NUTUP AURAT YES, BERJILAB KUDU!

Oleh: Wulan Citra Dewi

Pagi itu, embun masih menyelimuti semesta. Menghampar erat di dedaunan, juga pada bentangan rumput di sepanjang jalan. Langkahku tergesa, agaknya mengusik sang embun. Ia yang tengah bergelayut lembut terpaksa harus tumpah ke bumi,  tersapu oleh hempasan jilbabku yang melambai-lambai mengikuti hentakan kaki. Ku lirik ponsel berlayar hitam putih di tangan, jam menunjukkan pukul 06.15 wib.  Ayunan kaki segera ku pacu, laju.

”Assalamualikum.....” aku sudah berada di depan pintu kos sahabatku. Aini namanya.  Seketika ia menjawab salamku dan segera membukakan pintu. Senyum lembut khas miliknya langsung menyambutku.

”Aisyah, pagi banget sampai kos Aku? Yuk, masuk....”

Aku hanya nyengir kuda. Kemudian ngloyor masuk ke kosnya. Hampir saja tak ku jumpai tempat untuk duduk, karena kasur dan lantai kamarnya penuh dengan buku. Lagi buat makalah rupanya si kawan. Untung saja tuan rumahnya peka, jadi buru-buru beresin buku yang berserakan :D

”Ai, ini yang aku janjiin kemarin. Diterima ya!” ku sodorkan buntelan plastik hitam yang ku tenteng-tenteng sepanjang jalan.

”Emmmmm..... kok dibela-belain banget si Aisyah, kan aku jadi gak enak. Udah deh, mendingan kamu bawa aja lagi. Insyaallah, ntar aku bakalan beli sendiri aja. gak papa ya?” Aini mendorong buntelan plastikku.

”Ai, kan ini sudah kita bahas tuntas kemarin. Kamu masih yakin kan bahwa berjilbab bagi seorang muslimah itu adalah wajib? Nah, terkait jilbab yang aku bawa ini, Hadistnya juga jelas banget, bahwa Rasulullah Saw memerintahkan para sahabiyah untuk meminjamkan jilbabnya kepada saudari mereka yang tidak memiliki jilbab. Jadi, apa yang aku lakukan ini semata-mata karena hukum syara’ yang memerintahkannya Ai. Dan aku seneng banget bisa ngelakuin ini. jadi kamu gak perlu ngerasa ga enak, terima yah!”

”Aisyah, kamu benar bahwa kita sudah bahas masalah jilbab ini panjang lebar kemarin. Aku yakin dengan dalil-dalil yang kamu kemukakan. Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Karena itu pula aku jadi ragu, Aisyah....” Aini terlihat menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Deg! Hatiku pun jadi tak menentu dibuatnya. Tanpa jeda, ku minta ia untuk cerita apa yang membuatnya ragu. Jika memang sudah yakin bahwa jilbab adalah perintah Allah Swt, lantas kenapa mesti mengingkarinya? Enggan mengenakannya? Ah, ada sebersit kecewa yang terlintas seketika itu. Tapi berusaha ku tepis, mengedepankan berbaik sangka dan menunggu penjelasan darinya secara tuntas menurutku akan jauh lebih baik.

”Aisyah, kamu ingat kak fatimah? Kakak mentoring kita dulu, waktu kita masih semester satu.” Aini membuka cerita. Aku mengangguk. Ya, Aku masih ingat dengan kak Fatimah. Kakak mentor yang sangat santun dan lembut tutur katanya. Meski saat itu Aku dan beliau sempat bersitegang pasal sistem pemerintahan Islam VS demokrasi. Aku jadi senyum sendiri mengingat kejadian itu. Kembali teringat, teman-teman pada sikut-sikutan gara-gara perdebatan yang terjadi. Hehehe :D

”Aisyah, hust! Kok senyum-senyum sendiri sih!” Aini mengagetkanku.

”Afwan... afwan...., iya... iya... aku ingat banget dengan kak Fatimah. Ok, lanjut. Ada apa dengan beliau?”

