MIMPI SANG PUTRI (IV)

Oleh : Muhammad Akbar Ali

PESAN itu melekat kuat dalam ingatanku. Sesekali aku mengadopsinya,  bahkan pada saat teman,  sahabat,  diterpa kesedihan yang panjang kupakai jurus yang sama.

Mengalirkan nasehat itu melalui suara vokalku dengan penuh ekspresi bak seorang motivator. 

Motivator yang sedang membangunkan para peserta agar bangkit dari keadaanya, bergerak lurus, kuat, menuju harapan,  impian besar yang di cita-citakan. 

                                   * * *
Jarum jam tepat berada pada angka 13 lewat 15 menit.  Aku meraih tas yang tergeletak di lantai, lalu kuletakan talinya diatas bahu bagian kanan.   

Aku melangkah pelan menuju depan mushola tempat motor terpakir. Kuraih kunci motorku dari saku tas. Mengendarai motor sendiri adalah kebiasaanku.  Aku berani mengambil resiko, kendati pernah terjatuh beberapa kali.

Masih terlihat jelas luka saat terjatuh mengemudi motor. Sejak awal mengendarainya, saya menolak permintaan kursus belajar oleh orang lain.  Siapapun itu. 

Keputusanku merubah segalanya. Dari tidak bisa menjadi bisa. Hikmah yang aku petik,  dibalik keberanian terdapat keberhasilan. Buktinya tanpa seorang guru, aku bisa belajar hingga mahir mengendarai motor.  Sukses. 

Saat mengendarai motor, pikiran melamun tertuju pada tulisan yang terpampang rapi pada mading kamar. 

Tulisan alur langkah masa depan yang aku rangkai berkali-kali. Mimpi dihari yang jauh nun panjang. Sebab terkadang berubah ketika ada hal yang lebih prioritas untuk ditulis. Aku berniat Kembali merenungkanya.

Aku mengendarai motor dengan kecepatan 50 km per jam. Hari yang panas menyengat.  Matahari  memancarkan sinarnya dengan tajam.  Menyentuh kulit, menusuk hingga sampai mengeringkan tenggorokanku. 

Di rumah sedang menunggu adik kecilku.  Aisyah. Dia selalu berharap aku pulang cepat. Semakin cepat aku pulang,  bertambah pula kesenanganya.

Bermain denganku niat penantianya.  Walau dalam keadaan lelah ia selalu mengajak untuk bermain. Aku sampai di rumah tepat pada pukul 14 lebih 10 menit. 

Kuarahkan pandangan pada teras rumah, melangkah ke kamar tengah. Aku tak menemukan anak kecil itu.  Nampaknya aisyah sedang tidak dirumah.  Sebab biasanya waktu siang begini sedang asyik bermain.

Area dalam rumah ia kuasainya.  Pokoknya tidak ada yang bisa menahanya.  Anak kecil kebanyakan tidak mau mengalah, sahutku dalam hati.

Aku membuka pintu kamar,  lalu kurebahkan tubuhku diatas ranjang. Aku sedikit lelah. Arah mata saya persis melihat tulisan itu.  Tulisan cita-cita masa depan.

Arah hidupku yang akan pasti kelak menemui akhir.  Batas jatah waktu yang diberikan oleh Allah Swt.  Tulisan itu lahir dari keringat dan pikiran keras. Sebab tidak mudah merencanakan mimpi.

Mimpi yang berujung pada prestasi iman, kecukupan bekal berpulang ke Rahmatullah. Aku malu jika jiwa ini saat menghadapnya penuh butiran-butiran debu. Debu dosa.

Aku berharap Dunia melekat pada tanganku, sedang akhirat berada pada jiwaku.

To be Continued...

Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis, Halu Oleo University.

Sumber:

Fb: Muhammad Akbar Ali

Post a Comment

0 Comments