MIMPI SANG PUTRI

Oleh : Muhammad Akbar Ali

TEPAT pada pukul 21:32 aku berkemas, mempersiapkan peralatan kuliah hari esok.  Ini telah menjadi kebiasaan berkala menjelang istrahat malam. Aku mengambil mushaf yang tersimpan tenang diatas meja belajar.

Jika Tuhan memberi keistimewaan padanya boleh berbicara,  maka akan aku sogok agar selalu menegur saat lalai membacanya.  Haha.  Aku tertawa pelan. 

Membacanya dengan penuh ceria,  pikiran fokus menerawang bait demi bait Al-Qur'an. Beriringan setelah membaca arabnya, disusul mencermati arti darinya berbahasa Indonesia. Ini kelemahan aku. 

Sebab sama sekali tidak memiliki kecapakan berbahasa arab.  Namun aku telah berjanji pada roh dan jiwaku, untuk menyebrang ke tanah jawa, berguru pada Kiay untuk mempelajari bahasa Al-Qur'an dan Ilmu Islam lainya.

Ini rencana selepas Studi Strata satu telah aku tunaikan. Kusadari ini tugas utama dihadirkan dimuka bumi. Mempelajari Al-Qur'an dengan seluruhnya.  Sebab hanya lewat pintu itu,  surga akan merindukanku.  Sahutnya dalam hati. .

Aku kembali meletakan mushaf itu.  Memasukanya ke dalam tas mungil bergambar doraemon. Biasanya aku lupa, saat menaruhnya diatas meja dan tidak ikut dalam perjalanan ke kampus. Aku belajar dari pepatah,  'Experience teacher is the best'. 

Pukul 03:15 dini hari aku kembali terbangun. Suara nyanyian alarm mengehentikan petualanganku dalam mimpi. Segera mengarah ke kamar mandi, mengambil air untuk berwudhu. 

Semenjak menemukan Islam,  berhijrah dari pergaulan kelam,  aku selalu menunaikan sholat disepertiga malam. Niatku semata-mata membersihkan diri dari dosa, Ridho Allah SWT dan doa masa depan yang aku panjatkan tanpa henti.

KULIAH

Dengan penuh serius aku mengamati materi kuliah. Hari ini kami Kewirausahaan. Tiba-tiba aku teringat, hari ini ada jadwal pengajian yang harus aku isi. Mungkin mereka telah menunggu di mushola.

Sedikit lagi akan keluar. Kuliah ditutup dengan pemberian tugas. Mencari pengusaha sukses yang mendunia.  Otomatis langsung muncul tokoh fenomenal Islam dalam benak.  Abdurahman Bin Auf.  Niatku,  itu salah satu yang akan aku masukan dalam makalah.

Sesaat berjalan keluar, terdengar panggilan.  Putri. Iya,  ada apa de?  Di mushola kelompok kajian kaka telah menunggu 10 menit berlalu, ucapnya dengan nada cepat.  Dia adalah mariam.  Adik kelas di jurusanku,  sekaligus aktivis kajian bersama harakah yang aku ikuti.

Sesegera aku berjalan mengarah ke mushola.  Aku merasa kekuatan lain biasanya menerpa, sesaat akan mengisi kajian.  Rasa senang dan semangat tinggi menghampiri kalbuku.  Karunia terindah dari-Nya. 

To be Continued

*Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis Halu Oleo University.

Sumber:

Fb: Muhammad Akbar Ali

Post a Comment

0 Comments