”Nah, Beliau sudah menikah sekarang. Kemarin Aku ketemu beliau di taman kampus. Beberapa kali, Aku sering melihat kak fatimah juga sih pasca beliau menikah. Tapi, baru kali ini bisa bertegur sapa dan ngobrol-ngobrol dengan beliau. Emmmm......., sekarang beliau sudah rutin pakai gamis loh Aisyah....”

”Oh ya?!” aku terkejut campur bahagia.

”Iya Aisyah. Makanya, Aku memberanikan diri bertanya tentang jilbab lagi ke kak Fatimah. Dan, kak Fatimah mengakui bahwa yang dimaksud dengan jilbab itu adalah pakaian. Kak Fatimah bilang, ‘Seperti ini!’, sambil memegang gamis yang beliau pakai, Aisyah” Aini bercerita dengan mata yang berbinar-binar. Aku pun turut bahagia mendengar ceritanya. Angan-anganku sudah melambung entah ke mana-mana. Terlintas dalam khayalanku, mulai hari ini Aini akan ke kampus dengan mengenakan jilbab. Masyaallah, pasti dia akan tambah cantik, manis, dan soleha. Aku bahagia.

”Tapi.......” suara Aini tiba-tiba meredup. Seketika buyar lah angan-angan indahku. Ku tatap matanya yang tak berbinar lagi. Tanda tanya besar menggelayut di keningku.

”Tapi kenapa Ai?”

”Eh, sudah jam 07.15 Aisyah! Bukannya jam 07.30 kamu ujian TOEFL?”

Astagfirullah, hampir saja terlewat. Pagi ini Aku harus ujian TOEFL. Tadi rencananya kan hanya sebentar saja singgah di kos Aini, mengantar jilbab saja. Kok malah keasyikan ngobrol :D Aku langsung bergegas pamit dan berjanji untuk ketemuan lagi jam 10.00 di kampus. Aini mengangguk tanda setuju.***

Sudah tak sabar rasanya menanti lanjutan cerita dari Aini tentang obrolannya dengan kak Fatimah. Lebih gak sabar lagi, pengen lihat sahabat tercinta memakai balutan jilbab untuk pertama kali. Ahhhh.... bahagianya. Usai ujian TOEFL, segera ku kebut langkah menuju gedung prodi untuk berjumpa Aini.

”Ai, kok?! Kenapa gak kamu pakai jilbab yang ku bawakan tadi?! keningku mengrenyit. Tatapan bingung tertuju pada sosok muslimah berperawakan mungil yang berdiri persis di hadapanku.

”Aku belum siap, Aisyah. Tolong, jangan paksa Aku, ya...” seulas senyum tetap tersungging di bibir Aini. Aku semakin tidak mengerti. Tadi pagi dia bercerita bahwa ka Fatmah pun sudah mengakui bahwa yang dimaksud jilbab dalalm Quran surah Al Ahzab ayat 59 adalah pakaian atau gamis. Tapi kenapa kok tetep tidak berkenan memakainya. Pikiranku berkecamuk tak menentu.

”Aisyah, aku yakin kok dengan semua yang sudah kamu jelaskan. Aku percaya dengan perintah Allah Swt., bahwa seorang muslimah wajib menutup auratnya dan memakai jilbab ketika keluar rumah. Aku sudah baca juga hadist-hadist yang berkaitan tentang jilbab, dan aku tidak menolaknya. Hanya saja, Aku belum siap memakainya.....” Aini seolah membaca kebingunganku.

”Emmmmm......., itulah Aisyah. Sebenarnya Aku yakin, jilbab itu wajib. Tapi....., kak Fatimah bilang sama Aku, gak harus pakai gamis juga sih. Kakak itu terkadang juga masih gak pakai gamis. Menurut kak Fatimah, yang penting pakaian kita longgar dan tidak transparan. Nah, itulah yang membuat aku jadi ragu Aisyah. Kenapa kak Fatimah ngomong gitu. Aku kan jadinya bingung........” Aini melanjutkan penjelasannya. Aku speechless!

Berulang kali aku coba jelaskan, bahwa segala aktifitas yang dilakukan harus berdasarkan pada hukum syara’. Bersumber dari Alquran dan As sunnah. Jika sudah jelas hukumnya wajib, landasannya sangat jelas dari Alquran dan As Sunnah, maka tidak layak seorang hamba meragukannya. Selayaknya, manusia harus sami’na wa atho’na, kami mendengar dan kami taat. Namun, jawaban yang kuterima tetap sama dan berulang.

