. Ketika dia tahu bahwa Rasulullah marah padanya, maka ia berusaha mengalihkan pembicaraan dari faktor yang memicu kemarahan beliau kepadanya ke perkara lain.

###

Bersambung dg kisah2 lainnya. Disadur/dicopas dari channel Kisah Teladan.

Sumber:

Fb: Sulastri

Post a Comment

0 Comments