Negeri Diskonan

Oleh : Hilmi Firdausi

SATU kata saja untuk menggambarkan kejadian di Mall Premium Grand Indonesia beberapa hari yang lalu..."MIRIS". Ya.. miris melihat masa begitu beringas demi mendapatkan sepatu dan apparel asal Amrik Nike tanpa Ardila yang katanya didiskon sampe 90%. Kenapa miris ? Yaeyalah...orang bejibun gitu, desak-desakan, bukan buat ngantri sembako yang lebih realistis, tapi ngentri demi bisa pake sepatu keren dengan hari belasan tahun kemaren alias diskonan . Bahkan katanya ada yang rela ngantri berjam-jam loh. Ngebayangin klo antusiasme kayak gini terjadi di setiap kajian keislaman atau pas mau sholat berjamaah di Masjid, keren beudh !

Sebenarnya fenomena kek gini sudah sering terjadi di Negeri tercinta Indonesia Raya. Dulu pas Sandal karet berlogo buaya (tanpa darat) sale gede-gedean pun sama ngantrinya. Pas kmrin ada promo Kue cincin bule alias donat  Jekoh juga ngantrinya ampun-ampunan.

Kembali ke kejadian di GI kemarin...anda tau ga siapa yang ngantri itu ? Setau saya sih yang ke GI biasanya orang "mampu". Parkir Mobilnya perjam aja udh seharga segelas cendol, apalagi Valletnya. Lalu isi di dalamnya...ya tau sendiri deh. Ane pernah masuk butik tas, megang-megang terus nanya harga...lalu berteriak dalam hati WOW lalu mundur dengan teratur sambil bilang "nanti ya mas, belum sreg...hehe", padahal mah belum sreg harganya . Jadi...yang ke GI biasanya ya...minimal orang bermobil, kelas menengah lah...Apakah ini salah ? Ga ada yang salah, biasa aja, namanya juga pingin cari barang bagus harga kurus alias diskon, yang saya mau bahas adalah...kenapa sih orang bangga pakai barang branded walau kadang belinya ngutang, atau rela berlelah-lelah memburu diskonan ? Nah loh...Ini maaf ya, sekali lagi maaf...benerin klo saya salah, anda punya barang branded, terutama asesoris, itu buat diri sendiri apa buat dilihat orang ? Pasti ada yg jawab, barang branded biasanya enak dipakai, tahan lama, bahkan ada yang bisa buat investasi seperti tas dan jam tangan mewah, semua ga salah...yang akan menjadi salah bahkan bisa berdosa jika gegara pemakaian asesoris mahal itu membuat kita jadi sombong, atau terbersit sedikit rasa sombong, bangga, ujub. Ini yang harus kita buang jauh-jauh, pakai barang branded karena memang nyaman dipakai dan tahan lama, bukan karena ingin diwah dan diwow orang.

Memanage hati memang sulit, karena bermula dari hati ini, perbuatan manusia bisa jadi baik atau sebaliknya. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari Muslim, Rasul mulia pernah bersabda
" Alaa inna fil jasadi mudghah,idzaa sholuhat sholuha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qolbu".( Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah ia adalah hati ).

Hati adalah sumber kebaikan, hati juga bisa menjadi sumber keburukan. Ikhlas itu dari hati, riya juga demikian. Tawadhu juga ada di hati, sombongpun demikian.

Kalau ada yang nanya apakah saya beli barang branded, sebagian iya, tapi lebih kearah fungsional. Kalo asesoris dsb saya malah ga suka pakai yang terlalu mahal, ga tega aja pakai sepatu jutaan tapi  "pulang-pulang nginjek gituan" . Prinsip saya, asal nyaman, pas di badan, dan tidak berlebihan apalagi kalo endorsan .

Yuuk jaga hati, berdoa terus agar hati ini tidak tergelincir, kapeleset, tisoledat lamun ceuk urang sunda mah. "Allahumma ya muqollibal quluub, tsabbit qolbi 'ala diiniKa wa'ala tho'atiKa."

Sumber:

FB : Hilmi Firdausi

Editor kata: Hardi Jofandu

Post a Comment

0 Comments