”Itulah Aisyah, kenapa kak Fatimah mesti ngomong gitu. Padahal aku udah yakin banget dengan penjelasan kamu. Tapi itulah, kata-kata kak Fatimah jadi buat aku ragu. Kenapalah kak Fatimah mesti ngomong gitu kemarin......”

ZONK!

Nyerah dah gue! ***

Dear sahabat, cerita di atas adalah nyata loh ya. Asli pengalamanku saat kuliah dulu. Begitu aku memahami bahwa menutup aurat dan berjilbab  itu wajib, maka petualangan segera aku mulai. Setiap temen yang deket denganku, tak kan kubiarkan auratnya bertebaran. Selalu aku ajak untuk berhijab syar’i dengan berjilbab dan berkhimar. Meski hasilnya memang tidak sesuai dengan harapan. Banyak yang menolak daripada yang menerima ( . Eh tapi untungnya, Allah Swt hanya menuntut usaha kita tanpa mematok hasilnya, yah. Alhamdulillah pakai banget. Lega!

Yapz, pembahasan tentang menutup aurat dan memakai jilbab ini emang selalu menarik untuk dibicarakan. Kebiasaan masyarakat yang memaknai jilbab sama dengan kerudung sudah membudaya. Karenanya, suliiitttt banget membuat paham seseorang bahwa jilbab itu bukan kerudung. *Lah, kok ngomongin orang, aku juga dulu gitu kelessss. Susah banget untuk meyakini bahwa jilbab itu adalah gamis alias bukan kerudung

Wajar sih gitu, karena mayoritas kita hanya mewarisi agama orang tua. Jarang alias sedikit banget yang memeluk Islam karena proses pencarian, pembandingan, pemikiran dan pemutusan, mau beragama apa. Jarang, kan?! Begitupun dengan ajaran dalam agama yang dianut. Yah, ala kadarnya dari apa yang diajarkan orang tua, guru ngaji, atau guru agama di sekolah. Ajaran yang diajarkan pun tidak menyeluruh, alias sekedarnya saja. Dari masa ke masa sama, perkaranya itu-itu saja. Rukun islam, rukun iman, akhlak tercela, akhlak terpuji, pernikahan, perceraian, dan waris. Itupun hanya bersifat kognitif yang dinilai berdasarkan hasil ujian setiap semesternya. Aplikasinya seperti apa, hampir luput dari pandangan mata. Betul apa betul?

Nah, ngaji Islam secara kaffah itu berbeda. Anti setengah-setengah, dan dipastikan berguna dalam menjalani kehidupan. Satu hal yang khas banget, yakni kesadaran bahwa ilmu lil amal alias ilmu untuk diamalkan. Jadi bukan sekedar hafalan yang kemudian hilang pasca ujian kayak di sekolah-sekolah gitu. Kekhasan ngaji Islam kaffah ini Gak bakal ditemukan di sekolah-sekolah, bahkan di bangku kuliah saat ini.

“Lah, kalau begitu kenapa mesti kaffah, bertentangan dong dengan yang kekinian?”

Aku demen nih sama yang kritis begini. Yuk, sini kita diskusi

Ngaji islam secara kaffah itu bukan masalah trand ya, sis and bro. Allah Swt langsung yang menyeru orang beriman untuk berislam kaffah. Gak percaya? Coba buka Alquraannya, cek di surat Al Baqarah ayat 208. Ketemu?  Gimana, Kamu merasa terpanggil dengan seruan Allah Swt? Kamu, merasa menjadi bagian dari orang yang beriman? Nah, wajib tuh berislam kaffah

Kalau ogah, atau malah elergi dengan islam kaffah? Itu artinya, ya...... eng.... ing.... eng...... (jawab sendiri aja ya Bray   )

Ok, balik ke titik awal lagi yuk. Jadi, dalam Islam seorang muslimah itu diistimewakan. Islam memandang seorang wanita sebagai KEHORMATAN YANG WAJIB DIJAGA. Waw! Adakah penghargaan tertinggi bagi wanita selain ini? wanita mana sih yang enggan menjadi terhormat, dijaga lagi ;) dijamin semua wanita pasti mau. Bener apa bener, sist?

