MIMPI SANG PUTRI (VI)

Oleh : Muhammad Akbar Ali

KU bentangkan sajada pada arah kiblat.  Warnanya putih di selimuti bulu-bulu berbentuk besaran jarum jahit. Sedang gambar mekkah terpampang pada tengah sajadah.

Sepertinya produsen kain ini memberikan isyarat agar berusaha sekuat mungkin berkunjung ke mekkah menunaikan ibadah haji.

Aku memulai. Kumandang takbir dengan pelan, sirr. Kepalaku merintih. Terasa sakit nan perih yang menusuk. Pandanganku mulai beralih.  Terlihat samar.

Kegelapan menerpa pelan-pelan menghampiri. Seakan melambaikan tangan menyapu bagian kedua mataku.

Dalam keremangan aku melihat butiran-butiran cahaya. Langit-langit berwarna putih polos.  Ahamdulillah, kau telah siuman. Suara Ibu sedikit serak. 

Sudah tiga hari putri berada di Rumah Sakit.  Aku menemukan saat tergeletak di atas sajadah. Aisyah masuk, membuka pintu lalu datang dengan menitikan air mata. Ia memberitahu ibu.

Aisyah sangat merasa sedih saat menemui putri terbaring tak sadarkan diri. Kata dokter, putri harus lebih banyak istrahat dan minum air putih. 

Dari kejauhan aku melihat seorang laki-laki berjalan tegak bak seorang model yang sangat memperhatikan benar setiap ayunan langkah.

Setelah menutup pintu kamar,  dia berjalan mengarah ke tempat aku dan ibu. Mataku sedikit kabur.  Aku mencoba mengangkat tangan kiri menyapu bagian mata dengan pelan.

Kembali kuarahkan pandanganku padanya, sembari mengingat dalam memori, siapa gerangan ?

Usahaku tidak ditemuinya. Aku tak pernah melihat dan tidak pernah mengenalnya. Mungkin dia adalah bagian dari keluarga kami yang baru datang dari luar kota.  Pikirku. 

Ibu pernah berkisah bahwa sanak saudaranya pergi menyebrang diberbagai kota. Kebanyakan di tanah batavia. Mereka merantau untuk menyambung hidup.

Ada pula niatnya menimba ilmu hingga menikah, berkeluarga disana.  Aku melihat ibu memecahkan senyumnya pada orang itu.

Di balasnya laki-laki itu dengan senyum lebar, yang sedikit lagi matanya tertutup akibat pipi yang merekah. Yang bagiku orang asing bak mahasiswa baru yang baru saja lulus.

Ibu sedikit membungkuk ke arahku.  Membisikan suara dengan pelan. Ibu hendak membisikan sesuatu.

Aku ingin bangkit, lalu duduk. Kepalaku masih menjerit. Sangat sakit.  Bak sengatan lebah yang baru saja terjadi. 

To Be Continued...

*Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis, Halu Oleo University.

Sumber:

Fb: Muhammad Akbar Ali

Post a Comment

0 Comments