Islam mempunyai cara istimewa pula untuk menjaga yang istimewa. Bagaimana bentuk penjagaan Islam terhadap wanita? Yapz, syariat Islam memuliakan wanita muslimah dengan mewajibkan mereka untuk menutup aurat dan mengenakan jilbab ketika berada di kehidupan umum. Sudah tuntas di tulisan sebelumnya tentang kewajiban menutup aurat. Di kesempatan ini, kita tuntaskan pula tentang pakaian yang disyariatkan untuk menutup aurat tersebut. Apakah itu? ya tadi, yang udah disinggung-singgung dari awal. Jreng... jreng... jreng.... yakni khimar dan jilbab!

Apa sih khimar? Apa pula tuh jilbab?

Pembahasan tentang khimar telah Allah Swt jelaskan di QS. An Nur ayat 31. Yakni, penutup kepala yang menghampar sampai ke dada. Adapun jilbab, telah Allah Swt terangkan seterang-terangnya di QS. Al Ahzab ayat 59. ”Hulurkanlah jilbabnya ke seluruh tubuh.....”. tafsir dan penjelasan dua surah tersebut telah banyak dibukukan. Jumhur ulama menyepakati, bahwa khimar dan jilbab adalah dua hal yang berbeda. Tidak sama maknanya. Bahwa khimar atau kerudung wajib hingga menutupi dada. Sedangkan jilbab harus menutupi seluruh tubuh.

Salah satunya, pendapat dari Ibn Rajab. Dalam Fathul Bari beliau menjelaskan:
”Jilbab adalah mula’ah (baju kurung yang memiliki lengan) yang menutupi seluruh badan, dirangkap di atas al-tsaub (baju rumah). Biasa dikenal dengan sebutan izar.

Adapun secara bahasa, di dalam kamus Al-Muhith, jilbab diartikan sebagai gamis (Qamish) pakaian yang luas, tapi selain selubung/selimut (milhafah), atau sesuatu yang dipakai olehnya untuk menyelimuti pakaiannya mulai dari atas seperti selebung/ selimut.

Adapula hadist-hadist yang menunjukkan bahwa jilbab itu adalah gamis yang wajib dikenakan muslimah dalam kehidupan umum. Sebagaimana hadist yang telah disepakati oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ummu Athiyah berikut ini:

”Rasulallah Saw. memerintahkan kami untuk keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik gadis-gadis, wanita yang sedang haid, maupun wanita yang sudah menikah. Mereka yang sedang haid tidak mengikuti shalat, dan hanya mendengarkan kebaikan serta nasihat-nasihat kepada kaum muslimin.” Maka aku (Ummu Athiyah) berkata, ”Ya Rasulullah, ada seseorang dari kami yang tidak memiliki jilbab. Maka Rasulullah Saw. bersabda, ”Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya,” (HR. Al-Bukhari Muslim)

So, berkhimar dan berjilbab merupakan kewajiban dari sisi Allah Swt untuk para muslimah. Jadi, tidak boleh ya meninggalkan salah satu antara ke duanya. Kecuali kamu sudah tua, tidak haid lagi, tidak bisa mengandung lagi, dan tidak punya hasrat terhadap laki-laki. Nah, kalau sudah begitu, ada kok keringanan dari Allah Swt. Boleh tak memakai jilbab

”Dan para perempuan tua yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin menikah (lagi), maka tidak ada dosa menanggalkan pakaian (luar) mereka dengan tidak bermaksud menampakkan perhiasan (aurat); tetapi memelihara kehormatan lebih baik bagi mereka. Allah maha mendengar, maha mengetahui.” (QS. An Nur:60)

Ayo muslimah, sempurnakan hijabmu sesuai perintah Rabbmu. Menutup aurat yes, berjilbab kudu! Cimiwwiiiwwww

Aku selalu berdoa, semoga sahabat-sahabatku Allah mudahkan untuk berhijab syar’i. Termasuk Aini, juga tak luput dari doaku. Semoga Allah Swt. mengabulkan. Aminn....

Post a Comment

0 Comments